Saturday, January 23, 2016

Kunjungan Universitas


Image Source:http://blog.umy.ac.id/

Beberapa bulan yang lalu, gue baru pertama kali ngerasain jadi anak kuliahan itu seperti apa. Mulai dari pakai tas dengan satu tangan, aura wajah yang kritis, sampai yang ngumpul ntah bahas apaan itu ada. Secara garis besar, anak kuliahan disini bisa gue gambarkan seperti orang-orang yang serius, bebas, gaul, dan kelewat gaul.

Kebetulan juga, karena kesempatan untuk berkunjung ke beberapa universitas terbuka buat gue, mau nggak mau gue harus ikut survei universitas yang dimaksud agar mengetahui seluk beluknya secara mendalam. Dari beberapa kunjungan yang gue lakukan, ada dua universitas yang sempat gue dudukin dan gue jadiin pelampiasaan kealayan gue sama teman-teman. Mulai dari foto-foto (wajar), keliling kampus (insiatif), cuci mata (naluri), dan lain-lain.

Bagian 1

Please welcome...


IPB

Universitas yang pertama kali gue kunjungin adalah IPB. IPB adalah Institut Perkumpulan Buaya yang berada di Bogor, mulai dari spesies buaya muara, buaya afrika, dan buaya darat, semuanya ada di universitas tersebut.

(baca IPB: Institut Pertanian Bogor) maaf khilaf.

Singkat cerita, gue bersama teman-teman yaitu Kennedy, Faiq, Dika dan Bokapnya Dika (driver) jalan pagi-pagi menuju lokasi pemberangkatan utama yaitu Stasiun Manggarai. Dalam perjalanan sekitar jam lima pagi suasana mobil yang gue tumpangi masih terkesan kondusif dan tenang. Dimana masih ada percakapan di antara bokapnya Dika dengan Kennedy tentang profesi militer, lalu dengan Faiq tentang masalah jurusan, dan gue dengan kaca mobil tentang mencari pasangan. Oke lupakan.

Selang beberapa lama, setelah perbincangan ringan tadi selesai, suasana pagi yang semestinya damai dan tenang seakan-akan mulai berubah dengan adanya insiden yang terjadi di Jl. Cacing, Jakarta Timur. Insiden yang membuat kepala gue berkunang-kunang secara brutal. Dimana secara langsung gue melihat kecelakaan lalu lintas dimana korban berada di antara ban belakang kontainer dengan kondisi yang mengenaskan. Mulai dari darah kental yang membasahi tempat kejadian sampai tubuh korban yang terlindas di bawah ban kontainer.

FYI, ini adalah kali pertama gue lihat korban kecelakaan, yang mana kalo dulu gue biasanya lihat korban kecelakaan lewat media tv maupun youtube, sekarang langsung lewat di depan mata gue sendiri.

Kennedy: "Kasian, mau berangkat kerja tuh pasti, gimana perasaan keluarganya ya?"
Faiq: "Iya ken, kasian. Mana gepeng gitu badannya, aduh!"
Dika: "Supirnya malah kabur lagi ya, ckck."
B. Dika: "Soalnya kalo supirnya nggak kabur terus ketangkep, bosnya pasti kena kasus."
Gue: "Hmm, motornya yang kelindes tadi kok masih nyala ya, megapro putih lagi, bagus ya padahal."

Semua terdiam.

Disaat bersamaan, firasat gue mulai nggak enak. Gue cuma bisa berdoa semoga korban tadi ditempatkan disisi-Nya dan buat keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan oleh yang di atas. Selain itu gue juga berharap, semoga saat evakuasi korban nanti semuanya bisa berjalan dengan lancar. Aamiin.

Setelah melewati insiden pagi tadi, pagi yang menjadi awal dari segalanya. Gue, Faiq, Dika, dan Kennedy akhirnya sampai di Stasiun Manggarai. Di stasiun ini, udah banyak anak 89 (baca 89: SMA Negeri 89 Jakarta) yang berkumpul dan ingin berangkat ke IPB bersama-sama. Setelah membeli tiket dan menunggu jurusan Jakarta-Bogor sampai lumutan, kereta yang ditunggu akhirnya datang.

Naas, setelah semua anak 89 sudah memasuki gerbong kereta, ternyata masih ada dua orang yang tertinggal di luar.

?Itu Hanif sama Dimas belum naik, gimana nih,?sambil menunjuk keluar jendela.
?Lah kok bisa? suruh nyusul kereta selanjutnya aja.?

