Thursday, November 7, 2013
Inilah Para Wali (lebih dari Sembilan) Penyebar Islam di Jawa
Wali Songo atau Sembilan Wali merupakan guru Sufi yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Mereka dipercaya memiliki daya batin yang lebih daripada orang kebanyakan sehingga seringkali muncul kisah atau mitos mengenai mereka. Asal-usul wali ini tidak selalu jelas dan banyak yang meyakini, wali-wali tidak hanya berjumlah sembilan. Namun penjelasan yang paling mungkin adalah, ada sebuah dewan longgar sembilan tokoh agama , dan bahwa bila anggota yang lebih tua pensiun atau meninggal , anggota baru akan menggantikannya .
Peran paras wali ini sangat besar terutama menghubungkan dinasti-dinasti yang ada di Pulau Jawa. Mereka berhubungan dengan Sultan Yogya dan Surakarta, penguasa Mataram, sampai Majapahit. Mereka sangat populer karena dalam menyebarkan Islam mampu mengadaptasi seni tua dan tradisi dengan realitas Islam yang baru .
Sunan Gunungjati atau Kalijogo adalah tokoh penting yang membantu menciptakan Java - dan Indonesia - yang kita kenal sekarang .
Sebagian besar dari Walisongo menyebarkan Islam pada akhir 1400-an sampai pertengahan 1500-an. Berikut ini sejarah singkat mereka:
Sunan Gunungjati
Sunan Gunungjati menyebarkan Islam di Demak dan Banten , dan merupakan pendiri Cirebon. Banyak cerita mengatakan bahwa Gunungjati berasal dari Pasai, Aceh , yang lain mengatakan bahwa ia dari Pajajaran di Jawa Barat . Ia menikah dengan adik Sultan Trenggono Demak , dan memimpin ekspedisi militer untuk melawan Demak Banten ( yang masih Hindu pada waktu itu ) . Sebagai " Fatahillah " ia mengalahkan Portugis ketika bangsa itu mencoba untuk mengambil Sunda Kelapa ( sekarang Jakarta ) pada tahun 1527 .
Kisah Sunan Gunung Jati telah ada sejak 1470s dan 1480s , di bawah nama " Hidayatullah ". Tahun 1520-an aktif menyebarkan Islam , dan menyebut dirinya dengan nama " Fatahillah " . Tahun 1480s dipercaya ia menjadi cucu raja Pajajaran , dalam tahun 1520- an, ia berjuang Portugis di dekat Jakarta . Beberapa cerita mengatakan bahwa dia meninggal pada tahun 1568 , saat usianya 120 tahun. Namun beberapa ahli meragukan dan berpikir mungkin ada lebih dari satu Gunungjati .
Sunan Kudus
Disebut pula Ja'far Shadiq , pendiri Kudus , dan dipercayai berasal wayang golek. Ia mendirikan masjid di Kudus konon menggunakan pintu dari istana Majapahit. Ia menggantikan ayahnya , Sunan Ngudung yang wafat tahun 1550.
Sunan Kudus juga disebut Ja'far Shadiq , Ja'far atau as-Sadiq , yang juga merupakan nama seorang tokoh agama yang terkenal di Iran. Di Kota Kudus sendiri, ada sebuah acara yang disebut Buka Luwur. Warga mengganti tirai di sekitar makam Sunan Kudus. Acara ini diadakan pada tanggal 10 Muharram dalam kalender Islam - pada hari yang sama dimana Muslim Syiah mengingat kesyahidan Husain. Mungkin ini adalah pengingat waktu ketika wisatawan dari Iran dan India sering melakukan perjalanan ke pantai utara Jawa.
Sunan Giri
Disebut juga Raden Paku. Ia belajar di Melaka , mendirikan sekolah-sekolah Islam di Gresik , meramalkan kebangkitan Mataram , dan menyebarkan Islam sampai ke Lombok , Sulawesi , dan Maluku . Dia adalah seorang pendukung Islam ortodoks , dan menyetujui inovasi ( seperti " modernis " ulama Islam tahun 1800 dan 1900 ) . Sebuah cerita tradisional mengatakan bahwa ia anak dari seorang putri Hindu Blambangan dan Maulana Ishaq dari Melaka , yang pergi ke Blambangan untuk menyebarkan Islam . Sang putri dipaksa untuk meninggalkan dia dalam krisis dan sang putri terapung di laut dalam sebuah perahu kecil. Sang putri lantas diselamatkan oleh para pelaut . Sunan Giri kemudian menjadi murid Sunan Ampel , dan menikah dengan putri Sunan Ampel .
Sunan Giri II ( atau Sunan Delem )
Pangeran Sarif: murid Sunan Giri yang bekerja untuk menyebarkan Islam buat orang-orang Madura .
Sunan Prapen
Sunan Kalijogo
Disebut pula Raden Sahid. Ia menyebarkan Islan di Demak , murid Sunan Bonang mahasiswa , penasehat Senopati, ayah Sunan Muria . Sunan Kalijogo menghidupkan prosesi Grebeg , menambahkan perbendaharaan cerita Islam terhadap wayang kulit, dan mempromosikan penggunaan ritual tradisional dalam konteks Islam yang baru.
Tahun keterlibatan Sunan Kalijogo dalam pembangunan Masjid Demak ada beberapa versi. Ada yang menyebut tahun 1490an, ada pula yang mengatakan dia aktif pertengahan 1500-an .
Sunan Bonang
Merupakan putra Sunan Ampel. Ia menulis sebuah buku populer tentang teologi dan perilaku yang baik bagi umat Islam . Saat masih muda ia belajar dengan Sunan Giri di Melaka . Dia membantu membangun masjid besar di Demak . Sunan Bonang, menurut kisah adalah Sunan yang mengislamkan Sunan Kalijogo. Ia dimakamkan di Tuban .
Sunan Muria
Dikenal sebagai Raden Umar Said. Ia merupakan putra Kalijogo, yang kelak menjadi nama sebuah gunung. Ia menggunakan gamelan dan teater untuk membantu mempromosikan misinya . Dia lebih suka bekerja dengan orang-orang biasa di desa-desa terpencil .
Sunan Maulana Malik Ibrahim
Nama lainnya adalah Syeikh Maghribi. Dia seorang Arab yang tiba di Jawa pada 1404 dan bekerja di Gresik dan Leran sampai kematiannya pada tahun 1419 . Dia mendirikan sekolah Islam atau pesantren pertama di Jawa dan merupakan sepupu Sunan Ampel. Ia menyebarkan Islam sebelum wali songo lain sehingga dianggap pelopor di bidang penyebaran Islam di tanah Jawa .
Sunan Ampel
Disebut juga Raden Rakhmat menyebarkan Islam di Surabaya dan Jawa Timur. Sunan Ampel adalah pemimpin Walisongo . Dia keponakan Raja Majapahit , dan sepupu Raden Patah , Sultan Demak pertama . Dia sebenarnya lahir di Champa , kerajaan Islam di Vietnam. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah putranya . Sunan Giri tinggal bersamanya.
Sunan Drajad
Merupakan putra Sunan Ampel . Dia membangun masjid di Paciran ( utara Surabaya ) pada 1502 , dan dikenal lewat karya-karya sosial dan amal . Dia juga mempromosikan penggunaan gamelan .
Sunan Sendang
Bekerja di Paciran sampai 1585.
