Wednesday, January 27, 2016

Ulangan Fisika

Image Source:http://apbootcamp.weebly.com/goodies-resources.html

Seperti anak-anak SMA biasa, gue berangkat sekolah pagi-pagi dan siap nggak siap untuk ulangan Fisika. Sampainya di sekolah, gue melihat di mejanya Revi banyak anak-anak yang nimbrung ntah lihat semut goyang perut atau kucing lahiran.

Setelah gue mendekat dan ingin ikut serta dalam perkumpulan tersebut, ternyata teman-teman gue sedang menghapalkan jawaban Fisika secara bertahap. Pasalnya, guru Fisika gue di sekolah terkenal selalu buat soal yang sama setiap semesternya, hampir.

Nggak mau ketinggalan, gue ikut ngumpul dan menghapalkan jawabannya satu-satu dan berusaha sebisa mungkin agar ditangkep sama otak gue yang setara sama biji melinjo ini. Sialnya, karena jam bel masuk sudah berbunyi, gue cuma bisa menghapalkan sedikit soal dari keseluruhan soal.

Lima menit berselang, akhirnya guru gue masuk ke dalam kelas. Nama beliau adalah Pak Ridin, Pak Ridin ini mempunyai pesona senyuman yang dapat meluluhkan hati wanita siapa saja yang melihatnya. Ini serius. Beliau adalah orang Medan asli dan pasti kalian sudah pada tau cara orang Medan mengajar itu seperti apa, tegas dan menegangkan.

Setelah beliau memberikan soal ujian ke masing-masing anak, beliau langsung berkata:

"Waktunya eempat puluh meenit dari seekarang," dengan logat bataknya yang kental.
"Mampus!!" sahut gue dalam hati.

Memang, gue sempat terpesona sama senyuman beliau yang lucu (baca: kejam) waktu beliau mengajar di kelas, tapi kalau cuma segini waktu yang diberikan untuk mengerjakan soal Fisika dalam bentuk essay, mending gue balik ke rumah terus tidur. Oke, gue akuin, pas ngerjain soal lembar kesatu sama kedua otak gue masih terlihat lancar kaya jalan tol. Tapi pas ngerjain soal lembar ketiga, otak gue mulai berimajinasi sendiri dan berhenti kaya mobil keabisan bensin. Singkat cerita, akhirnya gue mengerjakan soal tersebut dengan jurus ninja dimana tembak-menembak suriken adalah fokus utamanya, jenius! #senyumbego



reff : http://novatri9.blogspot.com/2013/12/ulangan-fisika.html

Kebakaran Membawa Senyuman

Image Source:http://kartununited.blogspot.com/2007_08_01_archive.html

Secara umum, kebakaran bisa terjadi oleh beberapa faktor. Faktor yang gue sebut disini adalah faktor yang berhubungan dengan 3K. Yaitu kecerobohan, ketidaksengajaan, dan kepolosan pelaku. Mungkin cerita gue di bawah ini menyangkut ke dalam faktor terakhir, yaitu kepolosan pelaku. Ya, memang sedikit beruntung apabila dalam suatu kasus kebakaran, pihak berwajib telah diberikan alasan/pembelaan karena faktor kepolosan oleh sang pelaku, dan pelaku pun bebas begitu saja tanpa ada hukuman yang mengiringinya, enak ya.

?Selamat pagi, berdasarkan laporan dari pihak terkait, untuk sementara sodara kami tetapkan menjadi tersangka karena terlibat dalam kasus pembakaran.?

?Tidak pak, saya melakukan itu semua karena kepolosan saya, saya tidak tahu apa-apa, saya dari desa, bebaskan saya pak, bebaskan saya.?

?Hmm, dalam undang-undang kepolisian memang ada pengecualian akan alasan itu. Baiklah, anda bebas sekarang.?

?Terima kasih pak, terima kasih.?

Mulai ngawur. tapi itu yang gue alami dalam cerita di bawah ini. dimana menjadi pelaku yang lolos dalam kasus pembakaran, dan hilang sebagai buronan.

"Tok tok tok. Assalamu'alaikum..."

Pagi menjelang siang, kian lama suara ketuk pintu dan ucapan salam terus terdengar. Bahwasannya, dihari itu sedang ada acara keluarga dari sodara nyokap. Karena nyokap gue termasuk orang keturunan Padang asli, mulai dari uni, uda, sampai yang unyu unyu kaya lemang bambu pun (baca: bayi) juga ada dirumah gue. Pokoknya saat itu udah kaya lagi rapat besar tapi ngomongnya pakai bahasa daerah Sumatra Barat, lanca bana. Ada sodara gue namanya Yasin, dengan rambut lurus model bams samsons dengan perutnya yang gempal, dia langsung ngajakin gue untuk main keluar.

Yasin: ?Eh nov, maen keluar yuk! jalan kaki aja."
Gue: ?Maen apaan sin? Oh iya, nyari kumbang emas aja yuk!"
Yasin: ?Kumbang emas? Wah boleh-boleh. Nanti kita jual dapet uang, Nov. Kan emas mahal."
Gue: ?Kumbangnya bukan dari emas *nepokpala. Tapi warnanya emas , Sin.?
Yasin: ?Ohh.. Bilang dong. Yaudah yuk langsung cari aja.?

Catatan penting : Penulis masih kelas 4 SD.

Lengkaplah gue sama seekor marsupilami ini menyusuri setiap tepi jalan daerah rumah gue untuk mencari apa itu yang namanya kumbang emas. Kalau bisa dibilang, penampilan gue berdua dulu udah kaya gembel monas kehilangan emaknya, miris lihatnya. Mungkin untuk kalian yang masih penasaran bentuk kumbang emas itu seperti apa, gambarnya ada dibawah ini:


Kumbang Emas
Oh iya, sewaktu gue cari kumbang emas untuk difoto dan dimasukkan ke dalam cerita ini, gue inget, ternyata masih ada satu spesies kumbang lagi yang gue cari pada saat dulu, yaitu:

Kumbang Macan Tutul

Tapi, karena dulu gue sama saudara gue yang mirip bams samsons ini (asli mirip) lebih tertarik untuk mencari kumbang yang ada kemungkinan bisa dijual, akhirnya gue cuma mencari kumbang emas untuk sementara waktu. Soalnya saat itu gue berpikir, kalau gue nangkap banyak-banyak kumbang macan tutul, tidur gue pasti nggak bakal tenang, gue pasti bakal didatengin banyak macan tutul di dalam mimpi. Lain lagi kalau gue nangkap kumbang emas banyak-banyak, antara dapet emas di dalam mimpi atau nggak hajat orang yang warnanya emas yang penting masih ada kesempatan walaupun itu 50:50. Gue pun mulai ketawa kecil kalau inget pemikiran ini.