Tiba-tiba Hanif menelpon Taufik, temen gue, dan mengaktifkan speakernya.

?Halo, kenapa Nip?? Taufik pura-pura nggak tau.
?Halo-halo, elu bukannya nungguin gue, udah pada jalan aja.?
"Lah elu ditungguin darimana? Udah naik kereta selanjutnya aja, nanti kita tunggu di stasiun Bogor.?
?Gue tadi abis dari Alfamart, Dimas abis ngencing, gue udah kaya homo ini berdua doang.?
?Yaudah, nanti jangan lupa gandengan pas naik keretanya.?
?tut..tut..tut? (suara telpon terputus)

Seisi gerbong pun tertawa.


Setelah satu-dua jam gue di dalam kereta, sampai juga gue dan rombongan di stasiun tujuan, Stasiun Bogor. Keluarnya dari stasiun, gue dan rombongan 89 langsung charter angkot untuk ke IPB. Nggak lama makan waktu, tibalah gue di Institut Pertanian Bogor.

Pada saat itu, IPB adalah salah satu kampus yang menjadi prioritas gue kalo gue udah lulus SMA. Sampai-sampai, gue buat slogan untuk motivasi diri:





Lanjut,

Setelah mengikuti tahap-tahap program kuliah sehari di IPB, secara langsung gue dapet banyak informasi atau pelajaran tentang kampus IPB itu seperti apa. Mulai dari seluk beluknya, penjelasan fakultasnya, persyaratan masuknya, prospek kerjanya, dan lain sebagainya.

Di bawah ini, ada beberapa foto saat gue dan teman-teman berada di area kampus IPB.




Penulis
Penjelasan: Jika kalian menduga foto di atas adalah foto yang dicrop lalu di edit sedemikian rupa dan disatukan, itu adalah salah besar. Foto ini hanya diambil menggunakan kamera handphone dan tidak ada rekayasa di dalamnya.

Peserta Laki-laki

Penjelasan: Foto di atas diambil saat peserta laki-laki dihalangi oleh seorang monster yang mendiami area kampus IPB, dimana mereka berbaris dan bersatu untuk mengalahkannya. #sman89jakarta

Peserta Perempuan

Penjelasan: Foto diatas adalah beberapa dari peserta perempuan yang mengikuti program sehari kuliah di IPB. Keep smile! #sman89jakarta



Angkoters
Penjelasan: Bajak laut? mungkin itu terlalu umum. Tapi bagaimana dengan bajak angkot? ya, foto ini diambil saat para angkoters berhasil membajak angkot secara offensif dan menyeluruh di daerah Bogor, Jawa Barat. #sman89jakarta


Pak Supir

Penjelasan: Ketenangan Pak Supir saat angkotnya dibajak. Salut.

Singkat kata, setelah gue pulang dari kunjungan ini dan sampai di rumah sekitar jam 8 malam, dengan cepatnya gue cuci muka dan langsung nemplok di kasur.

Bagian 2

Oke, selanjutnya adalah ITB

ITB

Kampus yang selanjutnya gue kunjungin adalah ITB. ITB adalah Institut Tolak Bala yang ada di Bandung. Jadi pada umumnya mahasiswanya berasal dari keturunan paranormal. Mulai dari dukun beranak, peramal, dan lain-lain.

(Baca ITB: Institut Teknologi Bandung) maaf khilaf (lagi).

Singkat cerita, tempat les gue yang nggak bisa gue sebutin disini, Primagama kalo nggak salah, iya Primagama pada saat itu ingin mengikuti tes serentak di gedung SABUGA (Sasana Budaya Ganesha) yang berada di kota Bandung. Karena kampus yang mau dikunjungi itu adalah ITB, salah satu kampus favorit di Indonesia, tanpa ragu-ragu gue langsung ambil kesempatan itu.

Dihari hnya. Jam setengah lima pagi setelah berkemas, gue dianter abang gue, Adit, untuk langsung ke lokasi pemberangkatan utama yaitu tempat les gue. Sampainya di tempat les, pandangan gue langsung tertuju dengan sebuah minibus yang sedang dipanaskan tanpa ada satu orang pun di sekitarnya. Oke, ini mulai horror.

Setelah gue mengetuk pintu dan mengucapkan salam, mata gue langsung melihat seisi ruangan yang sunyi dan senggang.