Sunan Ngudung
Dikenal sebagai pengulu Rahmatullah yang menyebarkan Islam di Matahun , dan meninggal dalam pertempuran melawan sisa-sisa Hindu Majapahit pada tahun 1513 . Ia adalah ayah dari Sunan Kudus .
Raden Hamzah ( atau Sunan Lamongan ) yang melakukan pekerjaannya di Lamongan .
Maulana Ibrahim Asmoro
Merupakan ayah dari Sunan Ampel . Ia dimakamkan di dekat Palang Tuban . Dia menikah dengan seorang putri dari Champa , yang sekarang Vietnam , dan mungkin berasal dari Asia Tengah .
Sunan Bayat
Menjalankan karya di sekitar Tembayat , dekat Yogya . Dia murid Sunan Kalijogo .
Sunan Bejagung
Menjalankan karyanya di dekat Tuban .
Syekh Sitti Jenar
Disebut juga Syekh Lemah Abang, dijatuhi hukuman mati karena keyakinan yang dianggap oleh beberapa orang sesat .
Raden Patah
Ia merupakan pendiri Demak yang kadang-kadang termasuk dalam daftar Sunan . Raden Patah adalah putra Kertanegara dengan putri Cina , dan dibesarkan oleh Aria Damar , saudara tirinya , yang telah dikirim untuk mengawasi Palembang dengan gelar Adipati. Dia berhubungan erat dengan Sunan Ampel sebelum melanjutkan ke kota dan menyusun kekuatan di Demak . Raden Patah termasuk keturunan raja-raja Jawa kuno (seperti Airlangga atau Hayam Wuruk ) , Sultan Mataram (seperti Agung ) , dan Sultan Yogya dan Susuhunan Surakarta .
Sunan Kuning
Disebut Susuhunan Mataram oleh pemberontak pada 1742 , melakukan karya di Semarang ) .
sumber
Wednesday, February 6, 2013
Malin Kundang
Malin Kundang
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. "Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.
Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan, maka ayah malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang.
Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.
Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.
Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan.
Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. "Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Asal-Usul Kota Surabaya
Asal-Usul Kota Surabaya
Dahulu, di lautan luas sering terjadi perkelahian antara ikan hiu Sura dengan Buaya. Mereka berkelahi hanya karena berebut mangsa. Keduanya sama-sama kuat, sama-sama tangkas, sama-sama cerdik, sama-sama ganas, dan sama-sama rakus. Sudah berkali-kali mereka berkelahi belum pernah ada yang menang atau pun yang kalah. Akhimya mereka mengadakan kesepakatan.
Dahulu, di lautan luas sering terjadi perkelahian antara ikan hiu Sura dengan Buaya. Mereka berkelahi hanya karena berebut mangsa. Keduanya sama-sama kuat, sama-sama tangkas, sama-sama cerdik, sama-sama ganas, dan sama-sama rakus. Sudah berkali-kali mereka berkelahi belum pernah ada yang menang atau pun yang kalah. Akhimya mereka mengadakan kesepakatan.âAku bosan terus-menerus berkelahi, Buaya,â kata ikan Sura.
âAku juga, Sura. Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak lagi berkelahi?â tanya Buaya.
Ikan Hiu Sura yang sudah memiliki rertcana untuk menghentikan perkelahiannya dengan Buaya segera menerangkan.
âUntuk mencegah perkelahian di antara kita, sebaiknya kita membagi daerah kekuasaan menjadi dua. Aku berkuasa sepenuhnyadi dalam air dan harus mencari mangsa di dalam air, sedangkan kamu berkuasa di daratan dan mangsamu harus yang berada di daratan. Sebagai batas antara daratan dan air, kita tentukan batasnya, yaitu tempat yang dicapai oleh air laut pada waktu pasang surut!â
âBaik aku setujui gagasanmu itu!â kata Buaya.
Dengan adanya pembagian wilayah kekuasaan, maka tidak ada perkelahian lagi antara Sura dan Buaya. Keduanya telah sepakat untuk menghormati wilayah masing-masing.
Tetapi pada suatu hari, Ikan Hiu Sura mencari mangsa di sungai. Hal ini dilakukan dengan sembunyi-sembunyi agar Buaya tidak mengetahui. Mula-mula hal ini memarig tidak ketahuan. Tetapi pada suatu hari Buaya memergoki perbuatan Ikan Hiu Sura ini. Tentu saja Buaya sangat marah melihat Ikan Hiu Sura melanggar janjinya.
âHai Sura, mengapa kamu melanggar peraturan yang telah kita sepakati berdua? Mengapa kamu berani memasuki sungai yang merupakan wilayah kekuasaanku?â tanya Buaya.
Ikan Hiu Sura yang tak merasa bersalah tenang-tenang saja. âAku melanggar kesepakatan? Bukankah sungai ini berair.
Bukankah aku sudah bilang bahwa aku adalah penguasa di air? Nah, sungai ini âkan ada airnya, jadi juga termasuk daerah kekuasaanku,â kata Ikan Hiu Sura.
âApa? Sungai itu âkari tempatnya di darat, sedangkan daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu adalah daerah kekuasaanku!â Buaya ngotot.
âTidak bisa. Aku âkan tidak pernah bilang kalau di air hanya air laut, tetapi juga air sungai,â jawab Ikan Hiu Sura.
âKau sengaja mencari gara-gara, Sura?â
âTidak! Kukira alasanku cukup kuat dan aku memang di pihak yang benar!â kata Sura.
âKau sengaja mengakaliku. Aku tidak sebodoh yang kau kira!â kata Buaya mulai marah.
âAku tak peduli kau bodoh atau pintar, yang penting air sungai dan air laut adalah kekuasaanku!â Sura tetap tak mau kalah.
âKalau begitu kamu memang bermaksud membohongiku ? Dengan demikian perjanjian kita batal! Siapa yang memiliki kekuatan yang paling hebat, dialah yang akan menjadi penguasa tunggal!â kata Buaya.
âBerkelahi lagi, siapa takuuut!â tantang Sura dengan pongahnya.
Pertarungan sengit antara Ikan Hiu Sura dan Buaya terjadi lagi. Pertarungan kali ini semakin seru dan dahsyat. Saling menerjang dan menerkam, saling menggigit dan memukul. Dalam waktu sekejap, air di sekitarnya menjadi merah oleh darah yang keluar dari luka-luka kedua binatang itu. Mereka terus bertarung mati-matian tanpa istirahat sama sekali.
Dalam pertarungan dahsyat ini, Buaya mendapat gigitan Ikan Hiu Sura di pangkal ekornya sebelah kanan. Selanjutnya, ekornya itu terpaksa selalu membelok ke kiri. Sementara ikan Sura juga tergigiut ekornya hingga hampir putus lalu ikan Sura kembali ke lautan. Buaya puas telah dapat mempertahankan daerahnya.
Pertarungan antara Ikan Hiu yang bernama Sura dengan Buaya ini sangat berkesan di hati masyarakat Surabaya. Oleh karena itu, nama Surabaya selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa ini. Dari peristiwa inilah kemudian dibuat lambang Kota Madya Surabaya yaitu gambar ikan sura dan buaya.
