Nih, yg suka Clubbing mohon disimak baik2…terutama buat para pria…..Suwer deh…kejadian Jumat malam minggu lalu di sebuah Club di Jakarta…
BEGINI:
Seorang bartender bernama dedy melihat seorang wanita muda masuk ke barnya. Cantik dan sangat sexy. Rok ketat pendek. . Penampilannya sangat menggoda dan mengguncang iman laki-laki manapun yang melihatnya.
Wanita itu memesan 1 sloki Chivas sambil melontarkan kerling mengundang, menghabiskannya dalam sekali teguk, lalu beranjak ke toilet.
Beberapa saat kemudian dia keluar dan langsung menghampiri si bartender.
"Kamu manajer di sini?", tanyanya dengan desis lembut sambil membelai ringan dagu bartender. (Bartender mulai berdegup jantungnya.).
"B..b..bu..bukan."
"Siapa manajernya?", kali ini jemari kiri lentiknya berpindah memainkan daun telinga bartender.
("Glek…"). "Pak …Ferly."
"Ke mana dia?", sekarang jemari lentik tersebut mengusap dan bermain di ujung bibir bartender.("Glek", bartender mulai merasa seluruh tubuhnya terangsang).
"Bbb..belum datang." Sekarang jemari itu masuk ke mulut bartender. Memainkan bibir dan lidahnya. Bartender tidak tahan lagi. Lidahnya mulai memainkan jemari lentik itu, bibirnya menghisap kencang.
Kemudian wanita itu berkata, "Bilangin nanti kepada Manajer kamu. Tadi perut saya mendadak mules, saya lalu ke toilet untuk buang air. Di sana nggak ada tissue, kran air juga tidak jalan. Saya sudah cebok, tapi tidak bisa cuci tangan!"
Wednesday, November 30, 2011
Tuesday, November 29, 2011
Nagasasra dan Sabuk Inten 001-002
NAGASASRA SABUK INTEN 001
AWAN yang hitam pekat bergulung-gulung di langit seperti lumpur yang diaduk dan kemudian dihanyutkan oleh banjir, sehingga malam gelap itu menjadi semakin hitam. Sehitam suasana Kerajaan Demak pada waktu itu, dimana terjadi perebutan pengaruh antara Wali pendukung kerajaan Demak dengan Syeh Siti Jenar.
Pertentangan itu sedemikian meruncingnya sehingga terpaksa diselesaikan dengan pertumpahan darah.
Syeh Siti Jenar dilenyapkan. Disusul dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga yang juga disebut Ki Ageng Pengging. Ki Kebo Kenanga ini meninggalkan seorang putra bernama Mas Karebet. Karena dibesarkan oleh Nyai Ageng Tingkir, kemudian Mas Karebet juga disebut Jaka Tingkir. Jaka Tingkir inilah yang kemudian akan menjadi raja, menggantikan Sultan Trenggana. Jaka Tingkir pula yang memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang.
Pada masa yang demikian, tersebutlah seorang saudara muda seperguruan dari Ki Ageng Pengging yang bernama Mahesa Jenar. Karena keadaan sangat memaksa, Jaka Tingkir pergi meninggalkan kampung halaman, sawah, ladang, serta wajah-wajah yang dicintainya. Ia merantau, untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tak diinginkan.
Telah bertahun-tahun Mahesa Jenar mengabdikan dirinya kepada Negara sebagai seorang prajurit. Tetapi karena
masalah perbedaan ajaran tentang kepercayaan, yang telah menimbulkan beberapa korban, ia terpaksa mengundurkan diri, meskipun kesetiannya kepada Demak tidak juga susut.
