Showing posts with label Cerita Silat SH Mintardja. Show all posts
Showing posts with label Cerita Silat SH Mintardja. Show all posts

Saturday, March 10, 2012

Nagasasra dan Sabuk Inten 011-012

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya; SH Mintarja
011

DIAM-DIAM Mahesa Jenar mengamati tubuh Ki Asem Gede yang sudah tua itu. Kulitnya sudah melipat-lipat dan
hampir seluruh rambutnya, bahkan alisnya pun telah memutih seluruhnya. Namun gerak-geriknya masih tampak tanda-tanda kelincahan. Ini menandakan bahwa pada masa mudanya ia adalah seorang yang kuat. Bahkan mungkin sampai saat ini pun ia masih memiliki kekuatan itu.

Pada masa mudaku,” sambung Ki Asem Gede, “memang aku pernah berguru kepada seseorang yang dikenal dengan nama Ki Tambak Manyar.

Mendengar nama itu disebut-sebut, Mahesa Jenar terhenyak, sebab ia pernah mendengar nama itu dari almarhum gurunya bahwa almarhum Ki Tambak Manyar adalah seorang prajurit Majapahit yang tangguh. Karena itu, mau tidak mau ia harus memandang Ki Asem Gede sebagai seorang yang berilmu, baik dalam obat-obatan maupun ilmu tata berkelahi. Bahkan rupa-rupanya ia memiliki kecerdasan otak yang tidak mengecewakan pula.

Tetapi,” lanjut Ki Asem Gede, “sebagai aku katakan tadi, aku tidak banyak mendapat kemajuan. Barangkali tubuhku terlalu ringkih untuk melakukan hal-hal yang berat dan keras. Karena itu Ki Tambak Manyar melatih aku dalam hal mempergunakan senjata sebaik-baiknya. Baik jarak pendek maupun jarak jauh. Dan ini adalah suatu keuntungan. Sebab ilmu ini dapat aku berikan kepada banyak orang sekaligus meskipun tidak sedalam-dalamnya, kecuali hanya kepada satu-dua orang saja. Terutama dalam hal mempergunakan bandil, panah, supit dan sebagainya.”

Orang tua itu berhenti sebentar dan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia melanjutkan,

Kepandaian yang tak berarti itu ternyata berguna juga dalam suatu waktu, dimana Adi Pananggalan hampir menjadi korban keganasan orang-orang berkuda itu. Ketika aku datang, penduduk kademangan ini telah kehilangan semangat dan hampir putus-asa. Sedangkan kalau sampai terjadi penduduk daerah ini melarikan diri, akibatnya akan hebat sekali. Orang-orang berkuda itu pasti akan melakukan tindakan-tindakan yang ganas dan kotor lainnya. Karena itu, segala usaha untuk mengusir mereka itu harus dijalankan. Pada saat itulah, maka aku mengumpulkan orang-orang yang sudah ketakutan itu dan berusaha untuk membangkitkan semangatnya kembali. Aku peringatkan kepada mereka bahwa sebaiknya kita melawan orang-orang berkuda itu dari jarak jauh, sebab dengan mengadu kekuatan sudah jelas bahwa kepandaian dan keperkasaan mereka jauh di atas kita. Dengan jumlah yang banyak dan serangan-serangan jarak jauh, mungkin kita akan berhasil mengacaukan mereka.”

Dengan mempergunakan senjata ini, lanjut Ki Asem Gede, rupa-rupanya semangat mereka bangkit kembali. Dan
sebentar kemudian, setelah segala siasat ditentukan, mulailah kami menyerang orang-orang berkuda itu dari jarak jauh dan dari segala jurusan. Orang-orang kami mempergunakan panah, supit dan bandil. Sedang rupa-rupanya orang-orang berkuda itu tidak bersiap untuk melakukan pertempuran jarak jauh, sehingga berhasilah siasat kami untuk mengacaukan perhatian mereka. Apalagi kami mempergunakan panah yang ujungnya kami balut dengan kain berminyak serta kami nyalakan. Akhirnya pemimpin mereka suami isteri itu terpaksa keluar dari Banjar dan akhirnya merekapun dapat kami usir pergi.

Tetapi yang menyedihkan kami adalah, Adi Demang Pananggalan, Baureksa dan Gagak Ijo, mengalami luka-luka
yang cukup berat, serta tidak sadarkan diri. Apalagi gadis yang ditangkapnya itu. Ia mengalami ketakutan yang
sangat sehingga akhirnya ia memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan kesadarannya.

Kembali Ki Asem Gede berhenti. Ia membetulkan duduknya dan seolah-olah menunggu Mahesa Jenar meresapi kata-katanya.

Bagi Mahesa Jenar, persoalannya menjadi semakin jelas. Bahwa pernah terjadi percobaan untuk menculik gadis didaerah ini. Untunglah bahwa usaha itu dapat digagalkan. Tetapi meskipun demikian, rupanya, di daerah ini rombongan itu berhasil mendapatkan gadis-gadis untuk korban upacaranya yang aneh itu.

Kemudian sesudah itu...” Ki Asem Gede melanjutkan lagi, “di atas salah satu puncak pegunungan Baka, yaitu puncak Gunung Ijo, hampir tiap malam terlihat api yang menyala-nyala. Kami kemudian hampir memastikan bahwa rombongan orang-orang berkuda itu pergi ke sana. Kami merasa bahwa rombongan itu adalah rombongan yang berbahaya, tetapi kami tidak segera dapat memburunya sebab kami mengetahui kekuatannya.

Meskipun demikian kami memutuskan untuk pada suatu saat akan menyusul mereka. Mengusir mereka atau kalau
mungkin menghancurkan mereka sama sekali. Akan tetapi beberapa waktu kemudian tidak lagi pernah nampak nyala api di puncak Gunung Ijo. Dan sekarang Anakmas datang dengan membawa penjelasan tentang apa yang kira-kira pernah terjadi di atas puncak Gunung Ijo itu.”

Cerita Ki Asem Gede diakhiri dengan suatu tarikan nafas yang panjang. Suatu tarikan nafas penjelasan.

Mahesa Jenar sekarang sudah pasti, bahwa orang-orang berkuda itu adalah orang orang yang mempunyai kepercayaan sesat.

Memang pernah terdengar adanya suatu aliran kepercayaan yang dalam upacaranya menggunakan gadis-gadis sebagai korban, disamping pemanjaan nafsu-nafsu lahirlah yang lain. Minuman keras, makan dengan suatu cara yang hampir dapat disebut buas, dan sebagainya.

Suasana kemudian menjadi sepi. Sedang malam semakin lama semakin dalam. Mereka dihanyutkan oleh pikiran
masing-masing serta gambaran-gambaran yang mengerikan tentang apa yang terjadi atas gadis-gadis yang dijadikan korban kepercayaan sesat semacam itu.



NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
012

DI bagian belakang rumah Kademangan itu, tampak adanya suasana yang berbeda sama sekali. Beberapa orang
perempuan sedang sibuk mempersiapkan makan malam yang kali ini berbeda dengan kebiasaan, karena adanya seorang tamu yang sangat mereka hormati. Mereka telah menyembelih beberapa ekor ayam yang paling besar yang dapat mereka tangkap. Mereka juga telah mengundang juru masak yang paling terkenal di Kademangan itu. Sehingga tiba-tiba saja seolah-olah Demang Pananggalan sedang melangsungkan suatu perhelatan.