Namun adajugayang berpendapat Surabaya berasal dari Kata Sura dan Baya. Sura berarti Jaya atau selamat Baya berarti bahaya, jadi Surabaya berarti selamat menghadapi bahaya. Bahaya yang dimaksud adalah serangah tentara Tar-tar yang hendak menghukum Raja Jawa.Seharusnya yang dihukum adalah Kertanegara, karena Kertanegara sudah tewas terbunuh, maka Jayakatwang yang diserbu oleh tentara Tar-tar. Setelah mengalahkan Jayakatwang orang-orang Tar-Tar merampas harta benda dan puluhan gadis-gadis cantik untuk dibawa ke Tiongkok. Raden Wijaya tidak terima diperlakukan sepereti ini. Dengan siasat yang jitu, Raden Wijaya menyerang tentara Tar-Tar di pelabuhan Ujung Galuh hingga mereka menyingkir kembali ke Tiongkok.
Selanjutnya, dari hari peristiwa kemenangan Raden Wijaya inilah ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surabaya.
Surabaya sepertinya sudah ditakdirkan untuk terus bergolak. Tanggal 10 Nopmber 1945 adalah bukti jati diri warga Surabaya yaitu berani menghadapi bahaya serangan Inggris dan Belanda.
Di jaman sekarang, pertarungan memperebutkan wilayah air dan darat terus berlanjut. Di kala musim penghujan tiba kadangkala banjir menguasai kota Surabaya. Di musim kemarau kadangkala tenpat-tempat genangan air menjadi daratan kering. Itulah Surabaya.
Asal-Usul Danau Toba
Asal-Usul Danau Toba Di Sumatera Utara terdapat danau yang sangat besar dan ditengah-tengah danau tersebut terdapat sebuah pulau. Danau itu bernama Danau Toba sedangkan pulau ditengahnya dinamakan Pulau Samosir. Konon danau tersebut berasal dari kutukan dewa.
Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. âMudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar,â gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.
Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan. âTunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku.â Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. âBermimpikah aku?,â gumam petani.
âJangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata,â kata gadis itu. âNamaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu,â kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.
Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut. âDia mungkin bidadari yang turun dari langit,â gumam mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. âAku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus! â kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.
Setahun kemudian, kebahagiaan Petani dan istri bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.
Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. âYa, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!â kata Petani kepada istrinya. âSyukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik,â puji Puteri kepada suaminya.
Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. âAnak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan !,â umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu.
Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.
Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. âMudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar,â gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.
Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan. âTunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku.â Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. âBermimpikah aku?,â gumam petani.
âJangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata,â kata gadis itu. âNamaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu,â kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.
Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut. âDia mungkin bidadari yang turun dari langit,â gumam mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. âAku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus! â kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.
Setahun kemudian, kebahagiaan Petani dan istri bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.
Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. âYa, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!â kata Petani kepada istrinya. âSyukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik,â puji Puteri kepada suaminya.
Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. âAnak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan !,â umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu.
Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.
Kisah Kepahlawanan Abdullah ibn Haram
Kisah Kepahlawanan Abdullah ibn Haram
Abdullah ibn Haram ra adalah ayah dari Sahabat Mulia Jabir ibn Abdillah yang berasal dari Kaum Anshar, Kaum Anshar dikenal sebagai orang-orang yang teguh memegang janji dan komitmen baiat mereka dihadapan Rasulullah saw pada malam baiâtul aqabah ats-tsaniyah disaat Rasulullah meminta mereka utk melindungi beliau sebagaimana mereka melindungi anak, istri dan keluarga mereka.
Abdullah ibn Haram ra tidak pernah lalai selama masa hidupnya yang cukup singkat untuk melindungi dan menjaga Rasulullah saw selama 3 tahun hingga datangnya perang uhud.
Pada malam hari sebelum dimulainya pertempuran, Abdullah berkata kepada anaknya Jabir : â anakku, aku bermimpi bahwa aku adalah sahabat Rasul saw yang pertama kali memperoleh syahid, aku tidak meninggalkan kepada kalian sesuatu yang paling berharga bagi kalian kecuali diri Rasulullah saw, ayah memiliki hutang lunasilah dan berikan wasiat yang baik untuk saudara2mu â
ketika peperangan mulai berkecamuk, orang yang pertama kali terbunuh diantara dua pasukan itu adalah Abdullah ibn Haram ra, ketika pertemuran mulai reda tiba2 Jabir terlihat mengangkat baju dari jasad ayahnya Abdullah ibn Haram ra. saat itu Rasulullah mendengar tangisan seorang wanita, beliau bertanya: â siapa wanita ini?â . para sahabat menjawab: â ia adalah saudaranya Abdullahâ
Rasulullah mengatakan kepada wanita itu: âAnda menangisinya atau tidak, sungguh para malaikat masih menaunginya hingga kalian mengangkatnyaâ
Kemudian Rasulullah berkata kepada Jabir: âHai Jabir, maukah saya beri tahukan apa yang Allah katakan kepada ayahmu?â. Kata Jabir: â tentu mau Ya Rasulallah..â
Rasulullah saw bersabda: âTidak-lah Allah berbicara kepada seseorang melainkan dibelakang hijab, tapi tidak demikan dengan ayahmu, Allah berbicara dengan ayahmu secara langsung, Allah ta`ala berfirman: âHai hamba-Ku, mintalah kepadaku niscaya Aku akan mengabulkannyaâ, Abdullah berkata: âYa Rabbi.. sampaikan kenikmatan mati syahid ini kepada orang-orang yang datang sesudahkuâ. Kemudian Allah menurunkan firmanNya :
âJanganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.â ['Ali Imran: 169]
Dalam riwayat yang lain Rasulullah saw bersabda : âHai Jabir, tahukah kamu bahwa Allah swt menghidupkan ayahmu, lalu Dia berfirman kepadanya: â mintalah pada-Kuâ, maka ayahmu berkata: â aku ingin kembali ke dunia, dan terbunuh kembali di medan jihadâ, Allah berfirman: âSungguh Aku telah membuat ketentuan, bahwa orang yang telah mati tidak akan pernah dikembalikan lagi ke alam duniaâ
disaat yang bersamaan jasad salah seorang sahabat Nabi saw yaitu Amr ibn Jamuh dikuburkan satu liang kubur dengan Abdullah ibn Haram ra. sampai pada masa pemrintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan, saat itu banjir besar melanda Kota Madinah, sehingga menggusur dan merusak kuburan-kuburan disana, sehingga penduduk harus memindahkan tempat pemakaman.
disaat mereka mengeluarkan jasad para syuhada dari liang lahad yang rusak tersebut mereka mendapati kuburan Abdullah ibn Haram dan Amr ibn Jamuh ra tidak berubah, masih utuh, masih sama saat mereka dikuburkan pertama kali bahkan darah dari luka-luka keduanya masih mengucur segar..
Allah taâala mengharamkan jasad para syuhada untuk dimakan bumi sebagaimana jasadnya para Nabi dan Rasul.
Abdullah ibn Haram ra adalah ayah dari Sahabat Mulia Jabir ibn Abdillah yang berasal dari Kaum Anshar, Kaum Anshar dikenal sebagai orang-orang yang teguh memegang janji dan komitmen baiat mereka dihadapan Rasulullah saw pada malam baiâtul aqabah ats-tsaniyah disaat Rasulullah meminta mereka utk melindungi beliau sebagaimana mereka melindungi anak, istri dan keluarga mereka. Abdullah ibn Haram ra tidak pernah lalai selama masa hidupnya yang cukup singkat untuk melindungi dan menjaga Rasulullah saw selama 3 tahun hingga datangnya perang uhud.