Hanya dengan bekal kepercayaan kepada diri sendiri serta kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Mahesa Jenar mencari daerah baru yang tidak ada lagi persoalan mereka yang berbeda pendapat mengenai pelaksanaan ibadah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit pilihan, pengawal raja. Ia bertubuh tegap kekar, berdada bidang. Sepasang tangannya amat kokoh, begitu mahir mempermainkan segala macam senjata, bahkan benda apapun yang dipegangnya. Sepasang matanya yang dalam memancar dengan tajam sebagai pernyataan keteguhan hatinya, tetapi keseluruhan wajahnya tampak bening dan lembut. Ia adalah kawan bermain Ki Ageng Sela pada masa kanak-kanaknya. Ki Ageng Sela inilah yang kemudian menjadi salah seorang guru dari Mas Karebet, yang juga disebut Jaka Tingkir, sebelum menduduki tahta kerajaan.
Meskipun mereka bukan berasal dari satu perguruan, tetapi karena persahabatan mereka yang karib, maka seringkali mereka berdua tampak berlatih bersama. Saling memberi dan menerima atas izin guru mereka masing-masing. Gerak Mahesa Jenar sedikit kalah cekatan dibanding dengan Sela yang menurut cerita adalah cucu seorang bidadari yang bernama Nawangwulan. Betapa gesitnya tangan Ki Ageng Sela, sampai orang percaya bahwa ia mampu menangkap petir.
Tetapi Mahesa Jenar lebih tangguh dan kuat. Dengan gerak yang sederhana, apabila dikehendaki ia mampu membelah batu sebesar kepala kerbau dengan tangannya. Apalagi kalau ia sengaja memusatkan tenaganya.
Pada malam yang kelam itu Mahesa Jenar mulai dengan perjalanannya dari rumah almarhum kakak seperguruannya, Ki Kebo Kenanga di Pengging. Ia sengaja menghindarkan diri dari pengamatan orang. Mula-mula Mahesa Jenar berjalan kearah selatan dengan menanggalkan pakaian keprajuritan, dan kemudian membelok ke arah matahari terbenam.
Setelah beberapa hari berjalan, sampailah Mahesa Jenar di suatu perbukitan yang terkenal sebagai bekas kerajaan seorang raksasa bernama Prabu Baka, sehingga perbukitan itu kemudian dikenal dengan nama Pegunungan Baka. Salah satu puncak dari perbukitan ini, yang bernama Gunung Ijo, adalah daerah yang sering dikunjungi orang untuk menyepi. Di sinilah dahulu Prabu Baka bertapa sampai diketemukan seorang gadis yang tersesat ke puncak Gunung Ijo itu.
Mula-mula gadis itu akan dimakannya, tetapi niat itu diurungkan karena pesona kecantikannya. Bahkan gadis itu
Dan karena kecantikannya pula Roro Jonggrang oleh Bandung Bandawasa, yang juga ingin memperistrinya setelah berhasil membunuh Prabu Baka, disumpah menjadi patung batu. Candi tempat patung itu lah yang kemudian terkenal dengan nama Candi Jonggrang.
Tetapi pada saat Mahesa Jenar menginjakkan kakinya di puncak bukit itu terasalah sesuatu yang tak wajar. Beberapa waktu yang lalu ia pernah mengunjungi daerah ini. Tetapi sekarang alangkah bedanya. Tempat ini tidak lagi sebersih beberapa waktu berselang. Rumput-rumput liar tumbuh di sana-sini.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, adalah ketika dilihatnya kerangka manusia. Melihat kerangka manusia itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak enak. Ia menjadi sangat berhati-hati karenanya. Tetapi ia menjadi tertarik untuk mengetahui keadaan di sekitar tempat itu. Ia menjadi semakin tertarik lagi ketika dilihatnya tidak jauh dari tempat itu terdapat beberapa macam benda alat minum dan batu-batu yang diatur sebagai sebuah tempat pemujaan. Dan di atasnya terdapat pula sebuah kerangka manusia.
Mahesa Jenar pernah belajar dalam pelajaran tata berkelahi mengenai beberapa hal tentang tubuh manusia. Itulah sebabnya maka ia dapat menduga bahwa rangka-rangka itu adalah rangka perempuan yang tidak tampak adanya tanda-tanda penganiayaan.
