Showing posts with label Cerita Rakyat Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Cerita Rakyat Nusantara. Show all posts

Monday, December 5, 2011

Legenda Rawa Pening (Cerita Dari Jawa Tengah)


Dahulu kala, warga desa Ngebel terkejut melihat seekor ular yang sangat besar. Karena takut ular itu akan menyerang mereka, warga desa beramai-ramai menangkap ular yang bernama Baru Klinting itu. Setelah tertangkap ular itu dibunuh dan dagingnya disantap dalam sebuah pesta. Hanya satu warga desa yang tidak mereka ajak menikmati pesta itu, yaitu seorang nenek tua miskin bernama Nyai Latung.

Beberapa hari kemudian muncul seorang anak laki-laki berumur sekitar sepuluh tahun. Ia tampak kumal dan tidak terawat, bahkan kulitnya pun ditumbuhi penyakit. Anak itu mendatangi setiap rumah dan meminta makanan kepada warga desa. Namun tak seorang pun memberinya makanan atau air minum. Mereka malah mengusirnya dan mencaci makinya.

Akhirnya ia tiba di rumah yang terakhir, rumah Nyai Latung. Di depan rumah reot itu Nyai Latung sedang menumbuk padi dengan lesung.

“Nenek,” kata anak itu, “Saya haus. Boleh minta air, nek?”

Nenek Latung mengambil segelas air yang diminum anak itu dengan lahap. Nyai Latung memandangi anak itu dengan iba.
“Mau air lagi? Kau mau makan? Tapi nenek cuma punya nasi, tidak ada lauk.”

“Mau, nek. Nasi saja sudah cukup. Saya lapar,” sahut anak itu.

Nenek segera mengambilkan nasi dan sisa sayur yang ada. Ia juga mengambilkan air lagi untuk anak itu, Anak itu makan dengan lahap, hingga tidak sebutir nasipun tersisa.

“Siapa namamu, nak? Di mana ayah ibumu?”

“Namaku Baru Klinting. Ayah dan ibu sudah tiada.”

“Kau tinggal saja di sini menemani nenek,”

“Terima kasih, nek. Tapi saya pergi saja. Orang-orang di sini jahat, nek. Hanya nenek saja yang baik hati kepadaku.”

Baru Klinting kemudian bercerita tentang warga desa yang tidak ramah kepadanya. Kemudian, ia pun pamit. Sebelum pergi, ia berpesan kepada Nyai Latung.

“Nek, nanti jika nenek mendengar suara kentongan, nenek naiklah ke atas lesung. Nenek akan selamat.”

Meskipun tidak mengerti maksud Baru Klinting, Nyai Latung mengiyakan saja.

Baru Klinting masuk ke desa lagi. Ia mendatangi anak-anak yang sedang bermain. Ia mengambil sebatang lidi lalu menancapkannya di tanah. Lalu ia memanggil anak-anak.

“Ayo... siapa yang bisa mencabut lidi ini?”

Anak-anak mengejek Baru Klinting namun ketika satu per satu mereka mencoba mencabut lidi, tak ada yang berhasil. Mereka pun memanggil anak-anak yang lebih besar. Semua mencoba, semua gagal. Orang-orang dewasa pun berkumpul dan mencoba mencabut lidi. Tetap tidak ada yang berhasil.

Akhirnya Baru Klinting sendiri yang mencabut sendiri lidi itu. Dari lubang di tanah bekas menancapnya lidi memancar air yang makin lama makin banyak dan makin deras. Orang-orang berlarian kalang kabut, Salah seorang membunyikan kentongan sebagai tanda bahaya. Namun air cepat menjadi banjir dan menenggelamkan seluruh desa.

Nyai Latung mendengar bunyi kentongan di kejauhan, Ia teringat pesan Baru Klinting dan segera naik ke atas lesung. Baru ia duduk di dalam lesung, air sudah datang dan makin tinggi. Lesung itu terapung-apung. Nyai Latung melihat para tetangganya sudah mati tenggelam.

Setelah beberapa lama, air berhenti naik dan perlahan-lahan mulai surut. Lesung Nyai Latung terbawa menepi sehingga ia dapat naik ke darat. Hanya ia yang selamat dari banjir. Warga desa yang lain semuanya tewas.

Air tidak seluruhnya kering kembali namun meninggalkan genangan luas berbentuk danau yang sekarang disebut Rawa Pening. Rawa Pening terletak di daerah Ambarawa.

Rawa Pening luasnya 2670 hektare. Sekarang digunakan untuk pengairan dan budi daya ikan selain juga menjadi tempat wisata. Enceng gondok yang memenuhi permukaannya digunakan untuk bahan kerajinan dan keperluan lain. Sedangkan air sungai Tuntang yang berhulu di danau itu digunakan untuk pembangkit listrik. Namun sekarang Rawa Pening mengalami pendangkalan dan dikhawatirkan lambat laun akan lenyap bila tetap dibiarkan seperti saat ini.

Saturday, November 12, 2011

Legenda Telaga Pasir

Dahulu kala, hiduplah sepasang suami isteri petani bernama Ki dan Nyai Pasir. Mereka hidup berdua saja karena tidak mempunyai anak. Mereka hidup bahagia   walaupun sederhana.

Pada suatu hari, Ki Pasir duduk melepas lelah setelah mencangkul  di sawah. Ia bersandar pada pohon besar di pinggiran sawah. Tiba-tiba tangannya meraba sesuatu yang bulat dan licin di sampingnya. Dilihatnya ternyata sebutir telur yang tidak biasa. Telur itu lebih besar dari telur angsa.

“Telur apa ini?” katanya dalam hati. “Ah, biar saja, telur ya telur. Kebetulan  si Nyai tadi bilang kita kehabisan lauk.”

Dibawanya telur itu pulang. Ki Pasir bahkan tak ingat lagi untuk menyelesaikan mencangkul sawahnya. Ia ingin segera memberikan telur itu kepada isterinya.

Setiba di rumah, dipanggilnya isterinya, “Nyai. Lihat apa yang kubawa ini.”

Nyai Pasir juga terheran-heran melihat telur yang aneh itu.

“Dapat dari mana Ki? Ini telur apa?” tanyanya.

“Sudah,” jawab Ki Pasir, “Jangan bertanya terus, aku juga tidak tahu telur apa itu.”

“Lebih baik segera kau masak saja. Aku sudah lapar.”

Nyai Pasir memasak telur itu dan menghidangkannya di meja makan. Ia membagi telur menjadi dua dan mereka pun memakannya bersama nasi. Telur itu lezat sekali, lebih gurih daripada telur ayam.

Beberapa saat setelah makan, mereka berdua beristirahat dan tidur. Sekitar tengah malam Nyai Pasir terbangun karena merasakan tubuhnya panas dan kulitnya gatal. Ia melihat suaminya tidak ada di sampingnya, maka ia pun mencarinya ingin minta tolong.

Ketika tidak menemukan suaminya di dalam rumah, ia pun pergi ke halaman rumah. Di sana dilihatnya Ki Pasir sedang berguling-guling di tanah. Rupanya suaminya juga merasakan panas dan gatal akibat makan telur besar itu.