Pada malam hari sebelum dimulainya pertempuran, Abdullah berkata kepada anaknya Jabir : â anakku, aku bermimpi bahwa aku adalah sahabat Rasul saw yang pertama kali memperoleh syahid, aku tidak meninggalkan kepada kalian sesuatu yang paling berharga bagi kalian kecuali diri Rasulullah saw, ayah memiliki hutang lunasilah dan berikan wasiat yang baik untuk saudara2mu â
ketika peperangan mulai berkecamuk, orang yang pertama kali terbunuh diantara dua pasukan itu adalah Abdullah ibn Haram ra, ketika pertemuran mulai reda tiba2 Jabir terlihat mengangkat baju dari jasad ayahnya Abdullah ibn Haram ra. saat itu Rasulullah mendengar tangisan seorang wanita, beliau bertanya: â siapa wanita ini?â . para sahabat menjawab: â ia adalah saudaranya Abdullahâ
Rasulullah mengatakan kepada wanita itu: âAnda menangisinya atau tidak, sungguh para malaikat masih menaunginya hingga kalian mengangkatnyaâ
Kemudian Rasulullah berkata kepada Jabir: âHai Jabir, maukah saya beri tahukan apa yang Allah katakan kepada ayahmu?â. Kata Jabir: â tentu mau Ya Rasulallah..â
Rasulullah saw bersabda: âTidak-lah Allah berbicara kepada seseorang melainkan dibelakang hijab, tapi tidak demikan dengan ayahmu, Allah berbicara dengan ayahmu secara langsung, Allah ta`ala berfirman: âHai hamba-Ku, mintalah kepadaku niscaya Aku akan mengabulkannyaâ, Abdullah berkata: âYa Rabbi.. sampaikan kenikmatan mati syahid ini kepada orang-orang yang datang sesudahkuâ. Kemudian Allah menurunkan firmanNya :
âJanganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.â ['Ali Imran: 169]
Dalam riwayat yang lain Rasulullah saw bersabda : âHai Jabir, tahukah kamu bahwa Allah swt menghidupkan ayahmu, lalu Dia berfirman kepadanya: â mintalah pada-Kuâ, maka ayahmu berkata: â aku ingin kembali ke dunia, dan terbunuh kembali di medan jihadâ, Allah berfirman: âSungguh Aku telah membuat ketentuan, bahwa orang yang telah mati tidak akan pernah dikembalikan lagi ke alam duniaâ
disaat yang bersamaan jasad salah seorang sahabat Nabi saw yaitu Amr ibn Jamuh dikuburkan satu liang kubur dengan Abdullah ibn Haram ra. sampai pada masa pemrintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan, saat itu banjir besar melanda Kota Madinah, sehingga menggusur dan merusak kuburan-kuburan disana, sehingga penduduk harus memindahkan tempat pemakaman.
disaat mereka mengeluarkan jasad para syuhada dari liang lahad yang rusak tersebut mereka mendapati kuburan Abdullah ibn Haram dan Amr ibn Jamuh ra tidak berubah, masih utuh, masih sama saat mereka dikuburkan pertama kali bahkan darah dari luka-luka keduanya masih mengucur segar..
Allah taâala mengharamkan jasad para syuhada untuk dimakan bumi sebagaimana jasadnya para Nabi dan Rasul.
Abu Nawas (Mengecoh Raja)
Abu Nawas (Mengecoh Raja)
Sejak peristiwa penghancuran barang-barang di istana oleh Abu Nawas yang dilegalisir oleh Baginda, sejak saat itu pula Baginda ingin menangkap Abu Nawas untuk dijebloskan ke penjara.
Sudah menjadi hukum bagi siapa saja yang tidak sanggup melaksanakan titah Baginda, maka tak disangsikan lagi ia akan mendapat hukuman. Baginda tahu
Abu Nawas amat takut kepada beruang. Suatu hari Baginda memerintahkan prajuritnya menjemput Abu Nawas agar bergabung dengan rombongan Baginda Raja Harun Al Rasyid berburu beruang. Abu Nawas merasa takut dan gemetar tetapi ia tidak berani menolak perintah Baginda.
Dalam perjalanan menuju ke hutan, tiba-tiba cuaca yang cerah berubah menjadi mendung. Baginda memanggil Abu Nawas. Dengan penuh rasa hormat Abu Nawas mendekati Baginda.
"Ampun Tuanku, hamba belum tahu." kata Abu Nawas.
"Kau pasti tahu bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Hutan masih jauh dari sini. Kau kuberi kuda yang lamban. Sedangkan aku dan pengawal-pengawalku akan menunggang kuda yang cepat. Nanti pada waktu santap siang kita berkumpul di tempat peristirahatanku. Bila hujan turun kita harus menghindarinya dengan cara kita masing-masing agar pakaian kita tetap kering. Sekarang kita berpencar." Baginda menjelaskan.
Kemudian Baginda dan rombongan mulai bergerak. Abu Nawas kini tahu Baginda akan menjebaknya. la harus mancari akal. Dan ketika Abu Nawas sedang berpikir, tiba-tiba hujan turun.
Begitu hujan turun Baginda dan rombongan segera memacu kuda untuk mencapai tempat perlindungan yang terdekat. Tetapi karena derasnya hujan, Baginda dan para pengawalnya basah kuyup. Ketika santap siang tiba Baginda segera menuju tempat peristirahatan. Belum sempat baju Baginda dan para pengawalnya kering, Abu Nawas datang dengan menunggang kuda yang lamban. Baginda dan para pengawal terperangah karena baju Abu Nawas tidak basah. Padahal dengan kuda yang paling cepat pun tidak bisa mencapai tempat berlindung yang paling dekat.
Pada hari kedua Abu Nawas diberi kuda yang cepat yang kemarin ditunggangi Baginda Raja. Kini Baginda dan para pengawal-pengawalnya mengendarai kudakuda yang lamban. Setelah Abu Nawas dan rombongan kerajaan berpencar, hujan pun turun seperti kemarin. Malah hujan hari ini lebih deras daripada kemarin. Baginda dan pengawalnya langsung basah kuyup karena kuda yang ditunggangi tidak bisa berlari dengan kencang.
Ketika saat bersantap siang tiba, Abu Nawas tiba di tempat peristirahatan lebih dahulu dari Baginda dan pengawalnya. Abu Nawas menunggu Baginda Raja. Selang beberapa saat Baginda dan para pengawalnya tiba dengan pakaian yang basah kuyup. Melihat Abu Nawas dengan pakaian yang tetap kering Baginda jadi penasaran. Beliau tidak sanggup lagi menahan keingintahuan yang selama ini disembunyikan.
"Terus terang begaimana caranya menghindari hujan, wahai Abu Nawas." tanya Baginda.
"Mudah Tuanku yang mulia." kata Abu Nawas sambil tersenyum.
"Sedangkan aku dengan kuda yang cepat tidak sanggup mencapai tempat berteduh terdekat, apalagi dengan kuda yang lamban ini." kata Baginda.
"Hamba sebenarnya tidak melarikan diri dari hujan.Tetapi begitu hujan turun hamba secepat mungkin melepas pakaian hamba dan segera melipatnya, lalu mendudukinya. Ini hamba lakukan sampai hujan berhenti." Diam-diam Baginda Raja mengakui kecerdikan Abu Nawas.