Cepat ia dapat menebak, bahwa beberapa waktu berselang telah terjadi suatu upacara aneh di atas bukit ini. Tetapi iatidak tahu macam upacara itu.
Untuk mengetahui hal itu, ia mengharap mendapat keterangan dari penduduk sekitarnya. Tetapi Mahesa Jenar menjadi kecewa ketika ia melayangkan pandangannya ke sekitar bukit itu. Tadi ia sama sekali tidak memperhatikan bahwa tanah-tanah pategalan telah berubah menjadi belukar.Agaknya sudah beberapa waktu tanah-tanah itu tidak lagi digarap.
Ketika ia sudah tidak mungkin lagi untuk mendapatkan keterangan lebih banyak lagi tentang kerangka-kerangka
tersebut, maka dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar dikepalanya, Mahesa Jenar melanjutkan
perjalanannya ke barat, menuruni lembah dan mendaki tebing-tebing perbukitan sehingga sampailah ia di atas puncak pusat kerajaan Prabu Baka.
Dari atas bukit itu Mahesa Jenar melayangkan pandangannya jauh di dataran sekitarnya. Di sebelah utara tampaklah kumpulan candi yang terkenal itu, yaitu Candi Jonggrang. Sempat juga Mahesa Jenar mengagumi karya yang telah menghasilkan candi-candi itu.
Menurut cerita, candi-candi yang berjumlah 1.000 itu adalah hasil kerja Bandung Bandawasa hanya dalam satu malam saja, untuk memenuhi permintaan Roro Jonggrang. Tetapi ketika ternyata Bandung Bandawasa akan dapat memenuhi permintaan itu, Roro Jonggrang berbuat curang. Maka marahlah Bandung Bandawasa. Jonggrang disumpah sehingga menjadi candi yang ke 1.000.
Candi itu dikitari oleh persawahan yang ditumbuhi batang-batang padi yang sedang menghijau. Daun-daunnya
mengombak seperti mengalirnya gelombang-gelombang kecil di pantai karena permainan angin.
NAGASASRA dan SABUK INTEN 002
TIBA-TIBA Mahesa Jenar teringat akan kerangka-kerangka yang ditemukannya di atas Gunung Ijo. Di dekat
persawahan yang sedang menghijau itu pasti ada penduduknya. Di sana, mungkin ia akan mendapat beberapa keterangan tentang kerangka-kerangka itu.
Karena pikiran itu maka segera ia menuruni bukit dan cepat-cepat pergi ke arah pedesaan di sebelah Candi Jonggrang di tepi Sungai Opak.
Ketika ia sampai di desa itu, terasa alangkah asingnya penduduk menerima kedatangannya. Anak-anak yang sedang bermain di halaman dengan riangnya, segera berlari-larian masuk ke rumah. Terasa benar bahwa beberapa pasang mata mengintip dari celah-celah dinding rumahnya.
“Apakah yang aneh padaku?” pikirnya.
Ia merasa susah untuk menemukan orang yang dapat diajak berwawancara untuk menjalankan beberapa soal, terutama mengenai peristiwa Gunung Ijo.
Rumah-rumah di kiri kanan jalan desa itu serasa tertutup baginya. Beberapa kali ia berjalan hilir mudik kalau-kalau ia berjumpa dengan seseorang yang dapat ditanyainya atau seseorang yang menyapanya. Tetapi sudah untuk kesekian kalinya tak seorang pun dijumpainya, dan tak seorang pun menyapanya. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengetuk salah satu dari sekian banyak pintu-pintu yang tertutup.
Tiba-tiba terasa sesuatu yang tidak wajar. Dari balik-balik pagar batu di sekitarnya, didengarnya dengus nafas yang tertahan-tahan. Tidak hanya dari satu-dua orang, tetapi rasa-rasanya banyak orang yang bersembunyi di balik pagar-pagar itu. Mahesa Jenar tidak mengerti maksud mereka mengintip dari balik-balik pagar. Karena itu ia pura-pura tidak mengetahui akan hal itu.