Nyai Pasir menghampiri suaminya ingin menolong. Namun apa daya, setiba tiba di samping Ki Pasir ia tak kuat menahan rasa panas dan gatal di sekujur tubuhnya. Ia pun menjatuhkan diri di tanah dan berguling-guling seperti Ki Pasir.

Mereka terus berguling-guling di tanah hingga membentuk lubang yang makin lebar dan dalam. Kemudian dari dalam lubang di tanah itu keluar air sehingga membentuk sebuah danau.  Ki Pasir dan Nyai Pasir tenggelam di dalam danau, namun sebagai gantinya muncul sepasang naga besar yang menakutkan.  Orang-orang sering melihat pasangan naga itu di sekitar danau yang kemudian dikenal sebagai telaga Pasir.

Telaga Pasir saat ini lebih dikenal dengan nama telaga Sarangan, sebuah tempat wisata  yang terletak di lereng gunung Lawu, Magetan Jawa Timur. 

Thursday, November 3, 2011

Kisah Kancil dan Buaya


Pada suatu hari, kancil  sedang minum di tepi sungai, ketika seekor buaya menggigit kakinya. Beberapa buaya lain juga berenang mendekat. Kancil tahu ia harus segera menemukan akal untuk menyelamatkan diri.

“Halo bapak buaya,” kata kancil sambil menyembunyikan suaranya yang  gemetar. “Kebetulan kita bertemu di sini, jadi aku tidak perlu memanggil kalian.”

Para buaya bingung, mengapa kancil ingin bertemu dengan mereka? Buaya yang menggigit kaki kancil bahkan sudah melepaskan gigitannya. Kancil bisa saja melarikan diri, namun ia tahu buaya dapat bergerak dengan sangat cepat. Ia pasti tertangkap lagi.

“Begini, bapak ibu,” lanjut kancil. “Aku diperintah oleh Baginda Raja untuk menghitung jumlah penduduk hutan ini. Berapa jumlah semua buaya di sungai ini?”

Para buaya saling berpandang-pandangan. Mereka tidak tahu berapa jumlah buaya yang ada di sana.

Kancil menunggu sejenak.

“Kalian tidak tahu?”

Para buaya menggeleng.

“Baiklah.” kata kancil. “Panggil semua buaya kemari.”

Semua buaya dipanggil. Kancil pun mulai menghitung buaya sambil menunjuk-nunjuk. Ia tampak kesulitan menghitung.

“Lebih baik kalian berjajar dari sini ke seberang sana. Aku akan lebih mudah menghitung kalian.”

Para buaya sibuk berjajar. Kancil kemudian menghitung mereka dengan melompat-lompat dari punggung buaya yang satu ke yang lain.

“Satu... dua... tiga... sembilan belas... tiga puluh satu... enam puluh... enam puluh satu, dan terakhir, enam puluh dua!” kata kancil sambil melompat ke tepi
sungai di seberang.

Namun kancil kelihatan bingung. Ia bergumam keras-keras, “Berapa ya tadi? Enam puluh dua atau enam puluh tiga?”

Para buaya mulai beranjak dari barisannya.

“Eh,” kata kancil. “Jangan bubar dulu. Lebih baik kuhitung sekali lagi.”

Kancil pun kembali melompat-lompat menghitung buaya kembali ke tepi sungai tempat tadi ia minum.

“Lima puluh sembilan... enam puluh... enam puluh satu... enam puluh dua!”

“Ternyata benar jumlahnya enam puluh dua. Sekarang aku harus melapor kepada Baginda. Terima kasih ya!”

Ia pun lari ke dalam hutan. Karena akalnya yang cerdik, kancil sekali lagi lolos dari bahaya.

Friday, September 16, 2011

Kancil dan Harimau



Pada suatu hari kancil bertemu dengan harimau di hutan. Harimau berkata, “ Kata sepupuku daging kancil sangat lezat. Sekarang aku punya kesempatan untuk mencicipinya.”

Kancil menoleh ke kanan dan kiri, ia harus menemukan akal agar harimau tidak dapat menangkapnya. Lalu ia melihat segumpal  lumpur di bawah pohon.

“Jangan,” kata kancil. “Aku sedang menjaga kue Baginda Raja.”

Ia menggerakkan bahunya ke arah gumpalan lumpur itu.

Harimau sangat lapar, melihat gumpalan lumpur itu, menitiklah air liurnya.
“Kue raja? Nampaknya enak sekali. Aku mau mencobanya.”

“Jangan. Nanti Baginda Raja marah,” kata kancil sambil menghadang harimau di depan lumpur.

“Sedikit saja,” kata harimau.

“Tidak.”

 “Ayolah, raja tidak akan tahu, aku makan sedikit saja.”

“Hmmm... Baiklah, tapi biarkan aku pergi dulu, aku tidak mau disalahkan.”

“Pergilah.”

Kancil pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melesat pergi.

Harimau segera menerkan kue sang raja dan menggigitnya.

“Puuaahh!” Harimau memuntahkan lumpur dari mulutnya.

“Ini lumpur!” kata harimau. “Awas kau kancil, kalau aku bertemu denganmu lagi , aku takkan mengampunimu!”

Esok harinya, kancil kembali bertemu dengan harimau.

“Nah. Jadi juga aku makan daging kancil.”

Kancil kembali mencari akal. Kebetulan ia melihat sarang lebah yang letaknya tidak tinggi.

“Kau tidak tahu, aku sekarang sedang menunggui tambur Baginda Raja? Kalau aku meninggalkan tugasku, seseorang pasti menabuhnya, dan Baginda Raja marah besar.”

“Ah, kau bohong. Mana ada tambur raja di sini?”

“Tentu saja ada. Itu, tuh. Di situ.”

Harimau melihat benda bulat yang tergantung di dahan pohon yang rendah.

“Benar juga kata kancil,” katanya dalam hati. “Tambur milik sang raja, bagaimana bunyinya ya?”

“Kancil,” kata harimau, “Aku tabuh tamburnya ya?”

“Jangan, nanti Baginda Raja marah.”

“Kalau begitu kau pergi dulu, baru aku menabuhnya. Dengan begitu kau tak kena marah.”

“Baiklah. Ingat, tunggu sampai aku agak jauh baru kau menabuh tambur itu, ya?”

Kancil pun lagi-lagi lolos dari bahaya. Ia segera melarikan diri.

Harimau menunggu beberapa saat kemudian mendekati sarang lebah itu. Ia memukulnya sekuat tenaga, berharap mendengar suara tambur yang merdu dan keras. Namun tambur itu hancur berantakan. Dari dalamnya muncul ribuan lebah yang menyengatnya tanpa ampun.

“Nggg! Nggg! Nggg!” Lebah-lebah terus mengejar harimau.

“Aduh! Aduh! Awas kau kancil, kau menipuku lagi!”

Harimau berlari namun lebah-lebah yang marah itu tetap mengejar dan menyengatnya. Harimau akhirnya menceburkan diri ke dalam kolam. Barulah lebah-lebah itu meninggalkannya. Seluruh tubuh harimau bengkak-bengkak akibat sengatan lebah.

Beberapa  hari kemudian, harimau melihat kancil sedang berbaring di bawah pohon. Tanpa menunggu lagi, ia menerkam kancil.