Aladin dan Lampu Ajaib
Aladin dan Lampu Ajaib
Perjalanan yang mereka tempuh sangat jauh sekali, dan pamannya tidak mengijinkan Aladin untuk beristirahat. Saat Aladin meminta pamannya untuk berhenti sejenak, pamannya langsung memarahinya. Hingga akhirnya mereka sampai di suatu tempat di tengah hutan. Aladin lalu diperintahkan pamannya untuk mencari kayu bakar. âNanti ya paman, Aladin mau istirahat duluâ, kata Aladin. Pamannya sangat marah setelah mendengar jawaban Aladin tersebut. âBerangkatlah sekarang, atau kusihir engkau menjadi katakâ, teriak pamannya. Melihat pamannya sangat marah,lalu Aladin bergegas berangkat mencari kayu.
Aladin adalah seorang laki-laki yang berasal dari Negara Persia. Dia tinggal berdua dengan ibunya. Mereka hidup dalam kesederhanaan. Hingga pada suatu hari ada seorang laki-laki yang datang kerumah Aladin. Laki-laki itu berkata kalau dia adalah saudara laki-laki almarhum bapaknya yang sudah lama merantau ke Negara tetangga. Aladin dan ibunya sangat senang sekali, karena ternyata mereka masih memiliki saudara.
âMalang sekali nasibmu saudarakuâ, kata laki-laki itu kepada aladin dan ibunya. âYang penting kita masih bisa makan,pamanâ, jawab Aladin. Karena merasa prihatin dengan keadaan saudaranya tersebut, maka laki-laki itu bermaksud untuk mengajak Aladin ke luar kota. Dengan seijin ibunya,lalu Aladin mengikuti pamannya pergi ke luar kota.
Setelah mendapatkan kayu, pamannya lalu membuat api dan mengucapkan mantera. Aladin sangat terkejut sekali, karena setelah pamannya membacakan mantera, tiba-tiba tanah menjadi retak dan membentuk lubang. Aladin mulai bertanya pada dirinya sendiri, âApakah dia benar pamanku? Atau dia hanya seorang penyihir yang ingin memanfaatkan aku saja?â
âAladin, turunlah kamu kelubang itu. Ambilkan aku lampu antic di dasar gua ituâ, suruh pamannya. âAKu takut pamanâ, kata Aladin. Pamannya lalu memberikan cincin kepada Aladin. âPakailah ini, cincin ini akan melindungimuâ, kata pamannya. Kemudian Aladin mulai turun kebawah.
Setelah sampai di bawah, Aladin sangat takjub dengan apa yang dia lihat. Di dasar gua tersebut Aladin menemukan pohon yang berbuahkan permata dan banyak sekali perhiasan. âCepat kau bawa lampu antiknya padaku, Aladin. Jangan perdulikan yang lainâ, teriak pamannya dari atas. Aladin lalu mengambil lampu antik itu, dan mulaimemanjat ke atas. Tetapi setelah hamper sampai di atas, Aladin melihat pintu gua sudah tertutup dan hanya terbuka sedikit. Aladin mulai berpikir kalau pamannya akan menjebaknya. âCepat Aladin, lemparkan saja lampunyaâ, teriak pamannya. âTidak, aku tidak akan memberikanlampu ini, sebelum aku sampai di atasâ,jawab Aladin.
Setelah berdebat, paman Aladin menjadi tidak sabar dan akhirnya "Brak!" pintu lubang ditutup, dan pamannya meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. Kini dia tau kalau sebenarnya laki-laki tersebut bukanlah pamannya, dan dia hanya diperalat oleh laki-laki itu. Aladin lalubmencari segala cara supaya dapat keluar dari gua, tetapi usahanya selalu sia-sia. "Aku sangat lapar, dan ingin bertemu ibuku, ya Tuhan, tolonglah hambamu ini !", ucap Aladin.Sambil berdoa, Aladin mengusap-usap lampu antik dan berpikir kenapa laki-laki penyihir itu ingin sekali memiliki lampu itu. Setelah digosok-gosok, tiba-tiba di sekelilingnya menjadi merah dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan. "Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan", saya adalah Jin penunggu lampu. Apa perintah tuan padaku?â, kata raksasa "Oh, kalau begitu bawalah aku pulang kerumah." "Baik Tuan, naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini", kata Jin lampu. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya. "Kalau tuan memerlukan saya, panggillah saya dengan menggosok lampu itu".
Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya. "Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya ?", kata Ibu Aladin. âIni adalah lampu ajaib Bu!â, jawab Aladin. Karena ibunya tidak percaya, maka Aladin lalu menggosok lampu itu. Dan setelah Jin lampu keluar, Aladin meminta untuk disiapkan makanan yang enak-enak. Taklama kemudian ibunya terkejur,karena hidangan yang sangat lezat sudah tersedia di depan mata.
Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada ibunya untuk memperistri putri raja. "Tenang Aladin, Ibu akan mengusahakannya". Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata kepunyaan Aladin. "Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku." Raja amat senang. "Wah..., anakmu pasti seorang pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa serta putriku". Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan meminta Jin lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian jin lampu datang dengan Istana megah di punggungnya. "Tuan, ini Istananya". Esok hari sang Raja dan putrinya datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. "Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu ?", Tanya sang Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan.
Tidak disangka, ternyata si penyihir ternyata melihat semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia berteriak-teriak, "tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !". Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan memerintahkan jin lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.
Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut karena istananya hilang. Aladin lalu teringat dengan cincin pemberian laki-laki penyihir. Digosoknya cincin tersebut, dan keluarlah Jin cincin. Aladin bertanya kepada Jin cincin tentang apa yang sudah terjadi dengan istananya. Jin Cincin kemudian menceritakan semuanya kepada Aladin. "Kalau begitu tolong bawakan istana dan istriku kembali lagi kepadakuâ, seru Aladin. "Maaf Tuan, kekuatan saya tidaklah sebesar Jin lampu," kata Jin cincin. "Kalau begitu, Tolong Antarkan aku ke tempat penyihir itu. Aku akan ambil sendiri", seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar tempat sang Putri dikurung. Putri lalu bilang kalau penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum Bir. Setelah mengetahui kalau penyihir itu tidur, maka Aladin menyelinap ke dalam kamar laki-laki penyihir tersebut.
Setelah berhasil masuk dalam kamar, Aladin lalu mengambil lampu ajaibnya yang penyihir dan segera menggosoknya. "Singkirkan penjahat ini", seru Aladin kepada Jin lampu. Penyihir terbangun, lalu menyerang Aladin. Tetapi Jin lampu langsung membanting penyihir itu dan melemparkan ke luar istana. "Terima kasih Jin lampu, bawalah kami dan Istana ini kembali ke tempatnya semula". Sesampainya di Persia Aladin hidup bahagia. Ia mempergunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.
Sinbad Si Pelaut
Sinbad Si Pelaut
Dahulu, di daerah Baghdad, timur tengah, ada seorang pemuda bernama Sinbad yang kerjanya memanggul barang-barang yang berat dengan upah yang sedikit, sehingga hidupnya tergolong miskin. Suatu hari, Sinbad beristirahat di depan pintu rumah saudagar kaya karena sangat lelah dan kepanasan.
Sambil istirahat, ia menyanyikan lagu. âNamaku Sinbad, hidupku sangat malang, berapapun aku bekerja dengan memanggul beban di punggung tetaplah penderitaan yang kurasakan.â Tak berapa lama muncul pelayan rumah itu, menyuruh Sinbad masuk karena dipanggil tuannya.