Di pendapa Kademangan, Ki Asem Gede-lah yang mula-mula mencoba memecahkan kesepian, dan berusaha untuk mengubah suasana, melenyapkan ketegangan yang mencekam.

Adi Pananggalan, tidakkah Adi berhasrat menjamu Anakmas Mahesa Jenar? Tentang ceritera orang-orang berkuda itu, baiklah kita simpan lebih dahulu, sampai kesempatan lain. Aku kira Anakmas Mahesa Jenar perlu melepaskan lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh serta telah meladeni Adi berdua bermain loncat-loncatan. Nah, Adi Pananggalan, aku ada usul. Adi pasti setuju kalau gamelan Adi Pananggalan itu dibunyikan.” kata Ki Asem Gede kepada Demang Pananggalan.

Demang Pananggalan tersenyum mendengar usul itu. Memang ia mempunyai seperangkat gamelan yang bagus, baik bahannya maupun bunyinya. Tentu saja Demang Pananggalan tidak dapat menolak usul itu. Maka, katanya kepada orang-orang yang berada di halaman,

“Siapa yang di luar?”

“Aku, Bapak Demang,” jawab salah seorang diantaranya.

Sebentar kemudian orang itu berdiri dan melangkah naik ke pendapa.

“Berapa orang seluruhnya?” tanya Demang tua itu lebih lanjut.

“Enam atau tujuh orang, Bapak Demang,” jawab orang itu.

“Nah, aku kira telah cukup. Mari kita bermain-main dengan gamelan. Ki Asem Gede ingin mengenang masa mudanya sebagai seorang penggemar gending,” ajak Demang Pananggalan.Ki Asem Gede tertawa terkekeh-kekeh.

“Lebih dari itu..., aku adalah seorang penari juga. Tetapi tidak adakah seorang pesinden yang baik di desa ini?”
sahut Ki Asem Gede.

Kembali Ki Demang Pananggalan tersenyum, juga Mahesa Jenar dan Mantingan. Rupanya Ki Asem Gede adalah
seorang penggemar uyon-uyon.

“Nah, kalau begitu panggil Nyai Jae Manis,” kata Demang Pananggalan kepada orang tadi, yang sudah turun ke
halaman.

Baik Bapak Demang,” jawabnya, sambil melangkah turun. Sebentar kemudian terdengar suara berbisik-bisik dan
meledaklah tawa yang tertahan dari orang-orang yang berada di halaman.

Tetapi yang paling gembira dengan usul ini,” sambung Ki Asem Gede, “adalah Adi Mantingan, yang telah beberapa lama tidak mendengar suara gamelan.”

Kembali terdengar mereka tertawa riuh.

Sebentar kemudian mulailah segala sesuatunya berlangsung dengan meriah. Hidangan yang disiapkan oleh Nyai
Demang satu demi satu mengalir keluar. Sementara itu bunyi gamelan yang berpadu dengan suara Nyai Jae Manis benar-benar dapat membelai hati pendengarnya.

Di halaman, satu demi satu orang berdatangan untuk turut serta menikmati suara pesinden kenamaan dari daerah ini. Tetapi belum lagi mereka puas menikmati semuanya itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara derap kuda yang berlari kencang. Makin lama makin dekat dan makin dekat.
Mendengar derap kuda itu, Demang Pananggalan, Mantingan, Ki Asem Gede dan Mahesa Jenar serentak mengangkat mukanya untuk mengetahui dari mana arah kedatangan mereka. Sedangkan di halaman segera terjadi keributan.

Perempuan-perempuan berlari-lari kesana-kemari, anak-anak menangis menjerit-jerit. Mereka masih belum melupakan peristiwa beberapa waktu yang lalu, ketika ada rombongan orang-orang berkuda yang mengganggu ketenteraman desa mereka.

Untunglah bahwa Demang Pananggalan cepat bertindak. Ia segera meloncat ke halaman dan mengatasi keadaan.

Perempuan dan anak-anak masuk ke rumah,” perintah Demang Pananggalan dengan suara nyaring.

Sedangkan semua laki-laki di halaman ini, segera memencar dan berusaha untuk mendapatkan senjata apa saja. Kita masih belum tahu siapakah yang datang, tetapi keselamatan desa ini di tangan kalian,” lanjut Demang.

Laki-laki Kademangan ini bukanlah bangsa pengecut. Tetapi meskipun demikian, hati mereka berdebar-debar juga
mengenangkan kebuasan orang-orang berkuda yang datang beberapa waktu yang lalu.

Cepat-cepat mereka berpencar dengan senjata seadanya di tangan masing-masing. Karena mereka sama sekali tidak bersiaga, maka kecuali yang sedang bertugas ronda, mereka semuanya tidak bersenjata. Untuk mencukupi kebutuhan, ada yang memegang sabit rumput, kapak pembelah kayu, kayu penumbuk padi, kayu tajam untuk mengupas kelapa, bahkan ada yang bersenjata perunggu wilahan gamelan, di tangan kanan dan kiri. Beberapa orang yang rumahnya berdekatan dengan pendapa kademangan, berloncatan pulang untuk mengambil tombak,
pedang dan apa saja yang ada untuk mempersenjatai kawan-kawan mereka.

Tetapi getaran hati mereka terasa jauh berkurang ketika mereka melihat di atas tangga pendapa kademangan berdiri Ki Asem Gede dan Ki Dalang Mantingan dengan trisulanya di tangan, serta tamu mereka yang gagah perkasa, Mahesa Jenar, yang juga bergelar Rangga Tohjaya, dengan sikap yang tenang dan meyakinkan.

Pada saat itu, suara derap kuda itu sudah demikian dekatnya. Sesaat kemudian mereka melihat empat orang penunggang kuda berturut-turut menyusup regol memasuki halaman Kademangan.

Ketika para penunggang kuda itu melihat kesiap-siagaan orang-orang di halaman itu, mereka tampak terkejut, dan sekuat tenaga mereka menarik kendali kuda masing-masing sehingga kuda-kuda itu berdiri dan meringkik-ringkik. Secepatnya kuda itu menjejak kaki depannya di atas tanah, secepat itu pula para penunggangnya berloncatan turun. Bersamaan dengan itu, lega pulalah hati setiap orang yang berdiri di halaman, karena mereka menyaksikan bahwa kedua penunggang kuda yang di depan tampak samar-samar oleh cahaya lampu, memakai sabuk putih, serta segulung tali berjuntai di pinggangnya dan di pinggang yang lain tergantung kantong yang berisi batu-batu pilihan. Itulah ciri-ciri murid Ki Asem Gede yang bersenjatakan bandil. Dua orang yang lain pun tidak menunjukkan tanda-tanda yang berbahaya, meskipun di pinggang mereka tergantung kapak yang tajamnya putih berkilat-kilat oleh cahaya lampu.

Tuesday, December 27, 2011

Nagasasra dan Sabuk Inten 009-010

NAGASASRA dan SABUK INTEN
009

MAHESA Jenar terharu juga melihat Demang tua itu ketakutan. Sejak semula ia sudah menduga bahwa Demang tua itu sama sekali tak bermaksud jahat kepadanya. Hanya karena perkembangan keadaan saja maka semuanya itu terjadi. Bahkan mungkin di luar dugaan Demang tua itu sendiri.