Gue: ?Mba Rahma, yang lain belum pada dateng ya??
Mba Rahma: ?Belum nov, baru satu tuh yang dateng.?
Gue: ?Oh gitu, di depan gelap tau, Mba.?
Mba Rahma: ?Emang, kan belum ada lampunya.?
Gue: ?Hmm, sama kaya hati ini dong mba yang belum ada lampunya.?
Mba Rahma: ?Ehhhh.......?

Mulai ngawur.

Untungnya, saat gue menunggu teman-teman gue yang lain untuk segera datang, gue banyak dikelilingi oleh makhluk insekta yang ngedeketin dan ngegigitin gue dengan puasnya. Waktu itu gue manggilnya dengan nama Muk-Muk.

Ya, akhirnya gue nggak sendirian. Mirisnya, walaupun gue udah ditemanin sama sekawanan muk-muk saat itu, badan gue tetep nggak mau terima. Pengen sih diterima, tapi nanti malah bentol-bentol nggak karuan. Dan semisal kalo gue disuruh ngebandingin kuatan atau ganasan mana antara nyamuk kebon rumah gue sama nyamuk di tempat les, gue pasti memilih nyamuk tempat les sebagai pemenangnya, karena mereka curang bawa pasukan.

Setelah 20 menit menunggu dan berkutat dengan nyamuk-nyamuk tadi, akhirnya teman-teman les gue yang secara mimik muka memasang wajah tidak berdosanya mulai berdatangan di ruang depan dan bertanya-tanya kenapa belum berangkat dan lain sebagainya. Pengen saat itu gue respon begini:

"ELU YANG BIKIN LAMA PANCIII, ELUUU!!"

Sambil teriak-teriak, tapi karena badan gue tergolong kecil dan ringan untuk dilempar, gue akhirnya diam karena nggak mau itu terjadi.

Perjalanan pun dimulai. Karena jaraknya lumayan jauh, untuk mengisi keheningan dan waktu luang di dalam minibus, teman-teman gue mengusulkan untuk menonton film horror pada saat itu. Kebetulan juga, temen les gue, Enggar, membawa CD film The Conjuring di dalam tasnya, cakep. Makin lama film itu diputar, makin banyak teriakkan-teriakkan aneh yang muncul begitua aja.

"Aaaaaaaa, ITU SUARA APAAA?!!"
-Biasanya perempuan.

"Aaaaaaaa, KENAPA PAKE BAHASA CINA SUBTITLENYA KAMPRET!!"
-Biasanya laki-laki.

"Aaaaaaaa, INI TERI NASI PADA NGGAK BISA DIEM APA!!!"
-Supir 100%

"Aaaaaaa, give me a, give me b, give me c, say what? ABC!!!"
-Cheerleader nyasar

Karena gue belum pernah ke Bandung, gue getol untuk clingak-clinguk kota Bandung itu seperti apa. Tapi kayanya, kota Bandung ini sama aja kaya kota Jakarta, banyak orang, macet, dan sebagainya. Perbedaan yang mungkin mencolok paling cuma papan iklan baliho yang gue liat pas pertama kali keluar tol. Banyak iklan baliho tentang kerudung atau jilbab di sepinggiran jalan, jarang-jarang aja kan. Coba di Jakarta? Kalo nggak papan iklan baliho tentang shampo yang dipasang pasti sisanya odol sama sabun cuci.

Untungnya, karena gedung yang dituju nggak terlalu jauh dengan pintu keluar tol tadi, nggak pakai waktu lama kami pun sampai di gedung SABUGA Bandung. Saat gue melihat keluar jendela, mata gue langsung tertuju dengan dress code rombongan lain yang memakai baju bebas dan terlihat casual. Tapi awkwardnya, karena dijauh hari gue dan yang teman-teman diinstruksikan untuk mengenakan baju batik asal sekolahnya masing-masing, ntah kenapa saat itu gue melihat diri sendiri dan rombongan udah kaya supporter persebaya yang sedang berkungjung, hijau-hijau gitu warnanya.

Takutnya, kalo ada salah satu orang Viking (baca: Suporter Persib Bandung) yang bertanya ke gue dan salah respon, mungkin gue udah masuk koran kompas esok paginya.

?Eh bro, batiknya bagus, beli dimana??
?Nggak beli bang, ini batik sekolah.?
?Lo anak bonek? kok warnanya ijo.?
?Bukan bang, saya anak Jakarta?
?Oh... Anak Jakarta...
?Iya bang, hehe...?