âApakah namamu Sinbad ?â, âBenar Tuanâ. âNamaku juga Sinbadâ, kata sang saudagar. Ia pun mulai bercerita, âDulu aku seorang pelaut. Ketika mendengar nyanyianmu, aku sangat sedih karena kau berpikir hanya kamu sendiri yang bernasib buruk, dulu nasibku juga buruk, orangtua ku meninggalkan banyak warisan, tetapi aku hanya bermain dan menghabiskan harta saja.
Setelah jatuh miskin aku bertekad menjadi seorang pelaut. Aku menjual rumah dan semua perabotannya untuk membeli kapal dan seisinya. Karena sudah lama tidak menemui daratan, ketika ada daratan yang terlihat kami segera merapatkan kapal. Para awak kapal segera mempersiapkan makan siang. Mereka membakar daging dan ikan. Tiba-tiba , permukaan tanah bergoyang. Pulau itu bergerak ke atas, para pelaut berjatuhan ke laut.
Begitu jatuh ke laut, aku sempat melihat ke pulau itu, ternyata pulau tersebut, berada di atas badan ikan paus. Karena ikan paus itu sudah lama tak bergerak, tubuhnya ditumbuhi pohon dan rumput, mirip seperti pulau. Mungkin karena panas dari api unggun, ia mulai bergerak liar. Mereka yang terjatuh ke laut di libas ekor ikan paus sehingga tenggelam. Aku berusaha menyelamatkan diri dengan memeluk sebuah gentong, hingga aku pun terapung-apung di laut. Beberapa hari kemudian, aku berhasil sampai ke daratan.
Aku haus, disana ada pohon kelapa. Kemudian aku memanjatnya dan mengambil buah dan meminum airnya. Tiba-tiba aku melihat ada sebutir telur yang sangat besar. Ketika turun, dan mendekati telur itu, tiba-tiba dari arah langit, terdengar suara yang menakutkan disertai suara kepakan saya yang mengerikan. Ternyata, seekor burung naga yang amat besar. Setelah sampai disarangnya, burung naga itu tertidur sambil mengerami telurnya.
Sinbad menyelinap dikaki burung itu, dan mengikat erat badannya di kaki burung naga dengan kainnya. âKalau ia bangun, pasti ia langsung terbang dan pergi ke tempat di mana manusia tinggal.â Benar, esoknya burung naga terbang mencari makanan. Ia terbang melewati pegunungan dan akhirnya tampak sebuah daratan. Burung naga turun di sebuah tempat yang dalam di ujung jurang. Sinbad segera melepas ikatan kainnya di kaki burung dan bersembunyi di balik batu.
Sekarang Sinbad berada di dasar jurang. Sinbad tertegun, melihat disekelilingnya banyak berlian. Pada saat itu, âBrukâ ada sesuatu yang jatuh. Ternyata gundukan daging yang besar. Di gundukan daging itu menempel banyak berlian yang bersinar-sinar. Untuk mengambil berlian, manusia sengaja menjatuhkan daging ke jurang yang nantinya akan diambil oleh burung naga dengan berlian yang sudah menempel didaging itu. Sinbad mempunyai ide. Ia segera mengikatkan dirinya ke gundukan daging.
Tak berapa lama burung naga datang dan mengambil gundukan daging, lalu terbang dari dasar jurang. Tiba-tiba, âKlang! Klang! Terdengar suara gong dan suling yang bergema. Burung naga yang terkejut menjatuhkan gundukan daging dan cepat-cepat terbang tinggi. Orang-orang yang datang untuk mengambil berlian, terkejut ketika melihat Sinbad.
Sinbad menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Kemudian orang-orang pengambil berlian mengantarkan Sinbad ke pelabuhan untuk kembali ke negaranya. Sinbad menjual berlian yang didapatnya dan membeli sebuah kapal yang besar dengan awak kapal yang banyak. Ia berangkat berlayar sambil melakukan perdagangan. Suatu hari, kapal Sinbad dirampok oleh paraperompak. Kemudian Sinbad dijadikan budak yang akhirnya dijual kepada seorang pemburu gajah. âApakah kau bisa memanah?â Tanya pemburu gajah.
Sang pemburu memberi Sinbad busur dan anak panah dan diajaknya ke padang rumput luas. âIni adalah jalan gajah. Naiklah ke atas pohon, tunggu mereka datang lalu bunuh gajah ituâ. âBaik tuan,â jawab Sinbad ketakutan. Esok pagi, datang gerombolan gajah. Saat itu pemimpin gajah melihat Sinbad dan langsung menyerang pohon yang dinaiki Sinbad. Sinbad jatuh tepat di depan gajah. Gajah itu kemudian menggulung Sinbad dengan belalainya yang panjang. Sinbad mengira ia pasti akan dibunuh atau di banting ke tanah.
Ternyata, gajah itu membawa Sinbad dengan kelompok mereka ke sebuah gunung batu. Akhirnya terlihat sebuah air terjun besar. Dengan membawa Sinbad, gajah itu masuk ke dalam air terjun menuju ke sebuah gua. âKu..kuburan gajah!â Sinbad terperanjat. Di gua yang luas bertumpuk tulang dan gading gajah. Pemimpin gajah berkata,âkalau kau ingin gading ambillah seperlunya. Sebagai gantinya, berhentilah membunuh kami.â Sinbad berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
Ia pulang dengan memanggul gading gajah dan menyerahkan ke tuannya dengan syarat tuannya tidak akan membunuh gajah lagi. Tuannya berjanji dan kemudian memberikan Sinbad uang. âSampai disini dulu ceritakuâ, ujar Sinbad yang sudah menjadi saudagar kaya. âAku bisa menjadi orang kaya, karena kerja keras dengan uang itu. Jangan putus asa, sampai kapanpun, apalagi jika kita masih muda,â lanjut sang saudagar.
Wisanggeni
Wisanggeni
Wisanggeni berarti bisanya api. berasal dari wisa = bisa dan geni = api. Tak peduli siapapun pasti dibakarnya. Musuh atau sodara, teman atau tetangga, kriteriannya hanya satu, yang dibicarakan adalah kebenaran, dan kebatilan adalah musuhnya.
Kelahiran Wisanggeni dalam jagad pewayangan adalah diluar kehendak dewa. Sebab Wisanggeni adalah manusia edan dalam arti yang sebenarnya. Wong edan ngomong kebenaran bukan pada tempatnya. Wong edan tidak peduli suasana dan siapa yang dihadapi. Wong edan tidak mengenal takut. Dan keedanan Wisanggeni tidak lebih dari ketakutan para dewa akan tuah yang dibawa.
Kelahiran Wisanggeni dalam jagad pewayangan adalah diluar kehendak dewa. Sebab Wisanggeni adalah manusia edan dalam arti yang sebenarnya. Wong edan ngomong kebenaran bukan pada tempatnya. Wong edan tidak peduli suasana dan siapa yang dihadapi. Wong edan tidak mengenal takut. Dan keedanan Wisanggeni tidak lebih dari ketakutan para dewa akan tuah yang dibawa.