Maka berkatalah Mahesa Jenar, “Bapak Demang Pananggalan dan Kakang Mantingan, tak ada sesuatu yang harus
aku maafkan. Yang sudah terjadi tak perlu disesali. Yang perlu, sekarang silahkan Ki Asem Gede mengobati kedua
orang-orangmu yang terluka. Tetapi percayalah, aku sama sekali tidak bermaksud untuk melukainya benar-benar.”

Kembali Demang Pananggalan dan Mantingan mengangguk hormat, lalu mereka mempersilahkan Mahesa Jenar masuk ke Kademangan.

Orang-orang yang berada di halaman menyaksikan semuanya itu dengan keheran heranan. Mereka yang pernah
mendengar nama Rangga Tohjaya dan pernah mendengar kesaktiannya, segera bercerita dengan suara yang berderai -derai, seakan akan dengan mengenal nama itu mereka sudah terhitung orang yang terkemuka dalam kalangan kepahlawanan.

Sementara itu Ki Asem Gede sudah mulai melakukan kewajibannya. Ternyata luka Gagak Ijo dan Baureksa tidak ringan. Beberapa kali mereka tak sadarkan diri. Untung Ki Asem Gede segera turun tangan. Kalau sampai terlambat satu malam saja, mungkin mereka sudah tak tertolong lagi.

Kecuali itu, ternyata Ki Dalang Mantingan juga mengalami cedera. Beberapa bagian tubuhnya tidak bekerja seperti
biasa dan di beberapa bagian yang terkena serangan Mahesa Jenar tampak membengkak dan kemerah-merahan. Untunglah, daya tahan tubuh Mantingan cukup kuat sehingga Ki Asem Gede tidak perlu bekerja terlalu keras untuk
menolongnya.

Ketika keadaan sudah agak reda, dan Ki Asem Gede sudah tidak sibuk lagi, duduklah mereka di atas bale-bale besar di pendapa Kademangan, mengelilingi lampu minyak yang nyalanya bergoyang-goyang diayun-ayunkan angin.

Di luar, gelap malam mulai turun sebagai tabir raksasa berwarna hitam kelam. Sedangkan di langit satu demi satu bintang mulai bercahaya menembus hitamnya malam.

Mereka mulai berbicara dan bercerita tentang diri masing-masing. Mahesa Jenar tidak lagi menyembunyikan sesuatu. Diceritakannya seluruh masalah mengenai dirinya, kenapa ia sampai meninggalkan Demak.

Aku telah menanggalkan pakaian keprajuritan dan telah menyisihkan segala macam senjata, dengan suatu keinginan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tetapi rupa-rupanya Tuhan sendiri belum berkenan, sehingga aku masih dikendalikan oleh nafsu,” kata Mahesa Jenar.

Semuanya yang mendengarkan mengangguk-anggukan kepala, dan mereka merasa juga bersalah, sehingga Mahesa Jenar terpaksa menyesali dirinya.

Sementara itu mulailah hidangan mengalir. Demang Pananggalan yang merasa telah menyakiti hati Mahesa Jenar, ingin sedikit mengurangi kesalahannya dengan menghidangkan apa yang mungkin dihidangkan pada saat itu. Sedangkan Ki Asem Gede, kecuali seorang yang bijaksana serta mempunyai ilmu obat-obatan, ternyata juga seorang yang jenaka. Banyak hal yang dapat ia ceritakan tentang dirinya dengan lucu sekali, sehingga suasana menjadi meriah dan akrab.

Diceritakan, bagaimana ia terpaksa sekali mengobati seorang yang sakit, hanya dengan air saja, tanpa ramu-ramuan obat yang lain. Sebab, pada saat itu ia sedang berada dalam perjalanan dan tak membawa obat-obatan yang diperlukan.

Tetapi... tiga hari kemudian orang itu datang kepadaku, dengan membawa empat ikan gurameh sebesar penampi, sebagai ucapan terima kasih atas obat-obatku yang mujarab,” kata Ki Asem Gede.

"Sebabnya," sambung Ki Asem Gede, kenapa obat-obatku banyak yang dapat berhasil, adalah sebagian besar dari
mereka yang aku obati mempunyai kepercayaan kepadaku. Bahwa seseorang yang menderita sakit merasa berbesar hati, adalah merupakan obat yang banyak menolongnya. Lebih daripada itu, semuanya adalah berkat kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi... —suara Ki Asem Gede terputus—.

Mereka yang mendengarkan jadi bertanya-tanya dalam hati, kenapa tiba-tiba saja wajah Ki Asem Gede yang cerah menjadi muram? Beberapa kali ia menelan ludah, seperti ada sesuatu yang menyumbat kerongkongannya.
Tetapi...” ulang Mahesa Jenar yang ingin mendengar kelanjutan ceritera Ki Asem Gede itu.

Ah tak apalah,” tukasnya. “Segala sesuatu ada pengecualiannya. Sebagai seorang yang beratus bahkan beribu kali menyembuhkan orang sakit, maka sekali-kali Tuhan tak memperkenankan juga. Itu adalah suatu bukti akan
kebesaran-Nya,” lanjut Ki Asem Gede.

Mahesa Jenar maklum bahwa ada sesuatu yang tak mau ia sebutkan. Karena itu ia tidak bertanya lebih lanjut.

Nah... Anakmas...” sambung Ki Asem Gede kemudian, sambil berusaha untuk mengembalikan suasana, “kenapa tidak saja Anakmas berceritera tentang apa yang Anakmas jumpai di perjalanan. Tidakkah Anakmas menjumpai kejadian-kejadian yang lucu, misalnya, seperti yang terjadi di sini? Seorang seperti Adi Pananggalan dan Adi Mantingan berlagak sebagai seorang sakti.

Mendengar pertanyaan ini Mahesa Jenar tersenyum, demikian juga Demang Pananggalan dan Dalang Mantingan,
meskipun kalau teringat akan hal itu, hati mereka masih tergetar.



NAGASASRA dan SABUK INTEN
010

KARENA pertanyaan itu, Mahesa Jenar teringat akan keperluannya datang ke desa itu. Yaitu, ingin mengetahui jawaban teka-teki tentang adanya kerangka yang dijumpainya di puncak Gunung Ijo.

Ki Asem Gede, Bapak Demang Pananggalan serta Kakang Mantingan. Memang sebenarnya ada aku jumpai sesuatu dalam perjalananku yang ingin aku tanyakan. Itulah sebabnya maka aku datang kemari.”

Ketika Mahesa Jenar tampaknya bersungguh-sungguh, maka mereka yang mendengarkanpun menjadi bersungguh-sungguh pula.

Di puncak Gunung Ijo,” sambung Mahesa Jenar, "aku jumpai sesuatu yang mencurigakan. Alat-alat minum yang
berserak-serakan. Bekas unggun api. Dan yang paling mengherankan adalah adanya batu-batu yang disusun sebagai suatu tempat untuk sesaji, sedangkan di atasnya terdapat kerangka perempuan. Dan tidak jauh dari tempat itu, aku ketemukan pula kerangka yang lain. Juga seorang perempuan.

Mendengar pertanyaan itu Demang Pananggalan menundukkan muka dalam-dalam. Ki Asem Gede mengerutkan
dahinya yang sudah dipenuhi oleh garis-garis ketuaannya, sedangkan Dalang Mantingan menarik nafas dalam-dalam. Melihat keadaan itu maka makin nyatalah bagi Mahesa Jenar bahwa daerah ini pasti langsung mengalami bencana yang bertalian dengan peristiwa Gunung Ijo.