Akhirnya, setelah udah terkumpul segenggam kumbang emas di tangan gue dan dipenuhi oleh fesesnya alias tokainya, gue pun langsung nyamperin Yasin untuk ngumpulin kumbangnya di kantong plastik. Tapi naas, bukannya bantuin untuk mencari kumbang juga, dia malah asik mainan korek gas di pinggir jalan, great.

Gue: "Eh sin, elu bukan bantuin nyari kumbang malah maenan aja. Nemu dimana tuh korek gas?".
Yasin: "Di tengah jalan nov, masih nyala lho!".
Gue: "Gue minjem dong sin, mau nyoba juga!".
Yasin: "Nih," sambil menjulurkan tangan ke gue.
Gue: "Oh iya masih nyala, keren lagi warna biru apinya. Bakar apa kek yuk, Sin!? sahut gue.
Yasin: "Itu disana ada rumput kering (baca: gubuk jerami), Nov. Coba aja bakar, tapi dikit aja".
Gue: "Oke!" mengiyakan dengan begonya.


Ntah karena IQ gue pada saat itu lagi jongkok atau emang dasarnya polos setelah denger perkataan sodara gue tadi, tanpa mikir panjang gue pun langsung menuju gubuk jerami sambil nyalain korek gas yang ada di tangan gue. Tujuan utama untuk mencari kumbang emas pun hilang diwaktu yang bersamaan.

Awal masalah.

Setelah berhasil menyalakan korek gas tadi, gue mencoba membakar atap gubuk jerami secara perlahan-lahan. Tapi percobaan gue yang pertama ini gagal karena banyaknya angin yang lalu lalang di tempat kejadian. Karena belom puas sama percobaan yang pertama, gue mencoba percobaan yang kedua. Dan syukur, percobaan kedua pun berhasil sesuai dengan harapan. Sekali lagi, karena kepolosan gue yang nggak ada ampun, gue langsung ngarahin korek gas tersebut ke atap gubuk dan melihat apa yang terjadi.

Sedikit...Mulai menjalar...Mulai membesar...

Yasin: ?Asik kebakaran...?
Gue: ?Asik.... hah? kebakaran?? SIRAM SIN SIRAMMM, GUBUKNYA KEBAKARANNN!!?
Yasin: *tap tap tap* Yasin lari meninggalkan gue.
Gue: ?SIN TUNGGUIN GUE SIN, TUNGGUINNN!!?

Gue pun ikut lari di belakangnya.

Dengan tenaga tersisa, sampainya di rumah gue langsung masuk ke kamar nyokap buat bersembunyi dari kenyataan. Gue menyingkap kaki dan mulai berpikir, kalau gue ketahuan sebagai dalang dari kasus kebakaran tadi, pasti gue langsung dijeblosin ke penjara sama pihak kepolisian. Otomatis, gue nggak bisa liat nyokap bokap gue lagi, gue nggak bisa main PS 1 gue lagi, dan mungkin gue nggak bisa kencing sembarangan lagi untuk waktu yang cukup lama. Intinya, gue nggak mau jadi penjahat yang ditangkap karena alasan kepolosan gue.

Udah cukup gue menjadi penjahat. Semenjak kejadian itu, gue trauma main-main keluar. Gue juga nggak tau bagaimana perasaan yang punya gubuk kalau lihat gubuknya udah nggak kebentuk lagi, apalagi karena ulah mahkluk macam gue. Tapi untungnya, gue cukup kenal sama wajah pemilik gubuk yang dulu, dimana sekarang beliau menjadi penjual kue cubit keliling di sekitar rumah gue, dan gue adalah pelanggannya.

Mungkin cuma ini yang bisa gue lakukan untuk melunasi kesalahan gue pada jaman dulu, dengan memborong kue cubitnya apabila sedang berpapasan dengan beliau. Jujur, ingin gue bercerita yang sebenarnya ke beliau tentang kejadian yang merenggut tempat rehatnya dulu, tapi setelah gue melihat senyum tulus dan kebahagian yang beliau pancarkan saat dagangannya laku, gue menarik keinginan itu.

Kebakaran yang membawa senyuman.

Itulah sebuah senyuman yang gue liat dari sosok beliau. Senyuman yang dapat melupakan masa lalu dan memancarkan senyuman untuk menjalani kehidupan yang ada di depannya. Gue juga nggak tau beliau ingat atau nggak tentang kejadian tersebut. Tapi dari kasus kebakaran dulu, gue pun mendapatkan pelajaran. Dimana saat kalian melihat seseorang tersenyum kepadamu, pastikan kalian telah berbuat baik kepadanya, walaupun kenyataan pahit telah berlalu. #senyumbahagia



reff : http://novatri9.blogspot.com/2014/02/kebakaran-membawa-senyuman.html

Tuesday, January 26, 2016

Dok, Guntingnya Mana?

Image Source:http://temananak.com/membantu-si-kecil-mengatasi-rasa-takut/

Saat kecil, untuk beberapa kaum adam (baca: laki-laki) yang ingin beranjak remaja pasti pernah melewati kewajiban maupun tradisi yang disebut sunat ataupun khitanan. Seperti yang kalian tahu, sunat atau khitanan adalah proses dimana hilangnya sebagian kulit dari alat kelamin laki-laki dan menjadi ajang kepedihan massal apabila dilakukan secara bersama-sama di muka bumi. #fact

Sunat atau khitanan pun dilakukan dengan berbagai cara dan media. Contoh pertama mungkin adalah sunat dengan menggunakan media laser, dimana apabila laser tersebut ditembakkan di sekitar alat kelamin pria, maka kulit tersebut akan terlepas sesuai keinginan dokter yang menangani. Beda lagi jikalau yang menggunakan media ini adalah anak yang berumur 7-10 tahun. Karena mereka belum bisa membedakan laser mana yang digunakan untuk sunat maupun laser mana yang dijual di tukang mainan, tidak menutup kemungkinan keselamatan alat kelamin pasien akan terancam.