=====
Dalam wiracarita Mahabharata, Wisanggeni adalah anak Arjuna dari Dewi Dresanala. Ia lahir karena Dresanala bersikukuh tidak menggugurkan kandungannya seperti tujuh bidadari yang juga hamil karena sebagai anugerah Dewa kepada Arjuna yang telah membebaskan kahyangan dari raksasa Niwatakawaca karena menginginkan Dewi Supraba.
Pada saat lahirnya, Wisanggeni membuat ontran-ontran di Kahyangan karena hendak dibunuh oleh kakeknya Batara Brama atas perintah Sang Hyang Giri Nata atau Batara Guru karena lahirnya Wisanggeni dianggap menyalahi kodrat. Tapi karena Wisanggeni adalah titisan Sang Hyang Wenang, dia luput dari bala tersebut.
Wisanggeni tumbuh dibesarkan oleh Batara Baruna (Dewa Penguasa Lauatan) dan Hyang Antaboga (Rajanya Ular yang tinggal di dasar bumi), yang menjadikan Wisanggeni punya kemampuan yang luar biasa. Di jagat pewayangan, dia bisa terbang seperti Gatotkaca dan masuk ke bumi seperti Antareja dan hidup di laut seperti Antasena.
Wisanggeni tinggal di Kahyangan Daksinapati bersama ibunya. Dan meninggal menjelang perang Bharatayuddha bersama Antasena atas permintaan Batara Kresna sebagai tumbal untuk kemenangan Pandawa atas perang tersebut.
Karakter Wisanggeni adalah mungkak kromo (tidak menggunakan bahasa kromo ketika bicara dengan siapapun) seperti halnya Bima. Dan dia punya kemampuan Weruh sadurungin winarah (mampu melihat hal yang belum terjadi).
=====
Syahdan lahirlah Bambang Wisanggeni di pertapaan Kendalisada, tempat Resi Mayangkaraâ¦
Dia berwajah tampan dan digariskan berwatak sahaja.
Dia berwajah tampan dan digariskan berwatak sahaja.
Lalu, bagaimanakah isi hati Wisanggeni? yang kelahirannya dituding menyelahi kodrat, sehingga Bethara Brama, sang kakek pun tega hendak mengambil nyawa nya.
Siapakah yang hendak dipersalahkan? Apakah ibu Dresanala? Perempuan dewi yang semata-mata memberi penghargaan tinggi kepada hidup jabang bayi Wisanggeni, sehingga bersikukuh menolak untuk menggugurkan kandungannya. Ataukah Sang Mintaraga atau Arjuna yang menanam benih di rahim ketujuh Dewi Kahyangan sebagai anugerah dari Sang Hyang Manikmaya, karena jasanya membebaskan kahyangan dari Prabu Winatakaca yang menginginkan Dewi Supraba?
Tiada yang berani menghakimi, namun bentuk kesalahan kodrat itulah yang harus dibinasakan, meski akhirnya gagal karena Wisanggengi dalam lindungan Sang Hyang Wenang.
Barangkali luka di hati yang tetap berakar menjadi energi yang menjadikannya satria berkemampuan luar biasa. Di bawah asuhan Sang Hyang Antaboga dan Bethara Baruna, Wisanggeni sanggup terbang layaknya Gatutkaca, ambles bumi seperti Antareja, dan berkubang tenang di lautan menandingi Antasena.
Barangkali luka di hati yang tetap berakar menjadi energi yang menjadikannya satria berkemampuan luar biasa. Di bawah asuhan Sang Hyang Antaboga dan Bethara Baruna, Wisanggeni sanggup terbang layaknya Gatutkaca, ambles bumi seperti Antareja, dan berkubang tenang di lautan menandingi Antasena.
Satria Pandhawa yang mempunyai sifat mungkak kromo atau tidak mau berbahasa halus pada siapapun termasuk pada Sang Bethara Guru ini tiada tandingan dan tiada yang mampu melawan. Seringkali dicap sebagai âwong edanâ karena tak mempan senjata apapun di dunia ini. Barangkali karena itulah, kematiannya dikehendaki seluruh dewa-dewa di kahyangan, dimana tekad baja dan semangat kekuatan luar biasanya kelak akan dapat membinasakan Pandhawa yang menang atas Kurawa.
Meski ia termasuk golongan weruh sakdurunge winarah (mampu melihat sebelum terjadi), tetap juga Wisanggeni menjalani takdirnya kemudian: Menjadi tumbal kemenangan Pandhawa. Sang satria Wisanggeni mati di tangan Bala Kurawa dengan legowo.
Entah semiris apa kidung Megatruh yang ditiupkan saat Wisanggeni meregang nyawa, memenuhi permintaan para dewa di kaendran Jonggring Saloka yang dititahkan pada Kresna, sebagai prasyarat kemenangan Pandhawa. Jasadnya moksa sesuai kehendak Sang Hyang Wenang.
Kahyangan Daksinapati tempat Dewi Dresanala mengasuh dan membuai Wisanggeni menangis.. menangis.. meratapi takdir yang pada akhirnya tetap terjadiâ¦
======
Wisanggeni adalah anak dari arjuna dengan dewi dresnala. sejak lahir merupakan simbol perlawanan terhadap kebhatilan. berani menentang keputusan bhatara guru yang terkadang dipengaruhi oleh dewi durga sehingga sering merugikan pandawa. sebelum datangnya wisanggeni yang sering protes ke langit jika pandawa di buat cilaka oleh dewata adalah aki semar.
Setelah wisanggeni lahir maka wisanggenilah yang sering menggebuk para dewa jika mereka melakukan kesalahan dan ketak adilan pada para pandawa. wisanggeni memiliki kewaskitaan yang sama dengan sri kresna. di gagrak wayang banyumas sering yang menyelesaikan masalah anak anak pandawa bukan sri rkesna tapi wisanggeni. disini digambarkan wisanggeni adalah gabungan sipat sipat yang luar biasa, cerdas, mengetahui masa depan, sakti seperti dewa, tapi ngoko dan tak berbahasa halus walo dialeganya halus (disini bedanya wisanggeni dengan antasena, sama sama ngoko tapi dialeg antasena kasar, sementara dialeh wisanggeni halus), dan juga wisanggeni itu pandai berdiplomatik dan tak cepet naik darah, bisa mengikuti strategi yg dibuatnya sehingga sering dijadikan pemimpin oleh anak anak pandawa.
Wisanggeni sangat sakti, bhatara guru saja kalah oleh wisanggeni. dalam cerita kelahiran wisanggeni bhatara guru sampe lari ke dunia karena di kayangan semua dewa di buat babak belur oleh wisanggeni. wisanggeni lahir dan besar seketika di tengah api kawah candradimuka. dan langsung dimomong oleh aki semar badranaya.
Kematianya?nah ini dia. ada yg bilang wisanggeni di masukan alam jin. yang pernah saya liat lakonya adalah. wisanggeni dan antasena di jadikan wiji kembali oleh hyang bhatara wenang. sebagai bentuk wujud bhakti untuk kemenangan pandawa.
======
Pemuda tampan berambut lurusâ¦â¦.