Anakmas...” jawab Ki Demang Pananggalan dengan suara yang dalam. “Akulah orangnya, kalau ada orang tua yang sama sekali tak berguna.”

Ia berhenti sebentar menelan ludah, lalu sambungnya, “Apalagi aku sebagai seorang Demang, yang seharusnya dapat memberikan perlindungan kepada rakyatku. Tetapi nyatanya aku sama sekali tak mampu berbuat demikian.”

Kembali Demang tua itu berhenti berbicara. Matanya memandang jauh menusuk gelapnya malam. Di halaman, beberapa orang masih duduk berkelompok-kelompok sambil berceritera tentang kehebatan pertarungan siang tadi.

Demang Pananggalan mengeser duduknya sedikit. Matanya masih menembus gelap, seolah-olah ada yang dicarinya di kegelapan itu. Tetapi rupa-rupanya ia ingin melanjutkan ceriteranya. Ki Demang pun meneruskan ceritanya.

Ketika itu, di daerah ini lewat serombongan orang-orang berkuda. Didesa ini mereka berhenti dan minta untuk
menginap barang semalam. Mereka memasuki desa ini menjelang senja. Karena tak ada tanda-tanda yang aneh pada mereka, serta sikap pimpinannya yang ramah maka kami tak dapat menolak permintaan itu. Rombongan itu dipimpin oleh dua orang suami-isteri yang akan mengadakan ziarah ke Gunung Baka. Tetapi ketika malam pertama telah lewat, mereka minta untuk diperkenankan bermalam semalam lagi sambil melepaskan lelah dan mengadakan persiapan-persiapan untuk sesaji. Permintaan ini pun tak dapat aku tolak.

Sekali lagi ia berhenti. Rupa-rupanya ia sedang mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Kemudian ia kembali
menyambung ceritanya.

Tetapi terkutuklah mereka. Terkutuklah rombongan orang-orang berkuda itu. Pada malam kedua mereka menangkap seorang gadis yang sedang pergi ke sungai. Gadis ini sempat menjerit, dan seorang yang baru pulang dari mengairi sawahnya dapat menyaksikan peristiwa itu. Pengantar gadis itu, seorang pemuda tanggung dipukulinya sampai pingsan."

Maka ketika hal itu disampaikan kepada kami, meledaklah amarah kami. Segera Banjar Kademangan yang kami
sediakan sebagai tempat penginapan mereka, kami kepung rapat-rapat. Mereka segera kami ancam untuk menyerah. Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan kami. Mereka sama sekali tidak menghiraukan kehadiran kami, orang-orang hampir seluruh desa ini. Ketika kami mendengar gadis itu menjerit, hati kami tak tahan lagi.

Cepat-cepat kami menyerbu masuk. Tetapi rupa-rupanya mereka telah siap menanti kedatangan kami. Dan segera terjadilah pertempuran. Orang-orang kami lebih banyak dikendalikan oleh kemarahan yang meluap-luap, daripada kesediaan untuk bertempur. Apalagi rombongan berkuda itu ternyata terdiri dari orang-orang yang tangguh. Maka lenyaplah segala kesan keramah-tamahan mereka. Bahkan tampaklah betapa dahsyat cara mereka menjatuhkan lawan. Beberapa saat pertempuran itu berlangsung dengan dahsyatnya, tetapi segera tampak betapa lemahnya kami. Segera orang-orang kami dapat dihantam dan dicerai-beraikan. Aku tidak lagi dapat berpikir lain daripada bertempur mati-matian. Dan aku beserta Baureksa dan Gagak Ijo sebagai orang-orang yang paling dapat dipercaya pada waktu itu, berhasil menerobos masuk ke banjar, sehingga kami bertiga langsung terlibat dalam perkelahian melawan suami-istri pemimpin gerombolan itu. Mungkin terdorong oleh kemarahanku maka terasa seolah-olah tenagaku menjadi berlipat-lipat. Si istri itu pun ternyata mempunyai ilmu yang tinggi, ditambah lagi betapa kasarnya cara mereka bertempur. Si Suami menerkam dan mengaum seperti harimau, sedangkan si isteri menyerang dengan jari-jari yang dikembangkan. Wajah-wajah mereka yang ramah itu sekarang sudah berubah menjadi wajah-wajah iblis yang menakutkan.

Tetapi aku sama sekali tidak peduli. Mungkin saat itu, akupun berkelahi seperti iblis. Tetapi kemudian ternyata bahwa kami bertiga bukanlah lawan mereka. Apalagi tenagaku adalah tenaga orang tua yang sangat terbatas. Ketika nafasku sudah mulai mengganggu, segera aku merasa terdesak, sedangkan serangan mereka semakin lama menjadi semakin kasar.”

Demang tua itu menarik nafas sambil membetulkan duduknya, kemudian ia melanjutkan,

“Saat itu aku sudah berpikir bahwa rupa-rupanya ajalku sudah hampir tiba. Sebab daya tahanku semakin lama
menjadi semakin lemah. Apalagi Baureksa dan Gagak Ijo sama sekali tak dapat berbuat sesuatu. Tetapi ternyata
Tuhan menghendaki lain. Rupa-rupanya salah seorang telah memberitahukan kesulitan-kesulitan kami ini kepada Ki Asem Gede, yang pada saat yang tepat datang menolong kami.”

Demang itu berhenti berceritera. Pandangan matanya yang suram itu dilemparkan kepada Ki Asem Gede. Lalu katanya, Selanjutnya Ki Asem Gede-lah yang lebih mengetahuinya."

Mahesa Jenar mendengarkan cerita Demang tua itu dengan penuh perhatian. Terbayang betapa Demang tua itu telah berusaha mati-matian untuk melindungi rakyatnya, sampai ia tidak memikirkan nasibnya sendiri. Tetapi rupa-rupanya lawannya adalah orang yang perkasa.

Ki Asem Gede yang diminta melanjutkan cerita itu, berkisar sedikit. Dipandangnya pelita yang nyalanya bergerak-gerak oleh angin yang berhembus ke pendapa. Ia batuk-batuk sedikit, lalu mulailah ia bercerita.

“Anakmas, sebenarnya bukanlah pertolongan yang aku berikan, tetapi semata-mata hanyalah karena kebetulan saja dan terutama atas kehendak Tuhan. Aku bukanlah orang yang mempunyai kepandaian yang cukup untuk bertanding. Kalau pada masa mudaku, sekali dua kali aku pernah terlibat dalam suatu pertarungan, itu sama sekali bukan karena aku mampu melakukannya, tetapi itu hanyalah karena kebodohan dan kesombonganku yang kosong saja.”

Nagasasra dan Sabuk Inten 007-008

NAGASASRA dan SABUK INTEN
007

KETIKA Mantingan berhasrat untuk cepat-cepat mengakhiri pertandingan ini, ia memusatkan segala tenaga dan pikiranuntuk ke mudian sebagai angin ribut melanda lawannya.

“Hebat ...!” pikir Mahesa Jenar ketika ia menerima serangan bertubi-tubi dari Mantingan.

“Memang perguruan Wanakerta memiliki keistimewaan yang tak dapat diabaikan.”