Kancil meronta,”Lepaskan aku! Gara-gara kau aku dimarahi Baginda Raja. Beliau memberikan kesempatan terakhir. Kalau aku gagal lagi menjalankan tugasku, tamatlah riwayatku.”

“Tugas apa? Jangan kaupikir bisa menipuku lagi. Kali ini aku benar-benar makan daging kancil.”

“Kau tidak melihat aku sedang menjaga ikat pinggang Baginda Raja?”

“Ikat pinggang? Mana?”

“Tuh, di bawah pohon beringin itu.”

Harimau mendekati pohon beringin. Benar ia melihat ikat pinggang besar yang cantik tergulung di sana. Harimau mendekati kancil lagi.

“Bagus sekali. Pasti aku cocok memakainya. Aku coba ya?”

“Tidak boleh!”

“Sebentar saja, tidak akan ada yang tahu.”

“Tidak.”

“Aku akan mencoba ikat pinggang itu lalu meletakkannya kembali.”
“Hmmm,” kancil pura-pura berpikir keras.

“Ayolah.”

“Kau begitu ingin mencoba ikat pinggang itu. Aku tidak tega menolaknya,” kata kancil. “Baiklah, tapi kau harus cepat. Jangan sampai ada yang melihat kau memakainya”

Harimau mengangguk-angguk penuh semangat. Ia pun segera mengambil ikat pinggang raja dan melingkarkannya di pinggangnya. Betapa terkejutnya ia melihat bahwa itu bukan ikat pinggang tetapi ular besar! Ular itu langsung membelitnya dan makin lama belitannya makin kencang.

Harimau meronta-ronta namun tak dapat melepaskan diri. Nafasnya pun mulai terasa sesak. Akhirnya ia coba menggigit ekor ular. Ular kesakitan dan mengendurkan belitannya sehingga harimau dapat melepaskan diri.

Kancil sudah tak tampak lagi.

Friday, July 22, 2011

Timun Emas (Cerita Dari Jawa Tengah)



Dahulu kala hiduplah sepasang suami isteri. Mereka hidup bertani. Sayang sekali mereka tidak dikaruniai anak.

Tak henti-hentinya mereka berdoa agar mendapat seorang anak. Pada suatu hari lewatlah seorang raksasa. Ia mendengar doa mereka. Karena kasihan, ia memberikan sebutir biji ketimun dan menyuruh mereka menanamnya. Ia berpesan, “Ingat, kalian harus mengembalikan anak kalian kepadaku bila nanti ia sudah dewasa.”

Suami istri itu menanam biji ketimun dan merawat tanaman ketimun itu dengan penuh harap.  Pada suatu hari tumbuh sebuah ketimun yang berbeda dengan buah ketimun biasa. Buah ketimun itu tumbuh menjadi sangat besar dan berwarna keemasan. Ketika buah ketimun itu sudah cukup masak, mereka memetiknya dan membelahnya. Di dalam buah ketimun besar itu ada seorang bayi perempuan yang cantik.

Bayi itu mereka beri nama Timun Emas. Ia tumbuh menjadi anak perempuan yang cantik dan cerdas. Walaupun orang tuanya sangat senang, mereka juga khawatir raksasa akan datang dan meminta anak itu kembali.

Timun Emas sekarang berumur lima belas tahun. Ia sudah menjadi gadis remaja yang cantik. Pada suatu hari, raksasa datang. “Petani, sudah saatnya kauberikan anakmu kepadaku.”

“Raksasa,” kata pak tani, “Anakku Timun Emas sedang ke kebun, tunggulah, istriku akan memanggilnya.”

Sementara itu istri petani membekali Timun Emas dengan sebuah kantung kain kecil. “Nak,” katanya, “bawalah ini. Di dalam kantung ini ada benda-benda yang dapat menyelamatkanmu dari sang raksasa. Sekarang kau larilah,” 
katanya sambil mendorong Timun Emas keluar dari pintu belakang.

Raksasa menunggu lama sekali, namun Timun Emas tidak kunjung kembali ke rumah. Akhirnya ia sadar bahwa pasangan suami istri itu membohonginya.
Raksasa mengamati sekelilingnya. Mula-mula ia tidak melihat apa-apa. Kemudian ia melihat semak-semak bergerak-gerak di kejauhan. Lalu ia melihat Timun Emas lari. Raksasa pun segera mengejarnya.

Timun Emas melihat raksasa mendekat. Ia meraba-raba dalam kantung dan menemukan segenggam garam. Ia melemparkan garam itu ke depan raksasa. Tiba-tiba di depan raksasa terbentang laut yang luas. Raksasa menyeberanginya dan dalam sekejab ia sudah mengejar Timun Emas lagi.

Timun Emas mencari-cari dalam kantungnya. Ia menemukan segenggam cabai. Cabai itu ia lemparkan ke depan raksasa dan menjelma menjadi hutan yang lebat. Sulur-sulur tumbuhan menjerat tangan dan kaki raksasa namun ia dapat memutuskannya dan kembali mengejar Timun Emas.

Timun Emas kembali mencari dalam kantungnya, ia menemukan segenggam biji ketimun. Biji-biji itu ia lemparkan ke arah raksasa langsung tumbuh menjadi hutan ketimun dengan buah yang banyak dan ranum. Raksasa tak dapat menahan diri dan langsung memakan semua buah ketimun. Ia pun kekenyangan dan mengantuk. Raksasa tertidur. Timun Emas kembali berlari.

Namun tak lama kemudian raksasa terbangun dan kembali mengejar. Timun Emas mengguncang-guncang kantung pemberian ibunya. Isinya hanya satu benda lagi. Semoga kali ini ia berhasil menyelamatkan diri dari raksasa. Dengan gemetar ia mengeluarkan benda yang ada dalam kantung. Ternyata di tangannya ada segumpal terasi. Dapatkah terasi menyelamatkannya? Ini kesempatannya yang terakhir. Ia pun melemparkan terasi ke depan raksasa. Terasi menjelma menjadi rawa-rawa berlumpur pekat. Raksasa tercebur ke dalam lumpur. Mula-mula ia terbenam sedalam lutut, makin ia bergerak, makin dalam ia tenggelam. Raksasa menjadi marah dan makin berontak. Bukannya terbebas dari lumpur, ia justru tenggelam di dalam lumpur.

Timun Emas menenangkan diri. Ia takut raksasa akan muncul kembali dari dalam kubangan lumpur. Cukup lama ia menunggu, raksasa tidak muncul. Timun Emas pun pulang ke rumah orang tuanya. Mereka sudah terbebas dari ancaman raksasa.