Yang kedua adalah sunat dengan menggunakan media gunting. Prosedur yang diterapkan dalam media ini cukup praktis dan dinamis. Dimana sang dokter menggunakan sistem 3D untuk sang pasien. Yaitu Dibius, Digunting, dan Dijahit. Mungkin, sunat dengan media ini terkesan simpel dan tidak bertele-tele bagi kebanyakan orang. Tapi kalau untuk gue pribadi, rasa sakit maupun pilu yang dirasakan saat sunat dengan media ini sangat begitu nyata dan terasa. Oke, kali ini gue akan cerita...

Cerita ini bermula saat gue di kelas 6 SD.

Bokap: ?Minggu depan nova disunat ya, siap nggak?? bokap melempar pertanyaan ke gue.
Gue: ?Hah? nggak mau pa, sunat kan sakit,? gue mengelak.
Bokap: ?Nggak sakit kok, cuma pas disuntiknya aja kaya digigit semut, setelah itu udah tenang.?
Gue: ?Nggak ah, waktu itu aja pas abang selesai disunat langsung nangis-nangis gitu.?
Bokap: ?Itu kan gara-gara kamu lempar bola tenis ke abang kamu terus kena itunya, ya langsung nangis lah,? kata bokap menjelaskan.
Gue: ?......?

Hening sejenak.

Sunat? Yeay, akhirnya minggu depan gue disunat juga (baca: tidakkkkkk!). Proses dimana gue bisa melepas masa kekanakkan gue, dan bisa menghadapi masa pubertas secara perlahan.

Waktu dulu, gue suka parno sendiri kalau denger kata-kata yang berhubungan dengan sunat, sampai-sampai gue buat slogan: say no to drugs sunat! di depan pintu kamar gue. Walaupun slogan tersebut berhasil gue terapkan, tapi banyak dari sebagian anggota keluarga gue mencoba menghilangkan paradigma negatif dari sunat itu sendiri dan ngedukung gue untuk berani menghadapi kewajiban ini. Mulai dari nyokap, bokap, sampai kakak perempuan, semuanya ngedukung gue untuk nggak takut dengan apa itu yang namanya sunat. Tapi berbeda dengan abang gue, dia selalu menjadi awan gelap yang mendorong gue buat jauh-jauh dengan kata sunat, eek emang.

Adit: ?Hayolohh...hayolohh,? abang gue menggoda.
Gue: ?Apasih bang, orang sunat nggak sakit?
Adit: ?Nanti disunat pakai kapak hayolohh...? terus menggoda.
Gue: ?Orang pakai gunting weee...?
Adit: ?Kalau guntingnya kelupaan gimana? ya tinggal ngambil kapak di gudang dong.?
Gue: ?Maa, abang maa...? gue lari ke nyokap.
Adit: ?Hahahahaha...?

Abang gue malah ketawa lepas. Dasar primata langka.

Seraya gue menumbuhkan keberanian untuk disunat, gue sempat ngebayangin bagaimana rasanya jikalau disuntik dibagian ?you know what i mean? untuk pertama kali. Apa benar cuma kaya digigit semut aja? atau jangan jangan kaya digigit ikan piranha? oh no. Intinya, pada saat itu gue udah percaya sama bokap kalau disunat itu nggak seseram dengan apa yang dibayangkan. Palingan cuma mencekam dan memilukan, itu aja tambahan dari bokap.

Mendekati hari eksekusi, keberanian gue untuk menjalankan sunat semakin menebal, yang nggak lain bersumber dari dukungan keluarga yang tiada putus-putusnya diberikan. Selain itu, gue juga banyak dibekali lafadz-lafadz Al-Quran oleh nyokap untuk dibaca nanti jikalau ritual penyunatan sudah berlangsung, di antaranya:

1. Kalau pas celana ingin dibuka: ucapkan bismillah.
-?Iya ma...?

2. Kalau mau disuntik sama dokternya: ucapkan bismillah.
-?Iya ma...?

3. Kalau proses jahit-menjahit sedang berlangsung: baca surat-surat pendek masing-masing 3x.
-?Iya ma...?

4. Kalau dokternya ngantuk terus jahitnya asal-asalan: baca istighfar secukupnya, setelah itu boleh teriak.
-?iya ma... Hahh???

Untungnya, karena tempat gue disunat nanti adalah di rumah gue sendiri, baik persiapan maupun antisipasi kecelakaan prosedur sunat pun sudah dipersiapkan matang oleh keluarga gue. Mulai dari kotak P3K, plester luka, kain kasa, lakban pengganti perban, alkohol pengganti betadine, semuanya sudah siap untuk digunakan.

Hari eksekusi. Di rumah saat pagi hari.

Bokap: ?Gimana, udah siap??
Gue: ?Siap dong pa,? sahut gue yakin.
Nyokap: ?Jangan takut ya sayang...? nyokap mencoba menenangkan.
Gue: ?Iya ma...?
Adit: ?Selamat menikmati hari ini ya. Ahahaha...? abang gue ketawa lagi.
Gue: ?iya bang iyaaak...?

Detik-detik yang gue tunggu akhirnya tiba, dengan motor bebek yang dibawa sang dokter dan assistennya seolah-olah membuat gue merasa tenang untuk disunat. Saat waktu tepat menunjukkan jam enam pagi, banyak terdengar suara kokok ayam yang saling bersahutan satu sama lain. Oke, mungkin ini adalah suara terakhir yang bakal gue denger di hari ini, hari yang nggak gue lupain sepanjang hidup gue.