Kemudian terpaksa ia membuat beberapa langkah surut. Tetapi Ki Dalang Mantingan tidak menyia-nyiakan tiap
kesempatan. Cepat ia maju dengan melancarkan gempuran-gempuran hebat.

Rupa-rupanya Ki Dalang Mantingan menjadi agak gusar ketika serangan serangannya tidak segera dapat mengenai lawannya, bahkan lawannya itu dapat pula mendesaknya. Karena itu gerakan-gerakan serta serangan-serangannya menjadi bersungguh-sungguh. Ia tidak mau mengorbankan namanya seperti Gagak Ijo dan Baureksa.

Demang Panggalan menjadi semakin cemas dan bingung. Ia tidak menghendaki orang asing yang belum diketahuinya benar-benar asal-usulnya itu mendapat cedera, sebab tidak mungkin ia berdiri sendiri. Apalagi kalau benar-benar ia orang Istana Demak. Tetapi disamping itu, Demang Pananggalan sangat sayang kepada adiknya, dan ia sama sekali tidak rela kalau adiknya mengalami hal-hal yang tidak diharapkan, baik tubuhnya maupun namanya.

Sementara itu pertarungan menjadi semakin sengit. Serangan-serangan Mantingan menjadi semakin dahsyat dan ia sudah hampir kehilangan pengamatan diri sehingga geraknya tak terkekang lagi.

Ketika serangannya yang dilancarkan dengan kedua tangannya sekaligus mengarah ke sasaran yang berbeda dapat dihindari oleh Mahesa Jenar, cepat ia mengubah serangan itu dengan serangan berikutnya, dengan kaki yang mengarah ke perut Mahesa Jenar. Melihat perubahan itu Mahesa Jenar terpaksa meloncat mundur.

Tetapi Mantingan rupa-rupanya sudah bertekad untuk memenangkan pertempuran itu dengan segera. Maka, demikian Mahesa Jenar meloncat mundur, disusulnya pula dengan kaki yang lain setelah ia memutarkan tubuhnya setengah lingkaran atas kaki yang pertama. Rupa-rupanya Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa serangan-serangan Mantingan akan sedemikian bertubi-tubi datangnya, sehingga terasalah tumit Mantingan mengenai pinggangnya.

Gempuran ini demikian hebat sehingga tubuh Mahesa Jenar bergetar dan hampir saja ia kehilangan keseimbangan. 

Meskipun tubuh Mahesa Jenar sudah cukup terlatih serta mempunyai daya tahan yang kuat, namun terasa juga bahwa tumit yang mengenai pinggangnya itu menimbulkan rasa sakit.

Kena tendangan ini, hati Mahesa Jenar menjadi agak panas juga. Karena itu ia berketetapan hati untuk melayani Ki Demang Mantingan dengan lebih bersungguh-sungguh lagi. Maka segera geraknya berubah menjadi semakin cepat dan keras. Ia membalas setiap serangan dengan serangan pula. Dan ia sama sekali tidak mau tubuhnya disakiti oleh lawannya lagi.

Ki Dalang Mantingan terkejut melihat perubahan tendangan lawannya. Maka segera ia sadar bahwa orang yang
dilawannya itu berilmu tinggi. Tetapi segala sesuatunya telah terlanjur. Satu-satunya kemungkinan baginya adalah, lawannya menghendaki pertempuran itu akan berlangsung mati-matian.

Dan memang sebenarnyalah demikian.

Serangan-serangan Mahesa Jenar berikutnya datang bertubi-tubi seperti ombak yang bergulung-gulung menghantam pantai. Bagaimanapun kukuhnya batu-batu karang tebing, namun akhirnya segumpal demi segumpal berguguran jatuh juga ke laut.

Dalang Mantingan mengeluh di dalam hati. Sebagai seorang yang telah banyak mempunyai pengalaman, ia merasa bahwa lawannya memiliki kepandaian yang lebih tinggi.

Dan yang kemudian terjadi adalah, Ki Dalang Mantingan mulai tampak terdesak. Bagaimanapun ia berusaha, kini ia terpaksa untuk bertahan saja. Ia sama sekali tidak berkesempatan untuk menyerang. Bahkan beberapa kali ia telah dapat dikenai oleh lawannya, meskipun tidak di tempat-tempat yang berbahaya. Tubuh Mantingan terasa nyeri sekali. Meskipun demikian ia bukanlah Mantingan kalau sampai ia menyerah.

Demang Pananggalan semakin kebingungan. Ia segera melihat kesulitan adiknya. Bagaimanapun, ia mempunyai
perasaan tidak rela melihat hal yang demikian itu berlangsung. Mantingan yang dibangga-banggakan seluruh penduduk Kademangan, sekarang akan dikalahkan oleh orang asing di hadapan penduduknya sendiri. Karena itu hampir di luar sadarnya ia meloncat maju. Meskipun umurnya sudah lanjut dan tidak sekuat Mantingan, namun karena pengalamannya maka Demang tua ini nampaknya berbahaya juga. Langsung ia menyerang Mahesa Jenar dengan gerakan-gerakan yang tak terduga-duga untuk mengurangi tekanannya pada Mantingan.

Maka segera Mahesa Jenar menjadi sibuk berpikir, apakah maksud yang sebenarnya dari Demang tua ini.

Penduduk yang mengitari pertarungan itu dengan asyiknya menyaksikan gerak masing-masing dengan keheran-heranan, sebagai suatu hal yang belum pernah dilihat sebelumnya. Mendadak mereka terkejut sekali melihat Demang terjun langsung ke arena. Mereka serentak merasa bangun dari sebuah mimpi yang dahsyat. Dalam hal yang demikian, bagaimanapun hebatnya lawan, mereka merasa wajib membela pemimpin mereka meskipun harus menyerahkan nyawanya.

Serentak mereka menggenggam senjata masing-masing makin erat. Sedangkan beberapa orang yang berdiri di baris
paling depan sudah mulai bergerak.

Mahesa Jenar segera melihat kesulitan yang bakal datang. Karena itu ia semakin waspada. Ia mulai menghimpun
kekuatan-kekuatannya untuk membuat gempuran-gempuran terakhir, meskipun hal itu dilakukan dengan berat hati. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa ia harus terlibat dalam masalah yang sama sekali tak diketahui sebab-sebabnya. Tetapi bagaimanapun, ia tidak mau dijadikan bulan-bulanan dari peristiwa-peristiwa yang tak diketahui ujung-pangkalnya itu.

Tiba-tiba ketika keadaan sudah sedemikian memuncaknya, halaman itu digetarkan oleh sebuah teriakan nyaring.

Adi Pananggalan dan Adi Mantingan, apa yang terjadi?

Teriakan yang dilontarkan sepenuh tenaga itu bergetar memenuhi halaman Kademangan, sehingga semuanya terkejut karenanya. Dan pertarungan itu pun segera terhenti.

Ternyata yang berteriak itu adalah Ki Asem Gede, yang datang untuk mengobati Baureksa dan Gagak Ijo.

Apa yang terjadi ...?" ulangnya.

Perlahan-lahan matanya memandang berkeliling, ke wajah-wajah yang berdiri di sekitar halaman itu, kemudian
dipandanginya wajah Mantingan dan Demang Pananggalan dengan matanya yang bening, sehingga membawa pengaruhyang sejuk. Alangkah damainya hati seorang yang mempunyai wajah dan mata yang begitu lunak. Umurnya sudah lanjut, dan hampir seluruh rambutnya sudah putih.