Monday, July 11, 2011

Kisah Kancil dan Pak Tani


Seekor kancil hidup di tepi hutan. Ia suka makan buah-buahan, akar-akaran dan tunas pohon. Namun ia lebih menyukai sayuran di ladang pak tani.
Pada suatu hari kancil pergi ke ladang pak tani. Ia melihat ketimun yang sudah siap dipetik. Ia langsung mengambil sebuah dan memakannya. Ia lalu berjalan untuk mengambil sebuah lagi, namun kakinya terkena jerat. Ia meronta dan menarik-narik jerat itu namun tak berhasil melepaskan diri.
Kemudian ia melihat pak tani mendekat. Ia lalu berbaring di tanah dan mengakukan badannya seolah-olah mati.
Pak tani menyentuh tubuh kancil dengan kakinya. Kancil tak bergerak. Pak tani pun melepaskan jerat dari kaki kancil dan melemparkan tubuh kancil ke luar ladang. Begitu tubuhnya menyentuh tanah, kancil melompat dan lari.
Di belakangnya kancil mendengar pak tani berteriak, “Dasar nakal, dia menipuku!”
Beberapa hari kemudian kancil kembali pergi ke ladang. Ia ingin makan ketimun lagi. Ia melihat pak tani berdiri di sudut ladang. Ketika ia perhatikan ternyata itu bukan pak tani tapi orang-orangan sawah.
“Hanya boneka!” kata kancil. “Pak tani bodoh, ia mengira aku takut kepada boneka ini? Akan kutunjukkan betapa takutnya aku!”
Kancil menghampiri orang-orangan sawah itu dan memukulnya keras-keras. Namun tangannya menempel pada orang-orangan sawah. Pak tani telah melumuri boneka itu dengan getah karet yang lengket.
“Lepaskan aku!” kata kancil. Ia meronta-ronta. Kemudian ia mendorong boneka  dengan tangan yang sebelah lagi. Tangan itu juga menempel pada orang-orangan sawah.
Kancil terus meronta, dan akhinya ia mendorong boneka itu dengan kedua kakinya. Kakinya juga menempel. Ia terperangkap.
Kemudian ia melihat pak tani, ia mencoba mencari akal agar dapat meloloskan diri, namun gagal.
“Kau baik sekali mau datang lagi,” kata pak tani.
Ia melepaskan kancil dari orang-orangan sawah dan membawanya pulang. Pak tani mengurung kancil dalam sebuah kandang ayam kosong di halaman rumah.
“Kau tunggu di sini aja,” kata pak tani, “Besok kau akan menjadi makan malam kami.”
Kancil tidak dapat tidur. Ia mencari-cari akal untuk melarikan diri, namun tak satu gagasan pun muncul di kepalanya. Saat matahari terbit, kancil berbaring putus asa.
“Wah, wah, si kancil. Kau tertangkap juga akhirnya!”
Itu suara anjing peliharaan pak tani.
“Apa maksudmu? Pak tani tidak menangkapku.”
“Lalu kenapa kau ada di dalam kandang ayam?”
“Karena tidak ada kamar kosong di rumah. Kau tahu, pak tani mengadakan pesta besok. Aku akan menjadi tamu kehormatan.”
“Kau, tamu kehormatan?” kata anjing. “Aku telah bertahun-tahun mengabdi padanya dan kau cuma pencuri. Seharusnya akulah yang menjadi tamu kehormatan!”
“Benar juga,” kata kancil. “Kalau begitu, kau gantikan aku saja di sini. Jika pak tani melihatmu di sini, kaulah yang akan dijadikan tamu kehormatan.”
“Kau tidak keberatan?” tanya anjing.
“Tentu saja tidak. “
Sang anjing mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada kancil.
Maka anjing itu mengangkat kandang ayam dan membiarkan kancil keluar, kemudian ia sendiri masuk ke dalamnya.
Kancil lari ke tepi hutan. Ia mengamati rumah pak tani. Ia melihat pak tani mendekati kandang ayam dan kemudian ia mendengar pak tani berkata.”Kau anjing bodoh. Kau melepaskan kancil.”

Saturday, June 25, 2011

Legenda Danau Toba (Sumatera Utara)


Dahulu kala hiduplah seorang pemuda sebatang kara. Namanya Toba. Ia memiliki sebuah lahan pertanian kecil yang dikerjakannya dengan rajin.

Toba sering pergi menangkap ikan dengan jala di sungai dekat rumahnya. Pada suatu sore ia pergi mencari ikan. Sudah berkali-kali ia menebar jala namun tak satupun ikan didapatnya. Hari pun sudah mulai gelap. Akhirnya ia berkata dalam hati, “Biar kucoba melempar jala ini sekali lagi. Bila tidak dapat ikan lagi, aku pulang saja.” 

Ternyata kali ini usahanya membawa hasil. Seekor ikan mas besar terperangkap dalam jalanya. Toba pun pulang dengan hati gembira.

Sesampai di rumah, Toba bersiap-siap memasak ikan itu. Namun ia terperanjat melihat ikan itu mengedipkan matanya. Lama ia memandangi ikan itu. Ikan itu tidak pernah berkedip lagi. “Aku pasti salah lihat tadi, mana mungkin ikan mengedipkan mata,” pikir Toba. Namun makin lama dipandanginya, Toba melihat ikan itu indah sekali. Warnanya agak merah keemasan, sisik-sisiknya pun nampak lebih mengkilat. Akhirnya ia mengurungkan niatnya menyantap ikan itu. Ikan itu diletakkannya dalam tempayan dan diberinya makanan.

Esok harinya Toba ke ladang seperti biasa. Menjelang sore ia pulang. Sesampai di rumah ia ke dapur ingin mengambil jala. Betapa terkejutnya ia melihat makanan telah siap di atas meja. 

Ia heran, “Siapa yang memasak?” Namun perutnya yang lapar membuatnya segera makan tanpa banyak berpikir. Setelah makan ia pun sangat mengantuk dan segera tidur.

Keesokan harinya Toba pergi ke ladang dan ketika pulang ia lagi-lagi mendapati makanan lezat di meja dapur. Ia makan dengan lahap, dan kemudian ia pun segera pergi tidur.

Pada hari ketiga, Toba berpura-pura pergi ke ladang. Ia ke luar rumah lalu bersembunyi di balik semak-semak di dekat rumahnya. Tak lama kemudian ia melihat asap dari dapur rumahnya. Ia pun bergegas kembali ke rumah. Betapa terkejutnya ia melihat seorang wanita cantik jelita sedang memasak.

“Siapakah kau? Mengapa kau memasak untukku?” tanya Toba.

“Aku ikan mas yang kau tangkap di sungai. Kau tidak membunuhku, jadi sekarang aku membalas budi dengan memasak untukmu,” jawab wanita itu.

Toba jatuh cinta kepada wanita itu. Beberapa hari kemudian ia pun memintanya menjadi isterinya.

Wanita itu menerima pinangan Toba dengan satu syarat. “Kau harus bersumpah, kau tidak akan pernah mengatakan bahwa aku berasal dari ikan.”

Toba bersumpah dan mereka pun menikah dan hidup berbahagia. Kebahagiaan mereka bertambah ketika anak laki-laki mereka lahir. Anak itu diberi nama Samosir.

Samosir sangat dimanjakan ibunya sehingga tumbuh menjadi anak yang nakal. Ia juga selalu lapar. Makanan apa saja dihabiskannya.

Pada suatu siang, Samosir disuruh ibunya mengantarkan makanan untuk ayahnya di ladang. Ibunya sudah menyiapkan bungkusan nasi dan air.

Siang itu panas terik. Toba kepanasan dan kehausan. Ia girang melihat anaknya datang membawakan nasi dan air untuknya. Namun betapa kecewanya ia ketika melihat isi bungkusan hanya sisa-sisa nasi dan tulang ayam. Ia pun meraih botol air. Ternyata hanya tersisa beberapa tetes air.