Dokter: ?Iya, dengan siapa namanya, dek?? tanya dokter ke gue.
Gue: ?Nova, dok. Hehe,? gue ketawa unyu, padahal takut.
Dokter: ?Oh nova, yaudah yuk langsung baringan aja.?

Pada saat itu, gue berpikir kalau si dokter mau ngajak tidur bareng secara langsung.

Dokter: ?Nah, baca bismillah dulu ya...?
Gue: ?Bismillahirrohmanirrohim...?

Setelah itu, gue pasrah dengan keadaan. Dokter pun meminta gue untuk membuka sarung yang gue kenakan secara rapih di bawah pinggang. Mungkin karena gue nggak tau malu, gue langsung membuka sarung gue di depan dokternya dan munculah bayi burung gereja di hadapannya. Yap, pasti kalian tau kata tersirat yang gue maksud sebelumnya.

Dokter: ?Disuntik dulu ya.?
Gue: ?Iya dok,? gue siap-siap gigit bantal.

30 detik kemudian.

Dokter: ?Dah, rasanya nggak sakit kan?, disuntik lagi ya dek biar kebal.?
Gue: ?Hah? disuntik dua kali, dok??
Dokter: ?Iya.?
Gue: Dalam hati, ?Ambillah nyawa ini ya Tuhan, ambillah.?

Tahap awal yang buruk.

Oke, mungkin untuk tahap tadi gue masih bisa tenang karena nyokap sama bokap mendukung gue dari belakang. Suasananya pun udah mulai terasa kondusif untuk gue pribadi. Tapi setelah gue denger kata dokter setelah ini adalah tahap pengguntingan, gue mulai angkat tangan dan lemes seketika.

Dokter: ?Mba, tolong ambilkan gunting saya ya, di tas kecil paling depan,? minta dokter ke assistennya.
Assisten Dokter: ?Iya, dok.?

Setelah 2 menit berselang.

Assisten Dokter: ?Dok, guntingnya mana ya? kok nggak ada dok,? sambil terus merogo-rogo tas sang dokter.

Dokter: ?Hah? bukannya ada mba, coba sini saya cek.?

Sesaat si dokter mengecek isi tasnya, gue akhirnya bisa bernapas lega. Kalau emang gunting sang dokter beneran ilang, gue akan mengalami penundaan rasa sakit untuk sementara waktu. Dan mungkin, gue nggak akan disunat di hari itu juga, yeah! ini adalah keajaiban yang diberikan Tuhan sama gue.

10 menit kemudian.

Bokap: ?Gimana dok, sudah ketemu guntingnya?? tanya bokap penasaran.
Dokter: ?Belum pak, sebentar saya coba cek di jok motor dulu,? sang dokter berdiri dan berjalan keluar rumah.
Bokap: ?Cepat ya dok, takut obat biusnya habis.?

CUAKEEEEP! Dalam hati, gue menari-menari riang bagaikan penari balet yang lagi tampil di atas panggung. Akhirnya gue nggak jadi disunat, akhirnya gue nggak jadi disunat, makasih ya Tuhan, makasih. Kata-kata itu selalu terlintas di otak gue dengan indahnya. Kalau gue bayangin, analoginya itu udah kaya mau ditembak senapan angin tapi yang keluar malah semprotan air, tegangnya itu langsung hilang pas mau di eksekusi.

Dokter: ?Nah, ini guntingnya udah ketemu, yuk lanjut,? sang dokter berjalan masuk.
Gue: ?Mati,? sahut gue dalam hati.

Dan ya, dengan mimik muka sang dokter yang terlihat ingin balas dendam ke gue, dengan sigapnya beliau langsung menggunting bayi burung gereja gue dengan perlahan. Awal masalah terjadi pada tahap ini.

Gue: ?Ouuuhhh.... aaaaah... ouch.....? gue bersuara parau kaya korban banci Thailand.
Dokter: ?Wuahahahaha, saatnya saya balas dendam hei anak kecil, rasakkan sayatan ini, rasakkan...? kata sang dokter dalam hatinya.

?SRET!? suara aneh terdengar.

Gue: ?ADOOOOOH, SAKITTTTTTTTTTT!!? gue langsung teriak kesakitan.
Dokter: ?Sebentar ya dek, sedikit lagi ya...?
Gue: ?UDAH DOK, UDAHHHHH...?
Nyokap: ?Astaghfirullah...?
Adit: ?Terusin aja dok, terusin wuahahahaha.?

Abang gue malah ketawa (lagi), syiittt.

Dalam tahap ini, omongan bokap ternyata menjadi kenyataan. Efek obat bius yang seharusnya dapat menahan rasa sakit dari proses sunat itu sendiri malah mulai nggak bereaksi secara utuh dengan badan gue. Dapat kalian bayangkan sakitnya seperti apa? sakitnya seperti kalian suka sama seseorang tapi ternyata orang tersebut mempunyai alat kelamin dua alias ganda, itu.
Image Source: www.google.com

Dokter: ?Sudah nih, tinggal dijahit ya hehe. Oh ya, dapet ranking nggak dek di sekolahnya??
Gue: ?Nggak dapet dok, hehe...? dalam hati: ?TUNTASKAN SAJA DOK SUNATNYAAA!! TUNTASKAAAN!!?

Nggak lama kemudian, tahap pengguntingan selesai. Tahap selanjutnya, siksa kubur.

Beberapa menit menahan sakit yang nggak ketulungan, sampailah gue di segmen akhir ritual ini. Dengan keadaan obat bius yang nggak mempan dan latar suasana yang mulai memilukan, mau nggak mau gue harus siap untuk dijahit. Gue juga nggak mau nyokap gue kawatir dan nangis kalau gue teriak kesakitan layaknya suara boyband kalau lagi nyanyi di atas panggung. Pokoknya, gue harus lulus ditahap ini. Harus!

Gue: ?ADOOOOOOHHH, SAKITTTTTTTT,? gue teriak lagi.
Dokter: ?Sebentar lagi ya, sebentar lagi.?
Gue: DOK, UDAHHH DOOOOOK, UDAHHHHHHH,? gue mulai menggeliat-liat kaya penari erotis.
Dokter: *Plak* ?LU BOCAH BERISIK BANGET SIH!!?

