Tuesday, January 19, 2016

My Styles

Alhamdulillah, setelah menyempatkan waktu untuk menulis akhirnya judul ini jadi juga, hehe. Disini, gue ingin membahas tentang pola dan gaya hidup gue semasa SMP dan SMA. Mulai dari aib, tingkah laku, dan kebiasaan masa lalu gue udah terangkum rapi dalam cerita di bawah ini.

SMP
Image Source: www.google.com

SMP? Sekolah Menengah Pertama? gue nggak setuju sama singkatan itu. Menurut gue, singkatan yang tepat untuk SMP adalah Sekolah Minim Pergaulan. Ya. Karna saat SMP gue masih polos-polosnya dan gaptek juga. Kalau ngebahas tentang pola dan gaya hidup semasa SMP, gue suka geli-geli sendiri lihat diri gue saat itu, merasa sedikit kotor juga. Karena kenapa? pada saat masa SMP, pribadi gue yang bisa dibilang nggak jelas dan memalukan mulai muncul dan terekspose begitu aja.

1. Berpakaian

Gue termasuk tipe orang yang rapi dalam berpakaian, khususnya pas hari sekolah. Pas SMP gue sering banget sisir rambut dan merhatiin aksesoris sekolah mulai dari gesper, dasi, dan lain-lain. Kenapa sepenting itu? Karena menurut gue, kalau cowok nggak rapih itu bawaannya pengen ditimpuk aja pakai bata. Kalau dibilang-bilang sih, tampilan gue dulu udah kaya karyawan panti pijet, rapi bener.

Selanjutnya adalah topi. Topi adalah aksesoris wajib yang harus gue pakai pas SMP. Karna menurut gue, topi itu merupakan salah satu aksesoris sekolah yang menaikan tingkat kepedean gue saat lagi ketemu orang banyak. Asal jam istirahat pasti gue pakai topi, asal gue main bola pasti pakai topi, asal gue upacara pasti pakai topi (jangan ditanya kamprettt). Intinya, topi itu segalanya buat gue.

Mungkin karna saking santainya gue sama gaya berpakaian gue selama SMP, gue saat itu merasa nyaman aja dengan apa yang gue pakai, padahal kalau diinget-inget lagi untuk sekarang ini, penampilan gue dulu udah kaya orang yang tinggal di goa. Berikut ini beberapa contohnya, pertama, tentang memasukkan baju ke celana panjang saat sekolah. Mungkin rata-rata orang yang memasukan bajunya ke celana panjang normalnya hanya sebatas daerah pinggul dan sekitarnya, tapi kalau gue? Di atas puser pas.

Contoh kedua adalah tali tas, tali tas yang biasanya dipakai teman-teman gue saat itu agak kebawahan punggung dan terlihat cocok dengan postur tubuh masing-masing, tapi kalau gue? Sejajar dengan punggung, dan pegangan tas yang berada di atas kadang nyetuh bagian leher belakang gue.

Tolong jangan dibayangin, cukup sudah masa kelam gue waktu SMP.

2. Asmara

Kalo ngomongin soal asmara pas SMP, malu-malu kucing masih ngetrend pada zaman itu. Hmm, pas kelas 7-8 SMP kisah asmara gue nggak begitu menonjol. Mungkin karena gue masih polos-polosnya pada saat itu (baca: ternodai). Gue juga orangnya agak cuek kalau lagi ditempat umum. Nggak tau kenapa bisa begitu.

Tapi pas udah kelas 9, gue udah mulai merasakan yang namanya jatuh cinta. Rasanya itu udah kaya dikelilingin sama bidadari-bidadari cantik dan terbang ke Kepulauan Galapagos sambil lihat burung Finch berterbangan di atas awan #obsesibiologi. Tapi sayangnya, mood gue pada saat itu masih dikatakan labil dan nggak seimbang. Kalian semua pasti tau jaman-jaman SMP itu kaya gimana kan? Galau dimana-mana, nggak jelas, pura-pura diem padahal suka, dan masih banyak lagi. Gue juga belum berani buat menyatakan cinta ke cewek dengan satu alasan yang menjadikan gue jadi laki-laki kemayu. Apa itu? karna takut ditolak, simpel.

Ada suatu hari dimana kisah asmara gue berada di puncaknya, saat itu malam hari, dan saat itu pula gue nyatain perasaan gue ke perempuan (ya masa laki) yang menurut gue cocok pada saat itu, Dalam hal ini gue nyatain kalau gue suka sama dia, belom pada tahap nembak, kenapa? karna alasan tadi, takut ditolak.

?Sebeneranya gue suka sama lo?
?Hah? Tapi kan kita??
?Iya tau hehe?
?Ini kaya lagunya zigas tau nggak, sahabatan jadi cinta.?
?Iya ya, daripada saudara jadi cinta? Nanti keturunannya jadi abnormal, hehe?? #obsesibiologi

Hening sejenak.