Tetapi ketika ia akan melangkahkan kakinya menginjak ambang regol sebuah halaman, berloncatanlah beberapa orang laki-laki dari balik pagar-pagar batu di sekitarnya. Semuanya membawa senjata. Golok-golok besar, ombak panjang dan pendek, pedang, keris dan sebagainya.
Mahesa Jenar sebentar terkejut juga, tetapi cepat otaknya bekerja. Ia segera mengambil kesimpulan bahwa agaknya memang pernah terjadi sesuatu di daerah ini. Ia juga menduga bahwa orang-orang itu tak bermaksud jahat. Mereka hanya berjaga-jaga dan waspada. Sebagai orang asing di daerah berbahaya sudah sepantasnyalah bahwa ia dicurigai. Itulah sebabnya ia mengambil keputusan untuk tidak berbuat apa-apa, dan hanya akan menurut semua perintah yang akan diterima.
Orang yang menjadi pemimpin rombongan itu berperawakan sedang. Badannya tak begitu besar, tetapi otot-ototnya yang kuat menghias seluruh tubuhnya. Diantara jari-jari tangan kanannya terselip sebuah trisula, yaitu sebuah tombak bermata tiga. Di sampingnya berdiri seorang yang berperawakan tinggi besar, berkumis lebat.
Pandangannya tajam berkilat-kilat. Ia tak bersenjata tajam apapun kecuali sebuah cambuk besar yang ujungnya lebih dari sedepa panjangnya, dan pada juntai cambuk itu diikatkan beberapa potongan besi, batu dan tulang-tulang.
Rupa-rupanya ia merupakan salah seorang tokoh terbesar dari para pengawal desa itu, disamping beberapa pengawal lain yang segera mengepungnya.
“Ikut kami!” Tiba-tiba terdengarlah sebuah perintah yang menggelegar keluar dari mulut orang yang tinggi besar itu.
Terasalah oleh Mahesa Jenar betapa orang yang tinggi besar itu ingin mempengaruhinya dengan suaranya.
Mahesa Jenar yang sudah mengambil keputusan untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan keributan,
menuruti perintah itu dengan patuh. Orang yang tinggi besar itu berjalan di depan bersama-sama dengan pemimpin rombongan, kemudian berjalanlah di belakangnya Mahesa Jenar diiringi oleh para pengawal.
Rombongan itu berjalan menyusur jalan desa menuju ke sebuah rumah yang agak lebih besar dari rumah-rumah yang lain, berpagar batu agak tinggi dan berhalaman luas. Mereka memasuki halaman itu dengan melewati sebuah gerbang yang dikawal orang di kiri-kanannya, sedangkan di halaman itu pun telah pula menanti beberapa orang laki-laki yang juga bersenjata. Diantara mereka berdirilah seorang laki-laki yang sudah agak lanjut usianya.
Pemimpin rombongan serta orang yang tinggi besar langsung mendatangi orang tua itu. Mahesa Jenar masih saja
mengikuti di belakangnya.
“Kakang Demang,” lapor pemimpin rombongan itu, “orang ini terpaksa kami curigai. Selanjutnya terserah
kebijaksanaan kakang.”
Orang tua yang ternyata demang dari daerah itu, mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa garis umur telah tergores
di wajahnya, tetapi ia masih nampak segar dan kuat. Wajahnya terang dan bersih. Giginya masih utuh, putih berkilat
diantara bibir-bibirnya yang tersenyum ramah.
“Ia sedang menyelidiki daerah kami, Kakang. Mungkin ia menemukan seorang gadis untuk korbannya,” tiba-tiba laki-laki yang tinggi besar itu menyambung dengan suaranya yang bergerat. Sesudah itu ia memandang berkeliling dan tampaklah setiap laki-laki yang kena sambaran matanya mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa.