Dokternya langsung jitak kepala gue? ya nggak lah, ngawur.

Dokter: ?Iya iya, ini jahitan yang terakhir ya dek...?
Gue: ?Adooohhhh....adooohhohoho....? gue merintih kesakitan.
Dokter: ?Nah, sudah selesai semuanya dek, tinggal diperban ya.?
Gue: ?Adooohoho, adoohoho...? gue masih merasakan keperihan.

Akhirnya, akhirnya selesai juga ya Tuhan.

Udah cukup, udah cukup gue menerima rasa pedih untuk hari ini. Dengan melewati perjuangan yang begitu berat dan menyakitkan, akhirnya semua tahap-tahap dari prosedur sunat pun bisa gue lalui dengan kemenangan. Tidak lupa, gue mau berterima kasih kepada keluarga dan sanak saudara yang ngedukung gue untuk menjalankan kewajiban ini, khususnya kepada nyokap gue yang selalu memanjatkan doa untuk kelancaran operasi kecil (baca: sunat) untuk gue pribadi.

Mungkin, dari cerita di atas ada pelajaran kecil yang bisa gue ambil. Kita janganlah takut dengan kewajiban yang ada di masa depan, tapi takutlah jika kita tidak melakukan, dan kita juga harus menerima atau mendengarkan baik semua dukungan, walaupun itu hanya sebatas sebuah perkataaan. Jadi, intinya janganlah takut untuk menghadapi masa depan, itulah jalanmu, dan itulah pilihanmu. Jalankan aja, selama do'a terus dipanjatkan. #senyum_seorang_psikolog_gadungan


reff : http://novatri9.blogspot.com/2014/05/dok-guntingnya-mana.html

Kisah Fabel Rubah dan Kelinci

Sebuah petani memiliki pertanian dan perternakan yang besar, pertaniannya terdiri dari tanaman jagung, umbi, ketela pohon, melon dan semangka sedangkan hewan peternakannya adalah sapi, domba, kerbau dan kelinci. Setiap hari hewan-hewan ternak itu digembalakan di lapangan yang luas, kecuali para kelinci mereka tidak digembalakan di lapangan luas tersebut tapi mereka dibuatkan sebuah tempat datar yang ditanami rumput dan sayuran namun tempat itu dikelilingi pagar besi. Para hewan ternak yang digembalakan di lapagan luas itu kerap saja di serang oleh para rubah dan serigala beberapa bulan terakhir sudah 4 ekor domba yang hilang karena dibawa oleh serigala, rubah sering membawa anak-anak domba yang masih kecil untuk dia mangsa.

Maka sang petani memutuskan untuk memelihara beberapa anjing gembala untuk melindungi para ternak dari serangan serigala. Kehadiran anjing-anjing tersebut memberikan dampak yang baik bagi hewan-hewan ternak mereka merasa aman akan kehadiran para anjing yang menjaganya dan para serigala harus berhati-hati jika ingin memangsa seekor domba karena mereka harus berhadapan langsung dengan anjing-anjing gembala.

Suatu hari seekor rubah berjalana menuju peternakan untuk mencari makanan, rubah itu menuju lapangan dimana dia bisa membawa seekor anak domba untuk dia makan, namun dari kejauhan dia melihat beberapa ekor anjing gembala yang ukurannya sangat besar sedang berjaga-jaga. Rubah tidak mau ambil resiko untuk menangkap seekor anak domba maka dia berpikir untuk mencari hewan ternak lain, setelah beberapa saat sang rubah mengalihkan perhatiannya ke tempat kandang-kandang hewan ternak.

Sang rubah mendatangi kandang-kandang hewan-hewan ternak itu dan memeriksanya satu persatu karena merasa aman dari para anjing sang rubah memeriksanya dengan santai dan kebetulan dia melihat beberapa ekor kelinci berbadan gemuk sedang mengunyah rumput-rumput di dalam kandang yang dikelilingi oleh pagar.

Rubah mencoba masuk ke kadang tersebut namun tubuhnya terlalu besar untuk dapat masuk ke sela-sela besi, seekor kelinci mendatangi sang rubah yang berusaha untuk masuk dan mengejek sang rubah, sang kelinci terus saja mengejek rubah hingga rubah merasa gusar, kelinci melihat sang rubah mencoba untuk meraihnya namun usahanya gagal dan sang kelincipun terus saja mengejeknya tanpa henti.

Sang rubah yang mendapatkan ejekan itu kini duduk dan melihat kearah sang kelinci dengan tatapan yang menakutkan lalu tidak lama kemudian sang rubah pergi meninggalkan kandang tersebut sambil berkata ?Tuan kelinci jika saja kau berada di luar sana memakan rumput dengan asiknya sambil menengok kanan dan kirimu, kemudian aku datang pastinya kau akan lari terbirit-birit. Jadi jangan khawatir tuan kelinci aku tidak akan dendam kepadamu karena yang meledeku bukanlah dirimu tapi kandang besi ini.? mendengar sang rubah berkata seperti itu sang kelinci diam lalu mengejeknya kembali. Sang rubah pergi tanpa menghiraukan sang kelinci.




reff : https://agusfiroziakbar.wordpress.com/2015/05/30/kisah-fabel-rubah-dan-kelinci/

Monday, January 25, 2016

Dongeng Anak – Anak Itik Buruk Rupa

itikPada zaman dahulu di sebuah peternakan hidup seekor induk itik. Ia sedang mengerami telurnya. Sudah tiba waktunya telur-telur itu menetas. Satu persatu enam ekor anak itik keluar dari telur. Induk itik menghitung, ada enam ekor anak itik. Tapi masih ada satu telur belummenetas. Telur itu lebih besar dari telur yang lain.

Induk itik mulai tidak sabar. Ia ingin membawa anak-anaknya mencari makanan, tapi ia harus menunggu telur terakhir itu menetas. Induk itik sudah ingin meninggalkan telur itu, tapi telur itu mulai pecah dan muncullah seekor anak itik.

Enam anaknya berbulu kuning, anak itik ini bulunya berwarna kelabu. Tubuhnya juga lebih besar, lehernya lebih panjang. Anak itik yang aneh sekali.