3. Sifat

Sifat? mungkin sifat gue yang paling dominan saat SMP itu adalah pendiam. Menurut gue, dalam suatu diskusi kelompok kita nggak harus banyak bicara kalau itu dirasa nggak penting. Sama halnya pas gue ketemu teman-teman di sekolah. Gue malah lebih tertarik memahami satu-satu pribadi teman-teman gue dibandingkan nanya apa yang dia suka dan apa yang dia nggak suka. Nanti takutnya dibilang kepo kaya jaman sekarang. Contoh:

1. "lo kepo banget sih jadi orang?"
2. "mau tau banget atau mau tau aja?"
3. "sok jadi detektif lo ya nanya-nanya mulu, gue cipok juga nih."

Orang mana ya kan yang nggak darah tinggi pas dia lagi tanya-tanya serius malah direspon kaya di atas, rasanya mau sumpel aja mulutnya pakai kaki meja, tapi gue takut dilaporin ke polisi. Ya karena itulah, pas masa SMP gue lebih suka jadi silent reader daripada ngerocos nggak karuan. Asik aja kalau kita udah biasa baca sifat-sifat orang berdasarkan gerak-geriknya, cara ngobrolnya, dan kedipan matanya. Kalau misal dia nggak bisa diem, itu tandanya dia aktif, kalau dia diam dalam segala hal, itu tandanya sedang berpikir, terus juga kalau lagi gerutu di tempat duduknya, itu tandanya sedang mau pup. Simpel sih.

SMA

Image Source:www.google.com

SMA? SMA? SMA? Cukup!

Ahai, akhirnya gue masuk SMA juga. Pada saat itu gue mengira masa SMA itu adalah masa yang dimana cewek dan cowok saling cinta-cintaan, jemput anter bareng, makan bareng di kantin, curhat bareng, mabok PR bareng, galau bareng, bahkan ada yang sampai modusin guru bareng, hadeh. Itu semua mungkin berbanding terbalik sama gue. Dikenyataan yang sebenarnya, jaman SMA itu udah kaya kerja rodi stadium tiga, dimana pada saat itu gue malah dituntut untuk menjadi orang yang mandiri, lebih membangun relasi satu sama lain, dan belajar lebih dewasa tentunya. Kalau boleh jujur, gue lebih suka masa-masa saat gue TK daripada disaat SMA, dimana gue masih disayang sama guru dan nyokap karna kelucuan gue menghipnotis mereka, tapi kalau sekarang? malah gue yang kena dihipnotis, huh.

1. Berpakaian

Ngomongin soal berpakaian (lagi), gaya berpakaian gue pas SMA nggak beda-beda jauh pada saat di SMP dulu. Kalau pas SMP dulu gue pakai kaos kaki sebetis, ini gue pakai kaos kaki se lutut tumit. Lain lagi sama kancing baju, kalau pas SMP kancing atas baju gue dikencingin dikancingin, ini malah nggak dikancingin. Intinya, segala perubahan kecil ini lebih mendorong gue ke tingkat kepedean yang lebih tinggi dibanding jaman SMP dulu, kayanya sih gitu. Hmm, secara nggak langsung gue juga meyakini, dari perubahan kecil itu gue bisa menemukan jati diri gue yang sebenarnya, yaitu jati diri seorang lelaki yang apa adanya, sip.

Gaya berpakaian gue selama SMA juga bisa dibilang berani dan mencolok, yang dulu biasanya gue rapi kaya orang mau diwisuda, malah sekarang udah kaya anak alay dikasih obat cacing. Mulai dari baju dikeluarin, sobek di sana-sini, saos yang nempel dibagian belakang celana, dan masih banyak lagi. Tapi karena mungkin gue orangnya cuek atau apa, gue nggak menghiraukan penampilan gue saat itu, yang gue tangkep cuma selama itu membuat lo nyaman, yaudah. Simpel.

Dari berbagai contoh di atas, yang paling menarik untuk gue ceritain mungkin yang bagian saos nempel di belakang celana. Singkat cerita, pada saat itu di kantin sekolah, gue secara nggak sengaja ngedudukin bangku yang ada cipratan saos di atasnya, gue gumam dalam hati.

?Keteeeeek, kenapa harus celana putih, kenapa harus kena saos?!!"

Untungnya, kejadian itu terjadi saat gue mau pulang sekolah dan nggak ada yang lihat. Sewaktu gue cuci tuh celana saat pulangnya, gue sadar nih noda kampret pasti nggak bisa dihilangin lagi, hilang sih sebenarnya, tapi ada samar-samar merah yang buat gue berpikir, ini sih kalau dipakai kaya orang abis cepirit sambel terasi.

Awal masalahnya, saat minggu depan gue pakai tuh celana putih dengan noda tadi, gue banyak ditegur dan diledekin sama teman-teman gue saat apel selesai.

?Nop, lo dapet ya??
?Hah? Nggak lah..?
?Itu lihat pantat lo, merah-merah begitu,? sambil nunjuk.
?Hadeh, ini gue kena saos? gue ngeles.
?Alah, bilang aja lo ga pakai yang sayap kan??
"Kampret!?

2. Asmara

Cie kan, giliran asmara langsung pada seneng nih kayanya, bukan seneng bacanya ya, seneng ngeledekin sih kayanya, miris.