Mengapa kau sembunyikan tampan wajahmu dalam caping besar�
Mengapa kau sembunyikan gagah tubuhmu dalam kasut lusuh�)
Mengapa kau sembunyikan tampan wajahmu dalam caping besar�
Mengapa kau sembunyikan gagah tubuhmu dalam kasut lusuh�)
Wisanggeni â¦.., begitulah nama yang diberikan Sri Kresna
Dia telah dilahirkanâ¦.. Tangis pertamanya mengguntur bergulung â" gulung menembus keheningan langit dan gunung
Menghentak ketentraman, mencabut kemapanan jagat seolah tak terbendung
Dia telah dilahirkanâ¦.. Tangis pertamanya mengguntur bergulung â" gulung menembus keheningan langit dan gunung
Menghentak ketentraman, mencabut kemapanan jagat seolah tak terbendung
Duh jabang memerahâ¦â¦sungguh tampan tiada terkiraâ¦..
Terlahir dari rahim Dewi Dresanala sang Dewi dari Khayangan
Dalam peluk perlindungan Hanoman raja segala kera.
Tidak dalam peluk Ayahanda tercinta, Arjuna putra Pandawaâ¦
Ditiup ubun-ubun dengan mantra sakti Hanoman sebagai pelindung jiwa
Terlahir dari rahim Dewi Dresanala sang Dewi dari Khayangan
Dalam peluk perlindungan Hanoman raja segala kera.
Tidak dalam peluk Ayahanda tercinta, Arjuna putra Pandawaâ¦
Ditiup ubun-ubun dengan mantra sakti Hanoman sebagai pelindung jiwa
Kekuatan mahasakti mana lagikah yang mampu menembus mantra pelindungâ¦.?
Mengambil wisanggeni dalam lelap tidur berselimut daun talas
Kemana si Jabang bayi lenyap â¦..?, dibawa lari cahaya putih dalam sekejapâ¦.
Mengambil wisanggeni dalam lelap tidur berselimut daun talas
Kemana si Jabang bayi lenyap â¦..?, dibawa lari cahaya putih dalam sekejapâ¦.
Tak terbayang maha kemarahan Hanomanâ¦..
Diatas keluasan samuderaâ¦,
Batara Brama dalam gundah gulanaâ¦â¦
Betapa berat tugas yang diembanâ¦
Menghilangkan Wisanggeni dari peradabanâ¦
Batara Brama dalam gundah gulanaâ¦â¦
Betapa berat tugas yang diembanâ¦
Menghilangkan Wisanggeni dari peradabanâ¦
âDuh Batara Guruâ¦.., tak mengertikahâ¦.,tolakan jiwa yang adaâ¦..?â
âDuh batara Guruâ¦â¦, tak mengertikanâ¦., Wisanggeni adalah cucu dicintaâ¦..?â
âDuh batara Guruâ¦â¦, tak mengertikanâ¦., Wisanggeni adalah cucu dicintaâ¦..?â
Laluâ¦dengan berkaca kacaâ¦.
Dilepas jabang memerah dari atas langit samuderaâ¦.
Dilepas jabang memerah dari atas langit samuderaâ¦.
âKeluarlah dari peradaban..lenyaplah dari simpangan kodratâ¦., Biarlah samudera luas menjadi kubur bagimu cucukuâ¦..â
Sungguh..
Sebagai titisan Sang Hyang Wenangâ¦â¦.
Samuderapun seolah menyingkapâ¦., dan batara baruna penguasa semua lautan menangkapâ¦.
Sebagai titisan Sang Hyang Wenangâ¦â¦.
Samuderapun seolah menyingkapâ¦., dan batara baruna penguasa semua lautan menangkapâ¦.
Wisanggeni tumbuh dalam bimbingan Batara baruna dan Antaboga (raja segala ular)
Pemuda tampan berambut lurusâ¦â¦
Mengapa kau sembunyikan wajah tampanmu dalam caping besar�
Mengapa kau sembunykan gagah tubuhmu dalam kasut lusuh..?
Mengapa kau sembunykan gagah tubuhmu dalam kasut lusuh..?
Dan hari harimu adalah pelarianâ¦.., pertempuranâ¦.., perlawananâ¦..diburu dan terus diburuâ¦â¦..
Seperti air yang mengalir tak berhentiâ¦, datang berulang berganti gantiâ¦.
Begitu sabda Batara Guruâ¦..
Yang menyalahi kodrat merusak tatanan
yang menyalahi kodrat harus ditiadakan
Betapa lelahâ¦â¦â¦
Begitu sabda Batara Guruâ¦..
Yang menyalahi kodrat merusak tatanan
yang menyalahi kodrat harus ditiadakan
Betapa lelahâ¦â¦â¦
Duh batara jagat dewataâ¦â¦
Mengapakah aku harus ditiadakan, atas kodrat yang tidak pernah aku pilih�
Mengapakah aku harus ditiadakan, atas kodrat yang tidak pernah aku pilih�
Sungguh Wisanggeni tak mengerti. â¦
Ber Ayah Arjuna manusia, beribu Dewi Darsanala dari Sang Hyang jagat Dewa dewiâ¦
Lantaran Sang Manusia dan Dewiâ¦., tak sepantasnya berlahir Anak.
Pakem yang menyinggung harkat tertinggi kemanusiaan Arjunaâ¦.
Justru dibiarkanya Sang Dewi Hamil dan dibawa lari turun ke alam manusiaâ¦.
Ber Ayah Arjuna manusia, beribu Dewi Darsanala dari Sang Hyang jagat Dewa dewiâ¦
Lantaran Sang Manusia dan Dewiâ¦., tak sepantasnya berlahir Anak.
Pakem yang menyinggung harkat tertinggi kemanusiaan Arjunaâ¦.
Justru dibiarkanya Sang Dewi Hamil dan dibawa lari turun ke alam manusiaâ¦.
Sungguh bukan mau Wisanggeni terlahir menyalahi kodratâ¦
Sungguh bukan mau Wisanggeni membalik tatananâ¦
Sungguh tak Mengerti, jika Wisanggeni harus ditiadakanâ¦.
Sungguh bukan mau Wisanggeni membalik tatananâ¦
Sungguh tak Mengerti, jika Wisanggeni harus ditiadakanâ¦.
Lalu kenapakah Sang batara Guru, menghadirkan Dewi Dresanala dalam sisian hidup Arjuna�
Apakah karena Arjuna telah mengalahkan Raksasa Niwatakacana yang mengobrak obrik Khayangan karena menginginkan Dewi Supraba..?.
Tapi Mengapakah Hanya boleh Bersanding namun tidak boleh bertalianâ¦â¦
Duh Biyungâ¦â¦.., dalam lelah setiap pertempuranya..
Selalu Wisanggeni tak mengertiâ¦â¦.
Kenapa Putera Arjuna ini selalu diburuâ¦dan diburu oleh para Utusan Dewa.
Sungguh bukankah Dewa adalah pengatur dan pelindung segalaâ¦.
Siapakah yang membuat kodrat â¦. dan siapakah yang menyalahi kodrat..?
Selalu Wisanggeni tak mengertiâ¦â¦.
Kenapa Putera Arjuna ini selalu diburuâ¦dan diburu oleh para Utusan Dewa.
Sungguh bukankah Dewa adalah pengatur dan pelindung segalaâ¦.
Siapakah yang membuat kodrat â¦. dan siapakah yang menyalahi kodrat..?
(Pada Akhir ceritaâ¦â¦., Wisanggeniâ¦mati bersama sang Antasena menjadi tumbal untuk kemengan Pandawa dalam perang Bharatayudhaâ¦..
Dalam pewayangan Wisanggeni adalah maha kesaktian, bisa terbang laksana Gatotkaca, menembus bumi laksana Antareja, dan hidup di lautan laksana Antasenaâ¦..)