Meskipun heran melihat anak itik yang baru menetas itu, induk itik tetap sayang kepadanya. Ia membawa semua anaknya ke luar kandang untuk mencari makanan.

?Hai, ibu itik,? sapa seekor ayam. ?Anak-anak sudah menetas??

?Tapi mengapa yang satu itu jelek sekali??

?Selamat pagi, bu ayam.? kata induk itik sambil berjalan terus bersama tujuh anaknya.

Beberapa merpati sedang makan. Ketika keluarga itik lewat, mereka menyapa dengan ramah. Mereka juga bertanya mengapa anak itik itu berbeda dengan saudara-saudaranya.Induk itik balas menyapa, tapi tidak mengatakan apa-apa tentang anaknya.

Anak itik kelabu itu makan lebih banyak dari saudaranya dan tubuhnya cepat sekali bertambah besar. Makin ia besar, makin ia tampak berbeda dengan anak itik yang lain.

Tiap kali mereka berjalan-jalan di peternakan, hewan-hewan lain mengejek mereka. Induk itik hanya berjalan cepat-cepat sambil menunduk. Anak-anak itik lain merasa kesal karena ikut diolok-olok hewan lain. Mereka tidak mau bermain dengannya bahkan tidak mau dekat dengannya.

Induk itik menyayanginya seperti saudara-saudaranya, tapi anak itik tahu ibunya sedih karena ia jelek sekali. Ia sering menangis sedih ketika ibu dan saudaranya sudah tidur.

Pada suatu hari anak itik pergi meninggalkan peternakan. Ia berjalan sampai ke sebuah kolam. Di sana banyak burung sedang minum dan mandi.

?Apakah bapak atau ibu pernah melihat anak itik berbulu kelabu seperti aku?? tanya anak itik.

?Aku tidak pernah melihat anak itik yang bulunya kelabu seperti kamu,? kata seekor bangau.

?Setahuku, anak itik bulunya kuning,? kata burung kecil berbulu cokelat. ?Mungkin kamu bukan anak itik.?

Anak itik berjalan lagi. Tiap bertemu hewan lain, ia selalu bertanya apakah mereka pernah bertemu anak itik berbulu kelabu seperti dia. Tak satu pun pernah bertemu dengan anak itik yang mirip dengannya.

Anak itik menyesal sudah kabur dari peternakan, tapi ia juga tidak tahu jalan pulang. Ia berjalan saja terus, mencari makan seadanya dan tidur di dekat semak-semak.

Pada suatu pagi, anak itik masih tidur. Seorang nenek menangkapnya dan membawanya pulang. Nenek itu memasukkannya ke kandang ayam dan memberinya makanan.

?Kau sudah kenyang,? kata nenek. ?Sekarang bertelurlah.?Tiap hari nenek itu mengambil telur ayam di kandang. Ia juga memeriksa apakah anak itik bertelur.

Suatu hari, nenek itu melihat anak itik belum bertelur juga. ?Tak apa-apa kalau kamu tidak bisa bertelur,? katanya. ?Ayo makan lebih banyak supaya kamu gemuk.?

Anak itik bertanya kepada ayam-ayam betina tetangganya di kandang. ?Mengapa aku tidak bisa bertelur??

?Kamu itik jantan,? jawab seekor ayam cokelat sambil tertawa, ?Mana bisa kamu bertelur??

?Nenek mau membuatmu gemuk, kamu akan dipotong dan dimasak menjadi gulai,? kata seekor ayam putih.

Anak itik ketakutan. Sejak itu ia tidak mau makan. Tubuhnya menjadi kurus dan lemah. Pada suatu hari, setelah mengambil telur, nenek lupa menutup pintu kandang. Anak itik segera lari ke luar kandang dan pergi lauh-jauh.

Anak itik sampai di sebuah kolam besar. Udara sangat dingin, saat itu musim gugur. Sebentar lagi musim dingin. Beberapa jenis burung terbang ke daerah yang udaranya lebih hangat di selatan dan tinggal di sana selama musim dingin. Anak itik tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak dapat terbang ke selatan. Bahkan ia tidak tahu apakah itik juga terbang ke selatan.

Musim dingin tiba. Salju turun, udara sangat dingin. Kolam tempat tinggalnya membeku. Ia tidak dapat menemukan makanan. Akhirnya ia hanya diam saja, menggigil kedinginan.

Seorang petani datang. Ia mengambil anak itik itu. Anak itik ingat kepada nenek yang mau memasaknya. Ia ketakutan, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk melawan.

Petani itu membawanya pulang. Ia memanggil anak-anaknya. ?Lihat apa yang ayah temukan.,? katanya. ?Kasihan, ia hampir beku. Bawa dia ke tempat yang hangat dan berilah makanan.?

Anak-anak petani merawatnya dengan penuh sayang. Anak itik mejadi kuat kembali, bahkan bertambah gemuk dan sehat. Anak itik tidak berani melarikan diri karena sekarang masih musim dingin. Ia sudah bertekat, begitu udara tidak terlalu dingin, ia akan segera kabur. Ia tidak mau menjadi gulai itik.

Tapi ternyata ia salah sangka. Musim semi tiba. Petani dan anak-anaknya membawa anak itik ke kolam tempat ia ditemukan hampir mati beku.?Pergilah,? kata petani. Mereka menunggu anak itik masuk ke kolam lalu mereka pergi.

Anak itik berenang di kolam. Tiba-tiba sekawanan angsa datang dan mendarat di kolam. Bulu mereka putih bersih. Leher mereka panjang dan indah.

Anak itik takut mereka akan mengejeknya. Ia berenang menjauh. Tapi seekor angsa memanggilnya, ?Hai, kenapa kami tidak pernah melihatmu??
?Kamu tidak tinggal di sini?? tanya angsa lain

Angsa-angsa yang lain ikut memperhatikannya. Anak itik menunduk. Ia melihat bayangannya di permukaan kolam. Betapa terkejutnya ia, bukan anak itik jelek yang dilihatnya, tapi seekor burung putih cantik seperti angsa-angsa yang mengerumuninya. Anak itik yang buruk rupa tidak pernah menyadari bahwa ia sebenarnya adalah seekor angsa.