“Samosir anakku, mengapa ibumu menyuruhmu membawa makanan seperti ini?”

Samosir pun bercerita, “Aku lapar, ayah. Tadi aku makan nasi ayah sedikit.”

Toba murka. “Anak nakal. Dasar kau anak ikan!”

Samosir terkejut. Toba juga merasa bersalah, namun sudah terlambat.

Sambil menangis Samosir berlari pulang.

“Ibu! Ibu!” panggilnya.

Ibunya bertanya, “Mengapa kau menangis, nak?”

Samosir bercerita tentang kejadian di ladang tadi. Ibunya berkata,”Sekarang kita harus kembali ke asal kita, nak. Ayahmu telah melanggar sumpahnya.”

Pada saat itu cuaca tiba-tiba menjadi mendung dan segera turun hujan yang sangat lebat disertai petir dan kilat. Samosir dan ibunya lenyap.

Hujan terus turun hingga seluruh lembah digenangi air. Genangan air itu kemudian membentuk sebuah danau dengan sebuah pulau kecil. Danau itu disebut danau Toba dan pulau di tengahnya disebut pulau Samosir.


Saturday, June 11, 2011

Kisah Ande-Ande Lumut (Cerita Rakyat Jawa Timur)

Dahulu kala, ada dua buah kerajaan, Kediri dan Jenggala. Kedua kerajaan itu berasal dari sebuah kerajaan yang bernama Kahuripan. Raja Erlangga membagi kerajaan itu menjadi dua untuk menghindari perang saudara. Namun sebelum meninggal raja Erlangga berpesan bahwa kedua kerajaan itu harus disatukan kembali. 

Maka kedua raja pun bersepakat menyatukan kembali kedua kerajaan dengan menikahkan putera mahkota Jenggala, Raden Panji Asmarabangun dengan puteri Kediri, Dewi Sekartaji.
Ibu tiri Sekartaji, selir raja Kediri, tidak menghendaki Sekartaji menikah dengan Raden Panji karena ia menginginkan puteri kandungnya sendiri yang nantinya menjadi ratu Jenggala. Maka ia menyekap dan menyembunyikan Sekartaji dan ibunya.

Pada saat Raden Panji datang ke Kediri untuk menikah dengan Sekartaji, puteri itu sudah menghilang. Raden Panji sangat kecewa. Ibu tiri Sekartaji membujuknya untuk tetap melangsungkan pernikahan dengan puterinya sebagai pengganti Sekartaji, namun Raden Panji menolak.

Raden Panji kemudian berkelana. Ia mengganti namanya menjadi Ande-Ande Lumut. Pada suatu hari ia tiba di desa Dadapan. Ia bertemu dengan seorang janda yang biasa dipanggil Mbok Randa Dadapan. Mbok Randa mengangkatnya sebagai anak dan sejak itu ia tinggal di rumah Mbok Randa. 

Ande-Ande Lumut kemudian minta ibu angkatnya untuk mengumumkan bahwa ia mencari calon isteri. Maka berdatanganlah gadis-gadis dari desa-desa di sekitar Dadapan untuk melamar Ande-Ande Lumut. Tak seorangpun ia terima sebagai isterinya.

Sementara itu, Sekartaji berhasil membebaskan diri dari sekapan ibu tirinya. Ia berniat untuk menemukan Raden Panji. Ia berkelana hingga tiba di rumah seorang janda yang mempunyai tiga anak gadis, Klething Abang, Klething Ijo dan si bungsu Klething Biru. Ibu janda menerimanya sebagai anak dan diberi nama Klething Kuning.

Klething Kuning disuruh menyelesaikan pekerjaan sehari-hari dari membersihkan rumah, mencuci pakaian dan peralatan dapur. Pada suatu hari karena kelelahan Klething Kuning menangis. Tiba-tiba datang seekor bangau besar. Klething Kuning hampir lari ketakutan. Namun bangau itu berkata, “Jangan takut, aku datang untuk membantumu.”

Bangau itu kemudian mengibaskan sayapnya dan pakaian yang harus dicuci Klething Kuning berubah menjadi bersih. Peralatan dapur juga dibersihkannya. Setelah itu bangau terbang kembali.

Bangau itu kembali setiap hari untuk membantu Klething Kuning. Pada suatu hari bangau menceritakan tentang Ande-Ande Lumut kepada Klething Kuning dan menyuruhnya pergi melamar.

Klething Kuning minta ijin kepada ibu angkatnya untuk pergi ke Dadapan. Ibunya mengijinkan ia pergi bila pekerjaannya sudah selesai. Ia pun sengaja menyuruh Klething Kuning mencuci sebanyak mungkin pakaian agar ia tidak dapat pergi.

Sementara itu ibu janda mengajak ketiga anak gadisnya ke Dadapan untuk melamar Ande-Ande Lumut. Di perjalanan mereka tiba di sebuah sungai yang sangat lebar. Tidak ada jembatan atau perahu yang melintas. Mereka kebingungan. Lalu mereka melihat seekor kepiting raksasa menghampiri mereka.

“Namaku Yuyu Kangkang. Kalian mau kuseberangkan?”

Mereka tentu saja mau.

“Tentu saja kalian harus memberiku imbalan.”

“Kau mau uang? Berapa?” tanya ibu janda. 

“Aku tak mau uangmu. Anak gadismu cantik-cantik. Aku mau mereka menciumku.’

Mereka terperanjat mendengar jawaban Yuyu Kangkang. Namun mereka tidak mempunyai pilihan lain. Akhirnya mereka setuju. Kepiting raksasa itu menyeberangkan mereka satu persatu dan mereka pun memberikan ciuman sebagai imbalan.

Sesampainya di rumah mbok Randa, mereka minta bertemu dengan Ande-Ande Lumut.
Mbok Randa mengetuk kamar Ande-Ande Lumut, katanya, “Puteraku, lihatlah, gadis-gadis cantik ini ingin melamarmu. Pilihlah satu sebagai isterimu.”

“Ibu,” sahut Ande-Ande Lumut, “Katakan kepada mereka, aku tidak mau mengambil kekasih Yuyu Kangkang sebagai isteriku.”

Ibu Janda dan ketiga anak gadisnya terkejut mendengar jawaban Ande-Ande Lumut. 
Bagaimana pemuda itu tahu bahwa mereka tadi bertemu dengan kepiting raksasa itu? Dengan kecewa mereka pun pulang.

Di rumah, Klething Kuning sudah menyelesaikan semua tugasnya berkat bantuan bangau ajaib. Bangau itu memberinya sebatang lidi.

Ketika ibu angkatnya kembali Klething Kuning sekali lagi meminta ijin untuk pergi menemui Ande-Ande Lumut. Ibu angkatnya terpaksa mengijinkan, namun ia sengaja mengoleskan kotoran ayam ke punggung Klething Kuning.

Klething Kuning pun berangkat. Tibalah ia di sungai besar. Kepiting raksasa itu mendatanginya untuk menawarkan jasa membawanya ke seberang sungai. 

“Gadis cantik, kau mau ke seberang? Mari kuantarkan,” kata Yuyu Kangkang

“Tidak usah, terima kasih” kata Klething Kuning sambil berjalan menjauh.