NAGASASRA dan SABUK INTEN
008

KI Asem Gede berjalan perlahan mendekati Mahesa Jenar. Lalu membungkuk dengan hormatnya. “Anakmas, apa yang terjadi?” tanyanya, dan kemudian ia menoleh kepada Demang Pananggalan dan Ki Dalang Mantingan

Apa yang terjadi?” ulangnya kembali.

Demang Pananggalan merasa sulit untuk memberi jawaban. Memang ia sendiri bertanya kepada dirinya, kenapa ini sampai terjadi?

Ketika Pananggalan tidak segera menjawab, Ki Asem Gede kembali memandang kepada Mahesa Jenar. Matanya hampir tiada berkedip, seakan-akan ia masih belum yakin kepada penglihatannya.

Ketika ia memasuki halaman itu, dan melihat pertarungan yang sengit, hatinya tersirap. Ia pernah melihat orang yang bertempur melawan Demang Pananggalan kakak-beradik.

Ia merasa pernah bertemu dengan orang itu di Demak, ketika ia bersama-sama dengan kakaknya, yang juga seorang ahli obat-obatan, memenuhi panggilan Panji Danapati, untuk mengobati anaknya yang sakit.

Anakmas...” katanya kemudian, “bolehkah aku ini, orang tua yang tak berharga menanyakan sesuatu kepada
anakmas?”

Melihat wajah orang tua itu, hati Mahesa Jenar menjadi lunak seketika, bahkan ia agak malu kepada diri sendiri yang masih sedemikian mudahnya terbakar oleh nafsu.

Silahkan, Bapak...” jawabnya. “Apakah kiranya yang ingin Bapak ketahui?"

Maafkanlah orang tua ini,” kata orang tua itu selanjutnya sambil menatap Mahesa Jenar dengan penuh perhatian.

Maafkan aku, kalau aku berani mengatakan bahwa aku pernah bertemu dengan Anakmas di Demak.”

Mendengar pertanyaan ini Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia mulai mengingat-ingat, apakah ia benar-benar pernah bertemu dengan orang itu.

“Aku pernah datang ke Demak,” sambung Ki Asem Gede, “bersama-sama dengan kakakku, untuk mencoba
menyembuhkan sakit putera Panji Danapati, salah seorang perwira dari perajurit pengawal raja.”

Mendengar kata-kata Ki Asem Gede, tiba-tiba Mahesa Jenar jadi teringat pertemuannya dengan orang tua itu. Pada saat itu ia sedang berkunjung ke rumah kawan sepasukan yang pada saat yang bersamaan sedang memanggil dua orang tua untuk mengobati anaknya yang sedang sakit. Dan ia jadi teringat, bahwa salah seorang dari kedua orang itu, adalah yang sekarang berdiri di hadapannya.

Di sana...” Ki Asem Gede melanjutkan, “aku bertemu pula dengan seorang perwira lain, kawan Panji Danapati itu. Kenalkah Anakmas dengan Panji Danapati?”

Mahesa Jenar agak ragu, tetapi perlahan-lahan ia mengangguk juga.

Nah...” kata orang tua itu pula, “kalau begitu aku tidak salah lagi, Anakmaslah yang aku jumpai di ndalem
Danapaten. Benarkah?

Mahesa Jenar masih saja ragu-ragu. Sebenarnya ia ingin melupakan saja apa yang pernah terjadi. Meskipun sebenarnya ia masih ingin mengabdikan diri kepada negerinya, tetapi dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga, saudara seperguruannya, lebih baik ia menyingkirkan diri, dan mencari cara pengabdian yang lain.

Juga penegasan tentang dirinya akan mempermudah setiap usaha untuk menangkapnya, apabila ia dianggap berbahaya seperti Ki Kebo Kenanga. Ia tidak ingin kalau sampai terjadi bentrokan dengan orang-orang yang sedang menjalankan kewajibannya, serta,kawan-kawan seperjuangannya dahulu. Maka lebih baik baginya untuk menjauhkan diri saja dari setiap kemungkinan itu.

Tetapi sekarang ia tidak dapat mengingkari pertanyaan orang tua itu. Karena itu, kembali Mahesa Jenar mengangguk lemah.

Oleh anggukan itu, tiba-tiba Ki Asem Gede membungkuk lebih hormat lagi dan dengan suaranya yang lembut ia
berkata, “Kalau begitu Anakmas ini adalah tuanku Rangga Tohjaya.”

Perkataan Ki Asem Gede itu seperti petir datang menyambar telinga Ki Dalang Mantingan serta Demang Pananggalan. Ia pernah mendengar nama itu, bahkan nama itu terlalu besar untuk disebut-sebut sebagai seorang pahlawan yang sudah mengamankan Demak dari gangguan-gangguan kejahatan.

Mahesa Jenar sendiri agak terkejut juga mendengar nama itu disebutkan. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada mengiyakan. Sebab Ki Asem Gede itu pasti pernah mendengarnya dari Panji Danapati, bahwa ia sebagai seorang perwira pengawal raja, disamping namanya sendiri mendapat gelar Rangga Tohjaya.

Demang Pananggalan dan Ki Demang Mantingan masih berdiri termangu-mangu. Mereka masih belum yakin benar akan kata-kata Ki Asem Gede, sampai Ki Asem Gede menyapanya.

Adi Pananggalan dan Adi Mantingan, belumkah adi berdua pernah mendengar nama itu?”

Mereka berdua tersadar oleh sapa itu. Dengan hati-hati Demang Pananggalan mencoba bertanya, “Ki Asem Gede, aku memang pernah mendengar gelar itu serta kebesarannya, tetapi aku belum mengenal wajahnya, karena aku orang yang picik dan sama sekali tak berarti. Tetapi perkenankanlah aku bertanya bahwa beliau tadi berkenan menyebut gelarnya dengan Mahesa Jenar ...?”

Ki Asem Gede tertawa lirih.

Benar Adi berdua, Mahesa Jenar adalah namanya, sedang gelarnya sebagai seorang prajurit adalah Rangga
Tohdjaja.”

Hati Demang Pananggalan dan Dalang Mantingan berdegup keras.

Tetapi pandangan mata mereka masih mengandung seribu macam pertanyaan, sehingga akhirnya Mahesa Jenar sendiri mengambil keputusan untuk mengatakan keadaannya yang sebenarnya sebagai suatu hal yang tak mungkin lagi diingkari.

Bapak Demang dan Kakang Mantingan, memang sebenarnyalah aku yang bernama Mahesa Jenar, telah menerima anugerah nama sebagai seorang prajurit, Rangga Tohjaya.”

Mendengar penjelasan itu detak jantung Demang Pananggalan dan Dalang Mantingan serasa akan berhenti. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa mereka telah berhadap-hadapan dengan seorang yang sakti. Untunglah bahwa segala sesuatunya belum terlanjur. Kalau sampai terjadi Rangga Tohjaya mengeluarkan segala kesaktiannya maka sulitlah bagi mereka semua untuk dapat keluar dari halaman itu dengan masih bernafas.