(menelepon temannya)

"Panggil anak-anak sekarang, ada musuh masuk kesini. Cepat!!?

Jujur, gue masih mau hidup.

Lanjut, setelah turun dari minibus, gue dan teman-teman langsung jalan setapak ke pintu depan gedung SABUGA. Setelah menunggu sekitar 10 menit untuk registrasi, akhirnya gue dan teman-teman dipersilahkan masuk ke sebuah aula yang ada di dalamnya. Saat di dalam, gue melihat banyak pelajar seusia gue yang duduk dengan rapi, bahkan para tenaga pengajarnya pun tersebar sejauh mata memandang. Aulanya tergolong besar dan dibagi menjadi dua bagian, tribun bawah untuk jurusan IPS, sedangkan tribun atas untuk jurusan IPA. Pada saat itu juga, gue merasa diri gue udah kaya cingcorang di dalam bejana besar, dimana gelap, kecil dan nggak keliatan.




Setelah pembukaan dari pihak panitia dan tokoh-tokoh penting kampus ITB selesai, resmilah gue disini untuk memulai tes serentak dengan bermodalkan pensil 2B bermerek Artline yang sebelumnya diberikan di pintu masuk aula. Kalau boleh jujur, sebelum memulai tes ini gue sama sekali nggak belajar apa-apa maupun tebak-tebak soal apa aja yang bakal keluar saat tes berlangsung. Intinya mager, dan untuk hal ini jangan dicontoh.

10 menit berlalu
?Masih gampang nih...?

30 menit berlalu
?Untung masih inget caranya. huh?

45 menit berlalu
?Soal macam apa ini.?

60 menit berlalu
?Keluarkan saya dari aula ini, siapa pun keluarkan saya.?

Oke, gue angkat tangan. Gue nyerah untuk tes ini.

?Teetttt......?

Suara tanda berakhirnya tes serentak terdengar, dimana gue mendengarnya sebagai suara kebebasan. Salah satu hal yang bisa gue lakuin pada saat itu cuma pasrah, keluar aula, dan beli minuman untuk mendinginkan otak. Gue juga nggak berharap menjadi salah satu anak yang mendapatkan hasil terbaik dan mendapatkan hadiah liburan ke Singapura maupun Bali pada saat itu, soalnya itu nggak mungkin juga.

?Baiklah anak-anak, acara utama yang kita tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sesuai dengan jadwal yang tertera, setelah ini anak-anak semua akan diajak mengelilingi kampus ITB dengan guidenya masing-masing, Siapa aja yang mau ikut??

?Sayaaaaaaa!!!? semua peserta berantusias.

Whoaaa, acara yang gue nanti akhirnya datang juga, dimana gue bisa keliling-keliling kampus ITB dan foto-foto di sana. Saat gue dan teman-teman keluar aula, gue langsung dibimbing dengan guide yang tidak lain dari mahasiswa asli ITBnya. Dengan jalan sebentar dan melewati terowongan kecil, sampailah gue dan teman-teman di dalam kampus ITB.






Setelah puas keliling-keliling dan melihat bangunan-bangunan di dalam kampus ITB, gue dan teman-teman memutuskan untuk mengakhiri perjalanan untuk pulang karena waktu udah semakin sore. Memang, waktu untuk mencari informasi di kampus tersebut masih terasa kurang buat gue, tapi seenggaknya, tujuan penunjang gue saat itu udah semuanya terpenuhi, yang nggak lain bisa pergi ke Bandung gratis dan beli sale pisang sebagai oleh-oleh.

Dari beberapa kunjungan universitas di atas, semakin hari gue semakin bingung dalam memilih tempat kuliah. Banyak pilihan yang harus gue pertimbangkan sesuai dengan kemampuan gue sendiri. Memang, memilih itu mudah kalo kita ingin, tapi ada satu tanggung jawab yang harus dipegang nantinya. Bagaimana kita mencapai pilihan tersebut, dimana kita harus mempertahankan pada satu pilihan, dan dimana kita harus bertanggung jawab pada pilihan yang sudah diambil. Akhir kata, pilihan yang tepat adalah pilihan yang berasal dari hati kalian dan didukung oleh orang sekitar, bukan pilihan yang hanya muncul sekelebat dan hilang begitu aja. #senyummarioteguh


reff : http://novatri9.blogspot.com/2014/03/kunjungan-universitas.html

No comments:

Post a Comment