The post Dongeng Anak ? Anak Itik Buruk Rupa appeared first on Kumpulan Dongeng Indonesia.



reff : http://www.dongeng.web.id/dongeng-anak-anak-itik-buruk-rupa.html

Hikayat Putmaraga

Tersebutlah sebuah keluarga miskin yang tinggal di desa Kalampaian. Keluarga itu terdiri dari seorang ibu dan anak lelaki satu-satunya. Putmaraga nama anak lelaki itu. Sepeninggal sang ayah, kehidupan keluarga itu bertambah kesulitan. Kerap Putmaraga dan ibunya merasakan kekurangan.

Pada suatu malam ibu Putmaraga bermimpi didatangi seorang nenek renta. Si nenek renta berujar kepadanya, ?Galilah tanah di belakang rumahmu, di antara pohon nangka.?

Keesokan harinya ibu Putmaraga mengajak anaknya untuk menggali tanah di belakang rumahnya sesuai pesan nenek renta dalam impiannya. Tidak mereka duga, mereka menemukan sebuah guci Cina yang sangat besar. Isi guci besar itu membuat ibu Putmaraga dan Putmaraga amat tercengang. Mereka mendapati intan dan berlian yang sangat banyak jumlahnya di dalam guci.
Kumpulan Legenda Cerita Rakyat Dari Kalimantan Selatan

Kumpulan Legenda Cerita Rakyat Dari Kalimantan Selatan

Putmaraga memberikan usulnya, ?Kita bawa intan dan berlian ini kepada Kepala Suku. Kita tanyakan kepada beliau, kepada siapa kita hendaknya menjual intan dan berlian ini.?

Ibu Putmaraga setuju dengan usul anaknya. Mereka lantas membawa intan dan berlian temuan mereka itu kepada Kepala Suku.

Kepala Suku menyarankan agar mereka membawa intan dan berlian itu ke Medangkamulan. Katanya, ?Raja Medangkamulaan terkenal kaya raya. Ia tentu mampu membeli intan dan berlian kalian yang sangat mahal harganya ini.?

Ibu Putmaraga akhirnya meminta anaknya itu berangkat menuju Medangkamulan. Ia berpesan agar anaknya itu senantiasa bersikap jujur dan tidak sombong. ?Lekas engkau kembali setelah berhasil menjual intan dan berlian ini.?

Putmaraga berjanji akan mematuhi semua pesan ibunya. Dengan menumpang sebuah kapal besar milik seorang saudagar, Putmaraga akhirnya tiba di Medangkamulan. Benar seperti saran Kepala Suku, Raja Medangkamulan bersedia membeli intan dan berlian itu dengan harga yang pantas. Raja Medangkamulan malah menyarankan agar Putmaraga tinggal di Medangkamulan.

Putmaraga lantas berdagang. Usaha perdagangannya membuahkan hasil yang banyak baginya. Di Medangkamulan itu Putmaraga terus membesarkan usaha dagangnya hingga beberapa tahun kemudian Putmaraga telah dikenal sebagai seorang saudagar yang sangat berhasil. Ia adalah saudagar terkaya di Medangkamulan.

Raja Medangkamulan sangat terkesan dengan semangat dan usaha Putmaraga. Ia pun menikahkah salah satu putrinya dengan Putmaraga. Usaha dagang Putmaraga kian membesar setelah ia menjadi menantu Raja Medangkamulan.

Putmaraga menyatakan kepada istrinya bahwa ia masih mempunyai ibu. Ia bahkan menjanjikan kepada istrinya untuk menemuinya ibunya. Karena janjinya itu maka istrinya berulang-ulang menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan ibu Putmaraga itu. Karena terus didesak istrinya, Putmaraga tak lagi bisa mengelak. Ia segera memerintahkan kepada anak buahnya untuk menyiapkan kapal yang besar lagi mewah miliknya yang akan digunakannya untuk berlayar ke kampung halamannya.

Setelah berlayar beberapa waktu Iamanya, kapal besar lagi mewah milik Putmaraga itu akhirnya merapat di pelabuhan Banjar, di wilayah asal Putmaraga. Dalam waktu tak berapa lama kedatangan Putmaraga dengan kapal miliknya itu menyebar diketahui warga. Kekaguman warga pun tertuju pada Putmaraga, seseorang yang dahulu mereka kenal hidup miskin bersama ibunya.

Tak terkirakan gembira dan bahagianya hati Ibu Putmaraga ketika mendengar kedatangan anaknya. Sampan kecilnya segera dikayuhnya menuju tempat di mana kapal anaknya tengah merapat. Kerinduannya bertahun-tahun kepada anaknya itu hendak dituntaskannya. Seketika mendekati kapal yang besar lagi mewah itu, Ibu Putmaraga lantas menyebutkan kepada penjaga kapal, ?Saya ini ibu Putmaraga. Sampaikan kepada Putmaraga, saya ingin bertemu dengannya.?

Dari geladak kapalnya, Putmaraga melihat kedatangan ibunya. Mendadak ia merasa malu hati mengakui jika perempuan tua yang berpakaian lusuh lagi kumal itu adalah ibunya. Putmaraga menolak kedatangan ibunya dan bahkan memerintahkan kelasinya untuk mengusir ibunya. Katanya keras-keras seraya bertolak pinggang,

?Usir perempuan tua buruk rupa yang mengaku ibu kandungku itu! Ia bukan ibuku! Ia hanya mengaku-ngaku!?

Tak terkirakan terperanjatnya Ibu Putmaraga mendengar ucapan anaknya. Ia berusaha keras untuk menyadarkan anaknya, namun Putmaraga tetap juga menolak untuk mengakui sebagai anaknya. Bahkan, ketika istrinya pun turut menyadarkan, Putmaraga tetap bersikukuh jika perempuan tua itu bukan ibunya.