Seperti digerakkan oleh satu tenaga penggerak, Dalang Mantingan dan Demang Pananggalan cepat-cepat melangkah maju ke hadapan Mahesa Jenar, dan bersama-sama membungkuk hormat. Dengan agak terputus-putus karena berbagai perasaan yang berdesakan di dada,

Demang Pananggalan berkata, “Kami mohon ampun ke hadapan Anakmas Rangga Tohjaya, bahwa kami telah berbuat suatu kesalahan yang besar sekali. Serta mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas kemurahan Anakmas yang tidak sekaligus menghabisi jiwa kami. Dan sekarang kami menyerahkan diri untuk menerima segala hukuman yang seharusnya kami jalani.

Categories

7 keajaiban dunia 7 wonders a pair of lover ABG abjad Adam Adat Tengger AdSense now speaks Indonesian Adu banteng adzan magrib Agama Tengger Ajisaka akuturasi hindu jawa Al Khazin alcohol Alkhazen all in one amatir Ambeien Ambon Amerika anak anak kelas 1 Angka 7 Angka 7 pakai sabuk Angka Tujuh angkot animal antimo Apa Itu Hoax apartemen Apoteker Apple aquarium Arab Arti Eureka Arti Sejarah artis Asah Otak Asal Bung Karno Asal Mula Hoax Asal Mula Kelenteng Asal Mula Teka-teki Silang Asal Mula TTS Asal usul Coklat Asal Usul Eureka Asal Usul Hoax Asal Usul Marga Batak Asal-usul Asal-usul Blackberry Asal-usul Duit Asal-usul Google Asal-usul Komputer Asal-usul Kota Bandung asal-usul lagadoni asal-usul mahameru Asal-usul Nama Indonesia Asal-usul Paman Sam asal-usul pizza Asal-usul Qwerty asal-usul semeru Asal-usul Vaksin Polio asal-usul wikileaks ASI at work ATM Australia Auto 2000 ayam betutu ayu ting ting Baby bad boys bahasa Arab bahasa Cirebon bahasa inggris bahasa Jawa bahasa Jepang bahasa sunda Bali Bali Aga Bali Asli Bali bird park Bali Mula Bali Safari Bali Turunan Baliaga bandung Bandungbondowoso Bangkok bangunan Barcelona Barrack Obama Bartender batak batu bata Batubara Sawah Lunto Bbm be thankful for the little thing Bear bebek Bejo belajar masak belajar. belalang kupu-kupu Bella Saphira bencong Benjol Bepe berenang bersyukur Best Bar Bidadari Bidpai biksu Bill Gates Bintang Toedjoe Biografi Bioskop bis kota BJ Habibie Blackberry Blind spot Blog Sejarah BMW BMW 320i Bohong di Internet bola golf Boobs vs. Willies borobudur Boston boxing Brain study Brebes brimob buah buaya bubur ayam Budaya Tengger budeg buku buku tabungan BUMN bunga mawar Bunker Batavia Bunker Jakarta Bunker Kota Tua Bupati Malang burung beo cafe camping Can I help you mam ? can't pay Candi Blitar candi bukit barisan candi muara tikus cape deh.. capucino Carl Lewis CCTV Celana dalam celana pendek celebration of life celine dion cemetery cendol Ceragem Cerita dari Cina Cerita Inspirasional Cerita Rakyat Cerita Rakyat Filipina Cerita Rakyat India Cerita Rakyat Iran Cerita Rakyat Jawa Barat Cerita Rakyat Jawa Timur Cerita Rakyat Kashmir Cerita Rakyat Malaysia Cerita Rakyat Merapi Cerita Rakyat Myanmar Cerita Rakyat Nusantara Cerita Rakyat Suku Indian Cherokee Cerita Rakyat Suku Maya Cerita Rakyat Turki Cerita Silat SH Mintardja Cerpen charm body fit cherry belle China China phone Chinese Chivas chocolate Church CIA Cicadas circle fly club golf clubbing coca cola coffe shop Coklat Afrodisiak Coklat untuk Seks Coklat Valentine Columbia Complete contact convenient cowo bodoh... cowo-cowo CPD CPM cucu Cup D cute cyber cafe Da'i Bachtiar daftar nama wali pitu Dahlan Iskan daihatsu danau Daun putri malu david beckham Dawet delight demo Demo Kerbau departemen kesehatan Dewata Cengkar Dewi Sekardadu Dian Sastro die hard digigit ular dijual butuh uang direct marketing direktur utama diskettes ditlantas polda dokter Dokter gigi dokter kandungan dokter THT Dongeng Dongeng Mancanegara Dora Sembada dosen DPR driver Durian e-KTP e-mail Ebook Tengger Bromo electrolux elephant Eloy Zalukhu Embargo embassy enchantment encim Engkoh Enter es keliling es teh manis Esemka Eureka Archimedes Eureka dan Sejarahnya Eureka Saya Menemukannya Eve Fabel Aesop Fabel Bidpai facebook fanta Farmer farmville FB FB Mayer FBI fengshui fenny rose fesbuk Finished Focus Foke Foklor Merapi fokus foya-foya frustasi Gaek Cukua Sabalah gajah hitam Galatama Galaxy tab Ganesha Blitar Ganesha Kala Dicuri ganteng tapi bandel ganti kartu Garam Gunung Krayan Garis Lurus Merapi Kraton Pantai Selatan Garis Lurus Yogya Garuda Magazine gema gembok dan anak kunci Gereja Bantul Gereja Candi get up Getuk Ginza Gogol Gogol Gempol Gogol Pasuruan Gogolan google Google talk Gorilla Greek and Roman Mythology Green Greg Riley Gudeg Gunung Batok Gunung sion Gunung Tengger guru hakim hamil Hanacaraka hand Hans Christian Andersen happiness hari kiamat Hari Lahir Yesus harta Hati Kudus Tuhan Yesus hayam headset health heart attck heaven Helicopter view helm hemorrhoid herin Hermawan Kartajaya Hikayat Tangkuban Perahu Hoax Holland bakery Hollywood Homo Honocoroko Humor humour huruf A semua huruf vokal Hut Kemerdekaan Ibu ikan baronang ikan belanak ikan kembung iman imigrasi impoten Indian boy Indomie Indonesia Info Inlandeer internet Interview ipad iPad2 iphone ipod IQ isi pulsa Istana Cipanas istri istri bawel ITB Iwak peyek Jalangkung jambu monyet James Watt Jamil Azzaini jangan dicoblos jangan menunggu Jataka Jepang Jogya joko Joko Widodo Joni Judo jujur juragan tanah just kidding Justin Bieber kaca spion Kacang dua kelinci kacang ijo Kacang mete kadal air kakek kambing Kambing hitam kambing putih kan pei kantor polisi kantor pos Kapan Yesus Lahir karburator karyawan baru Kasih Kata Duit Katolik Bantul KB suntik ke sambar petir Kebetulan Aneh Kebetulan Unik kehidupan Keistimewaan Yogyakarta Kejaksaan keju kekayaan Kelahiran Soekarno Kelapa kenalan kera sakti kerajaan sriwijaya Keraton Solo Keris Sarutama king of world Kisah Klasik Minang kisah merapi KL Klenteng Mbah Ratu Surabaya kode kode baru kodok komar komodo Komputer dari zaman ke zaman kopi Kost kota wisata kotak surat koto kampar KPK Kraton Solo kreditan TV Krisdayanti KTP Kudus kulkas second kunci mobil kuntilanak kurang gizi Kutoarjo lada hitam