Oke, ngomongin asmara? Asmara gue saat SMA dimulai saat gue menduduki bangku kelas 10. Ada seorang perempuan yang menurut gue dia itu baik dan taat agama di kelas dulu, namanya *tet* sensor, tapi? karna ada suatu kesalahan dalam hal pendekatan dan pengungkapan perasaan, asmara gue ke dia berlalu begitu aja, Next? Setelah setahun kemudian tepatnya kelas 11 gue move on, ada lagi sosok perempuan yang menurut gue nyaman untuk dibuat ngobrol, lucu dan lain sebagainya. Tapi? karna ada suatu keadaan dimana seseorang teman terlebih dahulu suka dan ngedeketin dia secara dalam, gue lebih baik mundur.

Terus kelas 12 gimana? Masih kaya gitu-gitu aja? sebentar, itu paradigma yang salah.

Di kelas 12, gue udah mulai belajar dari pengalaman-pengalaman yang ada walaupun pengalaman-pengalaman gue banyak berasal dari sinetron FTV dan layar lebar, tapi gue coba memadukan semuanya walaupun akhirnya nggak nyambung. Saat itu, gue sadar bahwa cinta yang distatuskan oleh namanya pacaran juga nggak akan bertahan lama apabila kedua kekasih tidak saling memahami.

Dari situ pun gue semakin mengerti, mungkin paradigma gue tentang yang namanya cinta itu nggak selamanya harus selalu dilakukan oleh pacaran. Melainkan harus mengisi, melengkapi, dan saling percaya satu sama lain dengan perasaan orang yang kita sayangi. Ada juga kata-kata teman gue yang buat gue semakin amat sangat mengerti akan yang namanya cinta, ?cinta tulus itu tidak harus saling memiliki, melainkan cinta tulus itu adalah cinta yang apa adanya, nggak melihat status, nggak melihat keadaan, nggak melihat wujud, tapi dilihat dari kepercayaan dari masing-masing pasangan dalam berhubungan."

Di kelas 12 ini juga gue bertemu dengan kondisi asmara yang nggak bisa gue paksain. Layaknya sepasang sepatu yang ngga bisa bersatu, dan ditampar oleh kenyataan.

Jujur, saat gue ngetik cerita ini gue terjebak dalam lingkup kegalauan yang amat sangat. Selera humor gue pun tiba-tiba hilang begitu aja. Hmm, mungkin gue dapat menyimpulkan semua yang ada di atas dengan suatu hukum yang berbunyi:

?Apabila seseorang berbicara tentang cinta, semua yang berada disekelilingnya akan meleleh dalam pembicaraan tersebut, bahkan selera humor pun akan tumbang dibuatnya? ?Hukum Nova Tentang Cinta #1

Nggak ngerti? Sama gue juga.

3. Sifat

Sampai juga dibagian sifat, skip dulu untuk galaunya. Pas SMA, sifat gue yang paling dominan itu adalah enjoy dengan banyak orang, gue suka bergaul baik sama cowok maupun cewek, tapi banci nggak ya, kadang-kadang aja. Saat disitu juga, gue baru sadar, kalau kita sering-sering membangun relasi secara luas dengan sesama, sesama manusia ya, bukan sesama jenis, itu akan bermanfaat baik untuk kita kedepannya. Mulai dari club CBB (Cakung Basketball Ball), Keong Community (Tempat Makan), Dark Fantasia (Clan Ninja Saga), dan lain sebagainya, alhamdulillah gue jalanin dan berjalan dengan lancar.

Terus kekurangannya?

Kekurangannya, gue biasanya lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah daripada di luar. Kalau nggak main internet, pasti tidur. Dua kegiatan itu udah kaya menu wajib di jadwal gue. Dan karna gue kebanyakan ngabisin waktu buat hal yang nggak penting dan nggak berbobot, gue banyak ketinggalan aktifitas dan ngumpul bareng sama teman-teman maupun keluarga. Yang tadinya gue latihan basket sabtu-minggu selalu on time, gue malah ketiduran. Yang tadinya gue sering ngumpul-ngumpul sama sahabat dekat, gue malah sibuk browsing. Yang tadinya gue getol ikut jalan-jalan sama keluarga, gue malah ditinggalin.

Miris.

Tapi, dari sekian banyak waktu yang terbuang secara sia-sia tadi, akhirnya gue sadar betapa pentingnya mengatur waktu untuk orang-orang yang ada di sekitar kita. Seperti kata bijak yang terdapat di dalam drama Malam Minggu Miko Eps. Malam Terakhir yang gue jadikan quote di bawah ini:

?Karna kita nggak perlu tau orang lain butuh kita atau nggak, tapi yang penting, kita harus ada untuk mereka.?

Ya, kita harus ada untuk mereka, dimana kita harus saling membangun hubungan, mengisi waktu luang satu sama lain, dan sebagainya. Mungkin juga ini terlihat sepele diawalnya, tapi sebenarnya, kita nggak pernah tau hal-hal baru apa aja yang akan muncul nanti setelah kita ngumpul bersama. #senyummanis


reff : http://novatri9.blogspot.com/2014/01/my-styles.html

No comments:

Post a Comment