“Ayolah, kau tak perlu membayar,” Yuyu Kangkang mengejarnya.”Cukup sebuah ci... Aduh!”

Klething Kuning mencambuk Yuyu Kangkang dengan lidi pemberian bangau. Kepiting raksasa itu pun lari ketakutan.

Klething Kuning kemudian mendekati tepi air sungai dan menyabetkan lidinya sekali lagi. Air sungai terbelah, dan ia pun bisa berjalan di dasar sungai sampai ke seberang.

Klething Kuning akhirnya tiba di rumah Mbok Randa. Mbok Randa menerimanya sambil mengernyitkan hidung karena baju Klething Kuning bau kotoran ayam. Ia pun menyilakan gadis itu masuk lalu ia pergi ke kamar Ande-Ande Lumut.

“Ande anakku, ada seorang gadis cantik, tetapi kau tak perlu menemuinya. Bajunya bau sekali, seperti bau kotoran ayam. Biar kusuruh ia pulang saja.”

“Aku akan menemuinya, Ibu,” kata Ande-Ande Lumut.

“Tetapi... ia...,” sahut Mbok Randa.

“Ia satu-satunya gadis yang menyeberang tanpa bantuan Yuyu Kangkang, ibu. Ialah gadis yang aku tunggu-tunggu selama ini.”

Mbok Randa pun terdiam. Ia mengikuti Ande-Ande Lumut menemui gadis itu. 

Klething Kuning terkejut sekali melihat Ande-Ande Lumut adalah tunangannya, Raden Panji Asmarabangun. 

“Sekartaji, akhirnya kita bertemu lagi,” kata Raden Panji.

Raden Panji kemudian membawa Dewi Sekartaji dan Mbok Randa Dadapan ke Jenggala. Raden Panji dan Dewi Sekartaji pun menikah. Kerajaan Kediri dan Jenggala pun dipersatukan kembali.

Friday, May 27, 2011

Roro Jonggrang - Legenda Candi Prambanan (Cerita dari Jawa Tengah)

Dahulu kala ada seorang raja bernama Prabu Boko yang memerintah di Prambanan. Prabu Boko adalah seorang raksasa yang sakti. Ia mempunyai seorang puteri yang bernama Roro Jonggrang. Roro Jonggrang sangat cantik. Berbatasan dengan kerajaan Boko ada sebuah kerajaan bernama Pengging.

Pada suatu hari raja Pengging ingin memperluas wilayah kerajaannya, maka ia mengutus puteranya, Bandung Bondowoso memimpin pasukan menyerang kerajaan Prambanan. Bandung Bondowoso berhasil mengalahkan pasukan Boko bahkan membunuh raja Boko. 

Bandung Bondowoso pun tinggal di istana Prambanan. Ia jatuh cinta kepada Roro Jonggrang dan meminta gadis itu menjadi permaisurinya.

Roro Jonggrang tidak ingin menjadi isteri Bandung Bondowoso yang telah membunuh ayahandanya. Ia mencari akal agar dapat menolak pinangan pangeran Pengging itu dengan halus. 

Akhirnya ia menemui Bandung Bondowoso dan berkata, “Aku mau menjadi isterimu, tetapi sebagai syaratnya engkau harus membuat dua buah sumur dan seribu candi dalam waktu semalam.”

Meskipun syarat yang diajukan Roro Jonggrang mustahil dipenuhi orang lain, Bandung Bondowoso langsung menyanggupinya. Ia mengumpulkan makhluk-makhluk halus yang menjadi anak buahnya dan mulai menggali sumur dan membangun candi. Bandung Bondowoso dan anak buahnya bekerja dengan sangat cepat. Dalam waktu singkat mereka sudah menyelesaikan sebuah sumur dan ratusan candi.

Roro Jonggrang mengamati dari kejauhan dengan cemas. Ia berpikir keras untuk menemukan cara menggagalkan usaha Bandung Bondowoso. Roro Jonggrang pun memanggil dayang-dayang dan menyuruh mereka membakar jerami dan menabuh lesung. Api dari jerami yang dibakar membuat suasana menjadi terang dan suara tabuhan lesung yang gaduh mengejutkan makhluk-makhluk halus yang sedang bekerja. Mereka mengira hari telah pagi. Mereka pun melarikan diri, meninggalkan Bandung Bondowoso serta sumur dan candi yang belum selesai. Bandung Bondowoso berusaha memanggil mereka kembali, tetapi mereka tetap pergi. 

Roro Jonggrang menemui Bandung Bondowoso dan bertanya, “Waktumu sudah habis, Bandung. Apakah candiku sudah selesai?”

Bandung Bondowoso sangat marah karena ia tahu Roro Jonggrang telah menggagalkan kerja kerasnya, namun ia berusaha menahan diri, “Tentu saja candi sudah selesai. Kalau tak percaya, silakan kau hitung sendiri.”

Roro Jonggrang ditemani dayang-dayangnya menghitung candi satu persatu. Ternyata Bandung Bondowoso telah berhasil menyelesaikan sembilan ratus sembilan puluh sembilan candi. 

“Kau gagal, Bandung. Masih kurang satu candi lagi,” kata Roro Jonggrang.

Bandung Bondowoso naik darah, “Kalau kau tidak berbuat curang, aku pasti bisa menyelesaikan seribu candi untukmu, Jonggrang,” katanya.

“Baiklah, aku penuhi keinginanmu. Jadilah kau, Roro Jonggrang, candi yang keseribu!” kutuk Bandung Bondowoso 

Roro Jonggrang pun menjelma menjadi patung batu yang sangat cantik dan ajaib, batu-batu tersusun satu demi satu dengan sendirinya membentuk candi,  mengelilingi patung itu.

Sampai sekarang patung batu Roro Jonggrang yang cantik dapat kita saksikan di dalam ruangan candi utama di Prambanan.

Thursday, May 26, 2011

Legenda Gunung Tidar (Cerita Rakyat dari Jawa Tengah)




Dahulu kala, di pulau Jawa bagian timur terdapat sebuah gunung besar bernama Mahameru. Karena besarnya gunung ini, pulau Jawa makin lama makin miring ke arah timur. Ujung  timur pulau Jawa tenggelam dan ujung baratnya terangkat ke atas. 

Para dewa sangat prihatin sehingga  menghadap Batara Guru untuk melaporkan masalah ini. 

Batara Guru kemudian mengumpulkan para dewa. Ia memerintahkan supaya mereka mengangkat gunung Mahameru dan memindahkannya ke arah barat.

Para dewa bersama-sama mengangkat gunung yang sangat besar itu dan terbang membawanya ke arah barat. Ketika diangkat, puncak gunung jatuh dan menjadi gunung Semeru. 

Mereka terus membawa gunung Mahameru ke barat. Sebagian demi sebagian gunung jatuh. Bagian-bagian yang jatuh itu membentuk deretan gunung baru.

Ketika para dewa tiba di tengah-tengah pulau Jawa,  gunung  yang mereka bawa tinggal sedikit.   Mereka pun memutuskan untuk meletakkan sisa gunung itu, yang kemudian membentuk gunung kecil . Gunung itu kemudian  disebut gunung Tidar.