Ladies Lady gaga lamaholot lamanerin lampu merah langit biru Latte Laundry laut mati Learn to move on leaving office on time Lebaran Lee Myung Bak legenda gunung semeru Legenda Mbah Maridjan Legenda Mbah Petruk legenda merapi Legenda Sangkuriang Lemari es lemots life life in the world lift up Lilin Liposuction Logistics and organization Losarang Losmen lowongan kerja lubang hidung Luck mabal sakola Madura mahasiswa main rules Majesti Makam Mbah Soleh Makam Sunan Ampel Makan siang makassar Makna Sejarah Malaysia Malik Ibrahim manado manager Manager HRD Mancing mania Mancing. mang beca Mantri sunat maratus Mardi Lestari Marga Batak mario teguh masjid agung demak masjid akulturasi Masjid Ampel masjid ki ageng henis masjid laweyan masjid solo Masjid Sunan Ampel Masuknya Islam Indonesia Masuknya Islam Nusantara masya Allah Masyarakat Tengger Matador Spanyol Matematika Maulana Aliyuddin Maulana Ishak Maulana Malik Isroil Maulana Muhammad Ali Akbar Mbah Bolong Mbah Petruk Mbah Soleh Ampel Mbah Sonhaji Mbah Suwo Melinda membaca buku membalas budi member get member menado menara pisa mencret menelepon menggodaku Mercedez AutomaticI Mercy Merdeka meresapi Mertua mi instan michael Jackson mie mikrolet minum minuman keras Miss Malaysia Miss Universe Miss USA Mitos Mbah Petruk Mitos Merapi MK mom and wife mona money monogami monoton monyet motivasional motivation motivator Mr Bean MS Hidayat muara tikus mudik Muhammad Al Maghrobi murid Murid Sunan Ampel MySpace Nama Google Nanas nasi goreng Nasredin Hoja nazarudin nematus Nenek New York Nidji nightclub Jokes nilai jual nini-nini Novel Nyadran nyamuk Obama Oneng dan Badjuri orang bijak orang gila orang pintar Orang Rantai orang tua Oscar Wilde otak pria otak wanita pacaran pagar listrik pak Camat pak Lurah Pak RT pakis PAM Panchatantraa panjang pinang panjang umur Panwaslu Papua parang tritis Paris Hilton pasar pasien password Patung Kala Blitar patung Kala Dicuri pawisata pedagang baso pedagang ikan pejabat pusat Pejagan Kanci Pekalongan pekan baru pelangi Pembeli adalah raja Pemimpin yg baik pemuda pen drive pencipta lambang negara Indonesia pencuri pulsa pengadilan pengantin baru Pengemis pengumuman peniti penjual buah penjual sayur Penyakit Polio penyanyi dangdut Penyiar Peradaban Atlantis Perahu Bugis Perahu Makassar permaisuri Perut buncit Pesangon peternak sapi Petik Laut photographer Piala Dunia pilkada DKI Pinisi Pink Pintu yang selalu terbuka piramida Piramida Gunung Lalakon Pizza PLN pocong POLDA Poliandri Police officer Poligami Polio polisi poltak pom bensin positive thinking post office pramugara Pramugari productivity Professor Psikiater puasa public relation Purbakala Blitar Putus asa Qomar dan siti... Qurban Rabbit racun Radio raja raja sate H. Subali Ramadhan Ramlan rayuan si raja gombal Rendah hati Renungan Reunian reward point Rhino rice cooker Robot Roro Anteng Joko Seger Roro Jonggrang rorompok RS jiwa RS TNI AU Dr Salamun rule rumah bordil Saka salaki sakarat salesman Sandal Jepit sate. satpam Satya Yoga Sawah Gogol sawo matang Sayur SD Seafood pizza Sego Jagung Sejarah Sejarah Ampel sejarah angka 7 Sejarah Angka Tujuh Belanda sejarah artis Sejarah BlackBerry Sejarah Bromo Sejarah Bunker Jakarta Sejarah Coklat Sejarah Eureka sejarah garuda pancasila Sejarah Google Sejarah Gunung Merapi Sejarah Hanacaraka Sejarah Hoax Sejarah Indonesia Sejarah Islam Indonesia Sejarah Islam Nusantara Sejarah Istana Cipanas Sejarah Jakarta Sejarah Komputer Sejarah Kraton Solo Sejarah Kraton Yogyakarta sejarah lagadoni Sejarah Majapahit Sejarah Marga Batak Sejarah Masjid Ampel sejarah merapi sejarah minyak goreng Sejarah Nama Indonesia Sejarah Orang Rantai Sejarah Paman Sam Sejarah Pinisi Sejarah Polio Sejarah Prambanan Sejarah Qwerty Sejarah Roro Anteng sejarah rumah sakit sejarah semeru Sejarah Teka-teki SIlang Sejarah Tengger Sejarah TTS Sejarah Wali Sejarah Walisongo sejarah wikileaks sekolah minggu sekretaris selang oksigen Semangka Sembilan Makam di Ampel sendok Sentong Tengah sepak bola serangan jantung seribu setitik embun inspirasi Seven up Showroom Sianida siapa julian assange Siapa Mbah Maridjan siapa sultan hamid II siliaris pupil silverQueen SIM simbol pria simbol wanita Singapore Singkong sirkulasi darah Situs Purbakala Situs Purbakala Blitar Smash SMS SNSD Social networks Solo soto ayam space SPBU Muri Tegal SPG Starbucks status steve jobs STNK storeroom stroke student suami suami dan istri suami istri suami sekarat Sudirman suku sumbangan sun block sun go kong sun plaza Sunan Ampel Sunan Bonang Sunan Drajad Sunan Giri Sunan Gunung Jati Sunan Kalijaga Sunan Kudus Sunan Muria sunat superman supermarket supervisor Surabaya Surakarta surga Surya Paloh susah bernapas susu suzuki Swatch Syahrini Syeh Siti Jenar Syeh Subakir Syekh Piyobang Taekwondo tahayul tahta tahun uang Taiwan taj mahal Tambang Sawah Lunto Tanah abang tangkuban perahu Tanjung kodok taraweh Tarzan tatar sunda Teacher teka teki Teka Teki Silang tekad telepon koin telor Tempat Angker di Merapi Tempat lahir Bung Karno tempe Tenaga kerja Indonesia Tenganan Tengger Bromo terong ungu tersedak Terunyan test drive The Grimm Brothers The Hoax the winner Thomas Alfa Edison THR tidur tiga roda tiger wood tilang tinggi hati tips aman naik angkot tipung titik buta to be to have toilet Toyota Landcruiser Toyota xenia Tradisi Tengger Trivia Trowulan TTS Tuhan tukang baso tukang becak tukang cukur tukang jahit tukang kue tukang pos Tuna netra tuna wicara... turis arab tuyul ucok UGD UI ulang tahun Unesco Upacara Karo Bromo upload FB usb port ustadz Vaksin Polio Vegetarian vegetation Vermak Jin villa VOA volvo wali pitu Walisongo Walisongo Periode I Walisongo Periode II Walisongo Periode III wanita wanita duduk Warteg washington watches water wawancara WC wedding Whale wikipedia windows Wisata Bogor Wisata Cipanas Wisata Sawah Lunto Wisata Solo Wisata Sumatra Barat witches wong ndeso x-men yerikho Yogja Yuni shara zaman