Ibu Putiparaga bergegas pulang ke rumahnya. Ia mengambil ayam bekisar jantan dan ikan ruan yang dahulu dipelihara Putmaraga. Seketika ia telah kembali ke kapal besar milik Putmaraga, ia pun menunjukkan dua hewan itu seraya berkata, ?Putmaraga anakku, Iihatlah dua binatang kesayanganmu ini. keduanya tetap Ibu rawat selama engkau pergi ke Medangkamulan. Apakah engkau masih tidak percaya jika aku ini ibumu??

?Tidak!? seru Putmaraga. ?Engkau bukan ibuku! Engkau hanya perempuan tua yang mengaku-ngaku sebagai ibuku karena menginginkan harta kekayaanku! Kelasi, usir perempuan tua itu dari kapalku ini!?

Putmaraga sangat jengkel karena melihat ibunya tetap berusaha menjelaskan jika ia adalah ibu Putmaraga. Karena jengkelnya, Putmaraga lantas melempari ibunya dengan kayu-kayu. Salah satu lemparan itu telak mengena ibunya hingga ibunya jatuh terpelanting.

Ibu Putmaraga merasa putus asa. Sakit benar hatinya mendapati sikap anaknya yang durhaka terhadapnya itu. Ia pun kembali ke rumahnya seraya mengayuh sampan kecilnya. Air matanya terus bercucuran ketika meninggalkan kapal milik anaknya itu. Dengan hati remuk redam, ia pun berdoa kepada Tuhan, ?Ya Tuhan, sadarkanlah kedurhakaan anak hamba itu.?

Seketika setelah ibu Putmaraga berdoa, alam tiba-tiba menampakkan kemarahannya. Langit yang semula cerah berubah menjadi amat gelap. Awan hitam bergulung-gulung. Kilat berkerjapan laksana merobek-robek langit yang disusul dengan gelegar petir berulang-ulang. Angin topan mendadak datang, menciptakan gelombang yang menderu-deru dengan kekuatan dahsyatnya. Semua kemarahan alam itu seperti tertuju pada Putmaraga yang kebingungan serta ketakutan di dalam kapal besar lagi mewahnya.

Kapal Putmaraga seketika itu digulung gelombang air berkekuatan dahsyat.

Sadarlah Putmaraga akan kedurhakaan besarnya terhadap ibu kandungnya. Ia pun berteriakteriak meminta ampun kepada ibunya. Namun, semuanya telah terlambat bagi Putmaraga. Kedurhakaan besarnya kepada ibunya tidak berampun.

Kapal besar lagi mewah itu sirna ditelan ombak besar bergulung. Seketika alam telah kembali tenang, kapal besar lagi mewah milik Putmaraga itu mendadak menjadi batu.




reff : https://agusfiroziakbar.wordpress.com/2015/05/30/hikayat-putmaraga/

Legenda Lembah Harau

Legenda Lembah Harau

Legenda ini menceritakan, dahulunya Lembah Harau adalah lautan. Apalagi berdasarkan hasil survey team geologi dari Jerman (Barat) pada tahun 1980, dikatakan bahwa batuan perbukitan yang terdapat di Lembah Harau adalah batuan Breksi dan Konglomerat. Batuan jenis ini umumnya terdapat di dasar laut.

*******

Pada zaman dahulu kala, salah satu air terjun di Lembah Harau, menurut legenda, Raja Hindustan berlayar bersama istri dan anaknya, Putri Sari Banilai. Perjalanan ini dalam rangka selamatan atas pertunangan putrinya dengan seorang pemuda Hindustan bernama Bujang Juaro. Sebelum berangkat, Sari Banilai bersumpah dengan tunangannya, apabila ia ingkar janji maka ia akan berubah menjadi batu dan apabila Bujang Juaro yang ingkar janji, maka ia akan berubah menjadi Ular.

Namun sayangnya, dalam perjalanan kapal tersebut terbawa oleh gelombang dan terdampar pada sebuah selat (tempat tersebut sekarang dinamakan Lembah Harau). Kapal tersebut tersekat oleh akar yang membelintang pada dua buah bukit hingga akhirnya rusak.

Agar tidak karam, kapal itu ditambatkan pada sebuah batu besar yang terdapat di pinggiran bukit (bukit tersebut sekarang dinamakan Bukit Jambu). Batu tempat tambatan kapal itu sekarang dinamakan Batu Tambatan Perahu.

Setelah terdampar, Raja Hindustan bersama dengan keluarganya disambut oleh Raja yang memerintah Harau pada waktu itu. Lama kelamaan, karena hubungan baik yang terjalin, Raja Hindustan ingin menikahkan putrinya dengan pemuda setempat bernama Rambun Paneh. Satu hal lagi, untuk kembali ke negeri Hindustan juga tidak memungkinkan. Ia tidak tahu sumpah yang telah diucapkan Sari Banilai dengan tunangannya, Bujang Juaro.
Tidak berapa lama kemudian, Rambun Paneh menikah dengan Sari Banilai.

Waktu terus berjalan, dan dari perkimpoian itu lahirlah seorang putra. Suatu hari, sang kakek, si Raja Hindustan, membuatkan mainan untuk cucunya. Sewaktu asyik bermain, mainan tersebut jatuh ke dalam laut. Anak tersebut menangis sejadi-jadinya. Ibunya, Putri Sari Banilai tanpa pikir panjang langsung terjun ke laut untuk mengambilkan mainan tersebut. Sungguh malang, ombak datang menghempaskan dan menjempit tubuhnya pada dua batu besar. Sari Banilai sadar, bahwa ia telah ingkar janji pada tunangannya dahulu, Bujang Juaro. Dalam keadaan pasrah, ia berdoa pada Yang Maha Kuasa, supaya air laut jadi surut. Doanya dikabulkan, tidak berapa lama kemudian air laut menjadi surut. Ia juga berdoa agar peralatan rumah tangganya didekatkan padanya. Dan ia berdoa, seandainya ia membuat kesalahan ia rela dimakan sumpah menjadi batu. Tidak lama berselang, perlahan-lahan tubuh Putri Sari Banilai berubah menjadi batu.

The post Legenda Lembah Harau appeared first on Kumpulan Dongeng Indonesia.



reff : http://www.dongeng.web.id/legenda-lembah-harau.html