Karena letaknya yang tepat di tengah pulau Jawa, gunung Tidar menjadi pakunya pulau Jawa. Pulau Jawa pun tidak lagi miring ke timur.

Categories

7 keajaiban dunia 7 wonders a pair of lover ABG abjad Adam Adat Tengger AdSense now speaks Indonesian Adu banteng adzan magrib Agama Tengger Ajisaka akuturasi hindu jawa Al Khazin alcohol Alkhazen all in one amatir Ambeien Ambon Amerika anak anak kelas 1 Angka 7 Angka 7 pakai sabuk Angka Tujuh angkot animal antimo Apa Itu Hoax apartemen Apoteker Apple aquarium Arab Arti Eureka Arti Sejarah artis Asah Otak Asal Bung Karno Asal Mula Hoax Asal Mula Kelenteng Asal Mula Teka-teki Silang Asal Mula TTS Asal usul Coklat Asal Usul Eureka Asal Usul Hoax Asal Usul Marga Batak Asal-usul Asal-usul Blackberry Asal-usul Duit Asal-usul Google Asal-usul Komputer Asal-usul Kota Bandung asal-usul lagadoni asal-usul mahameru Asal-usul Nama Indonesia Asal-usul Paman Sam asal-usul pizza Asal-usul Qwerty asal-usul semeru Asal-usul Vaksin Polio asal-usul wikileaks ASI at work ATM Australia Auto 2000 ayam betutu ayu ting ting Baby bad boys bahasa Arab bahasa Cirebon bahasa inggris bahasa Jawa bahasa Jepang bahasa sunda Bali Bali Aga Bali Asli Bali bird park Bali Mula Bali Safari Bali Turunan Baliaga bandung Bandungbondowoso Bangkok bangunan Barcelona Barrack Obama Bartender batak batu bata Batubara Sawah Lunto Bbm be thankful for the little thing Bear bebek Bejo belajar masak belajar. belalang kupu-kupu Bella Saphira bencong Benjol Bepe berenang bersyukur Best Bar Bidadari Bidpai biksu Bill Gates Bintang Toedjoe Biografi Bioskop bis kota BJ Habibie Blackberry Blind spot Blog Sejarah BMW BMW 320i Bohong di Internet bola golf Boobs vs. Willies borobudur Boston boxing Brain study Brebes brimob buah buaya bubur ayam Budaya Tengger budeg buku buku tabungan BUMN bunga mawar Bunker Batavia Bunker Jakarta Bunker Kota Tua Bupati Malang burung beo cafe camping Can I help you mam ? can't pay Candi Blitar candi bukit barisan candi muara tikus cape deh.. capucino Carl Lewis CCTV Celana dalam celana pendek celebration of life celine dion cemetery cendol Ceragem Cerita dari Cina Cerita Inspirasional Cerita Rakyat Cerita Rakyat Filipina Cerita Rakyat India Cerita Rakyat Iran Cerita Rakyat Jawa Barat Cerita Rakyat Jawa Timur Cerita Rakyat Kashmir Cerita Rakyat Malaysia Cerita Rakyat Merapi Cerita Rakyat Myanmar Cerita Rakyat Nusantara Cerita Rakyat Suku Indian Cherokee Cerita Rakyat Suku Maya Cerita Rakyat Turki Cerita Silat SH Mintardja Cerpen charm body fit cherry belle China China phone Chinese Chivas chocolate Church CIA Cicadas circle fly club golf clubbing coca cola coffe shop Coklat Afrodisiak Coklat untuk Seks Coklat Valentine Columbia Complete contact convenient cowo bodoh... cowo-cowo CPD CPM cucu Cup D cute cyber cafe Da'i Bachtiar daftar nama wali pitu Dahlan Iskan daihatsu danau Daun putri malu david beckham Dawet delight demo Demo Kerbau departemen kesehatan Dewata Cengkar Dewi Sekardadu Dian Sastro die hard digigit ular dijual butuh uang direct marketing direktur utama diskettes ditlantas polda dokter Dokter gigi dokter kandungan dokter THT Dongeng Dongeng Mancanegara Dora Sembada dosen DPR driver Durian e-KTP e-mail Ebook Tengger Bromo electrolux elephant Eloy Zalukhu Embargo embassy enchantment encim Engkoh Enter es keliling es teh manis Esemka Eureka Archimedes Eureka dan Sejarahnya Eureka Saya Menemukannya Eve Fabel Aesop Fabel Bidpai facebook fanta Farmer farmville FB FB Mayer FBI fengshui fenny rose fesbuk Finished Focus Foke Foklor Merapi fokus foya-foya frustasi Gaek Cukua Sabalah gajah hitam Galatama Galaxy tab Ganesha Blitar Ganesha Kala Dicuri ganteng tapi bandel ganti kartu Garam Gunung Krayan Garis Lurus Merapi Kraton Pantai Selatan Garis Lurus Yogya Garuda Magazine gema gembok dan anak kunci Gereja Bantul Gereja Candi get up Getuk Ginza Gogol Gogol Gempol Gogol Pasuruan Gogolan google Google talk Gorilla Greek and Roman Mythology Green Greg Riley Gudeg Gunung Batok Gunung sion Gunung Tengger guru hakim hamil Hanacaraka hand Hans Christian Andersen happiness hari kiamat Hari Lahir Yesus harta Hati Kudus Tuhan Yesus hayam headset health heart attck heaven Helicopter view helm hemorrhoid herin Hermawan Kartajaya Hikayat Tangkuban Perahu Hoax Holland bakery Hollywood Homo Honocoroko Humor humour huruf A semua huruf vokal Hut Kemerdekaan Ibu ikan baronang ikan belanak ikan kembung iman imigrasi impoten Indian boy Indomie Indonesia Info Inlandeer internet Interview ipad iPad2 iphone ipod IQ isi pulsa Istana Cipanas istri istri bawel ITB Iwak peyek Jalangkung jambu monyet James Watt Jamil Azzaini jangan dicoblos jangan menunggu Jataka Jepang Jogya joko Joko Widodo Joni Judo jujur juragan tanah just kidding Justin Bieber kaca spion Kacang dua kelinci kacang ijo Kacang mete kadal air kakek kambing Kambing hitam kambing putih kan pei kantor polisi kantor pos Kapan Yesus Lahir karburator karyawan baru Kasih Kata Duit Katolik Bantul KB suntik ke sambar petir Kebetulan Aneh Kebetulan Unik kehidupan Keistimewaan Yogyakarta Kejaksaan keju kekayaan Kelahiran Soekarno Kelapa kenalan kera sakti kerajaan sriwijaya Keraton Solo Keris Sarutama king of world Kisah Klasik Minang kisah merapi KL Klenteng Mbah Ratu Surabaya kode kode baru kodok komar komodo Komputer dari zaman ke zaman kopi Kost kota wisata kotak surat koto kampar KPK Kraton Solo kreditan TV Krisdayanti KTP Kudus kulkas second kunci mobil kuntilanak kurang gizi Kutoarjo lada hitam Ladies Lady gaga lamaholot lamanerin lampu merah langit biru Latte Laundry laut mati Learn to move on leaving office on time Lebaran Lee Myung Bak legenda gunung semeru Legenda Mbah Maridjan Legenda Mbah Petruk legenda merapi Legenda Sangkuriang Lemari es lemots life life in the world lift up Lilin Liposuction Logistics and organization Losarang Losmen lowongan kerja lubang hidung Luck mabal sakola Madura mahasiswa main rules Majesti Makam Mbah Soleh Makam Sunan Ampel Makan siang makassar Makna Sejarah Malaysia Malik Ibrahim manado manager Manager HRD Mancing mania Mancing. mang beca Mantri sunat maratus Mardi Lestari Marga Batak mario teguh masjid agung demak masjid akulturasi Masjid Ampel masjid ki ageng henis masjid laweyan masjid solo Masjid Sunan Ampel Masuknya Islam Indonesia Masuknya Islam Nusantara masya Allah Masyarakat Tengger Matador Spanyol Matematika Maulana Aliyuddin Maulana Ishak Maulana Malik Isroil Maulana Muhammad Ali Akbar Mbah Bolong Mbah Petruk Mbah Soleh Ampel Mbah Sonhaji Mbah Suwo Melinda membaca buku membalas budi member get member menado menara pisa mencret menelepon menggodaku Mercedez AutomaticI Mercy Merdeka meresapi Mertua mi instan michael Jackson mie mikrolet minum minuman keras Miss Malaysia Miss Universe Miss USA Mitos Mbah Petruk Mitos Merapi MK mom and wife mona money monogami monoton monyet motivasional motivation motivator Mr Bean MS Hidayat muara tikus mudik Muhammad Al Maghrobi murid Murid Sunan Ampel MySpace Nama Google Nanas nasi goreng Nasredin Hoja nazarudin nematus Nenek New York Nidji nightclub Jokes nilai jual nini-nini Novel Nyadran nyamuk Obama Oneng dan Badjuri orang bijak orang gila orang pintar Orang Rantai orang tua Oscar Wilde otak pria otak wanita pacaran pagar listrik pak Camat pak Lurah Pak RT pakis PAM Panchatantraa panjang pinang panjang umur Panwaslu Papua parang tritis Paris Hilton pasar pasien password Patung Kala Blitar patung Kala Dicuri pawisata pedagang baso pedagang ikan pejabat pusat Pejagan Kanci Pekalongan pekan baru pelangi Pembeli adalah raja Pemimpin yg baik pemuda pen drive pencipta lambang negara Indonesia pencuri pulsa pengadilan pengantin baru Pengemis pengumuman peniti penjual buah penjual sayur Penyakit Polio penyanyi dangdut Penyiar Peradaban Atlantis Perahu Bugis Perahu Makassar permaisuri Perut buncit Pesangon peternak sapi Petik Laut photographer Piala Dunia pilkada DKI Pinisi Pink Pintu yang selalu terbuka piramida Piramida Gunung Lalakon Pizza PLN pocong POLDA Poliandri Police officer Poligami Polio polisi poltak pom bensin positive thinking post office pramugara Pramugari productivity Professor Psikiater puasa public relation Purbakala Blitar Putus asa Qomar dan siti... Qurban Rabbit racun Radio raja raja sate H. Subali Ramadhan Ramlan rayuan si raja gombal Rendah hati Renungan Reunian reward point Rhino rice cooker Robot Roro Anteng Joko Seger Roro Jonggrang rorompok RS jiwa RS TNI AU Dr Salamun rule rumah bordil Saka salaki sakarat salesman Sandal Jepit sate. satpam Satya Yoga Sawah Gogol sawo matang Sayur SD Seafood pizza Sego Jagung Sejarah Sejarah Ampel sejarah angka 7 Sejarah Angka Tujuh Belanda sejarah artis Sejarah BlackBerry Sejarah Bromo Sejarah Bunker Jakarta Sejarah Coklat Sejarah Eureka sejarah garuda pancasila Sejarah Google Sejarah Gunung Merapi Sejarah Hanacaraka Sejarah Hoax Sejarah Indonesia Sejarah Islam Indonesia Sejarah Islam Nusantara Sejarah Istana Cipanas Sejarah Jakarta Sejarah Komputer Sejarah Kraton Solo Sejarah Kraton Yogyakarta sejarah lagadoni Sejarah Majapahit Sejarah Marga Batak Sejarah Masjid Ampel sejarah merapi sejarah minyak goreng Sejarah Nama Indonesia Sejarah Orang Rantai Sejarah Paman Sam Sejarah Pinisi Sejarah Polio Sejarah Prambanan Sejarah Qwerty Sejarah Roro Anteng sejarah rumah sakit sejarah semeru Sejarah Teka-teki SIlang Sejarah Tengger Sejarah TTS Sejarah Wali Sejarah Walisongo sejarah wikileaks sekolah minggu sekretaris selang oksigen Semangka Sembilan Makam di Ampel sendok Sentong Tengah sepak bola serangan jantung seribu setitik embun inspirasi Seven up Showroom Sianida siapa julian assange Siapa Mbah Maridjan siapa sultan hamid II siliaris pupil silverQueen SIM simbol pria simbol wanita Singapore Singkong sirkulasi darah Situs Purbakala Situs Purbakala Blitar Smash SMS SNSD Social networks Solo soto ayam space SPBU Muri Tegal SPG Starbucks status steve jobs STNK storeroom stroke student suami suami dan istri suami istri suami sekarat Sudirman suku sumbangan sun block sun go kong sun plaza Sunan Ampel Sunan Bonang Sunan Drajad Sunan Giri Sunan Gunung Jati Sunan Kalijaga Sunan Kudus Sunan Muria sunat superman supermarket supervisor Surabaya Surakarta surga Surya Paloh susah bernapas susu suzuki Swatch Syahrini Syeh Siti Jenar Syeh Subakir Syekh Piyobang Taekwondo tahayul tahta tahun uang Taiwan taj mahal Tambang Sawah Lunto Tanah abang tangkuban perahu Tanjung kodok taraweh Tarzan tatar sunda Teacher teka teki Teka Teki Silang tekad telepon koin telor Tempat Angker di Merapi Tempat lahir Bung Karno tempe Tenaga kerja Indonesia Tenganan Tengger Bromo terong ungu tersedak Terunyan test drive The Grimm Brothers The Hoax the winner Thomas Alfa Edison THR tidur tiga roda tiger wood tilang tinggi hati tips aman naik angkot tipung titik buta to be to have toilet Toyota Landcruiser Toyota xenia Tradisi Tengger Trivia Trowulan TTS Tuhan tukang baso tukang becak tukang cukur tukang jahit tukang kue tukang pos Tuna netra tuna wicara... turis arab tuyul ucok UGD UI ulang tahun Unesco Upacara Karo Bromo upload FB usb port ustadz Vaksin Polio Vegetarian vegetation Vermak Jin villa VOA volvo wali pitu Walisongo Walisongo Periode I Walisongo Periode II Walisongo Periode III wanita wanita duduk Warteg washington watches water wawancara WC wedding Whale wikipedia windows Wisata Bogor Wisata Cipanas Wisata Sawah Lunto Wisata Solo Wisata Sumatra Barat witches wong ndeso x-men yerikho Yogja Yuni shara zaman