Pikiran yang terang dari Mahesa Jenar segera dapat menghubungkan ucapan ini dengan kerangka-kerangka yang
ditemuinya di Gunung Ijo. Mungkin ucapan orang itu bertalian dengan peristiwa yang sedang menjadi tanda tanya di dalam hatinya.
Demang tua itu memandang Mahesa Jenar dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Umurnya yang telah lanjut, menolongnya untuk mengenal sedikit tentang watak-watak orang yang baru saja dijumpainya. Dan terhadap Mahesa Jenar, ia tidak menduga adanya maksud-maksud buruk.
“Bolehkah aku bertanya?” kata Demang tua itu dengan nada yang berat tetapi sopan dan rumah. “Siapakah nama Ki Sanak dan dari manakah asal Ki Sanak? Sebab menurut pengamatan kami, Ki Sanak bukanlah orang dari daerah kami.”
Mula-mula Mahesa Jenar ragu. Haruskah ia mengatakan keadaan yang sebenarnya, ataukah lebih baik menyembunyikan keadaan yang sebenarnya ...? Ia masih belum tahu, sampai di mana jauh akibat tindakan-tindakan pemerintah Kerajaan Demak terhadap para pengikut Syeh Siti Jenar. Kalau ia tidak berkata yang sebenarnya, maka ada suatu kemungkinan bahwa kecurigaan orang terhadapnya semakin besar. Mungkin pula ia ditangkap, ditahan atau semacamnya itu. Akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk mengatakan sebagian saja dari keadaannya.Oleh keragu-raguannya inilah maka sampai beberapa saat Mahesa Jenar tidak menjawab, sehingga ketika baru saja ia akan berkata, terdengarlah orang yang tinggi besar itu membentak, “Ayo bilang!”
Mahesa Jenar sebenarnya sama sekali tidak senang diperlakukan sedemikian, tetapi ia tidak ingin ribut-ribut. Maka dijawabnya pertanyaan itu dengan sopan pula, “Bapak Demang, kalau Bapak Demang ingin mengetahui, aku berasal dari Pandanaran. Aku adalah pegawai istana Demak, yang karena sesuatu hal ingin menjelajahi daerah-daerah wilayah Kerajaan Demak.”
Beberapa orang tampak terkejut mendengar jawaban ini.
Kisah Singa dan Tikus
Pada suatu hari, ketika seekor singa sedang tidur, seekor tikus berlari-lari di sekitarnya. Tikus beberapa kali menginjak tubuh singa hingga ia terbangun.
Singa menangkap tikus dan membuka mulut untuk memakannya.
“Tunggu,” kata tikus, “Jangan makan hamba Baginda. Hamba tahu hamba salah, hamba tidak akan mengganggu tidur Baginda lagi.”
“Baginda,” kata tikus lagi, “Ampuni dan lepaskan hamba, hamba berjanji akan menolong Baginda suatu hari nanti.”
Singa memegang tikus pada ekornya dan memandanginya. Ia tertawa dalam hati memikirkan bagaimana tikus itu kelak akan menolongnya. Namun ia tergerak oleh janji sang tikus dan melepaskannya.
Pada suatu siang, singa berjalan-jalan dalam hutan. Tiba-tiba ia masuk perangkap pemburu. pemburu pun menangkapnya dengan jaring besar dan mengikat jaring itu di pohon. Mereka kemudian pergi mengambil kereta untuk mengangkut singa itu.
Singa sedih dan putus asa. Ia berusaha melepaskan diri namun jaring itu terlalu ketat membelit tubuhnya hingga ia sulit bergerak.
Tiba-tiba ia merasa belitan jaring agak mengendur. Lalu ia mendengar suara pelan “Krrrket, krrekeett, ket,ket”
Suara aneh itu terus terdengar dan jaring terasa makin kendur.
Lalu, singa mendengar lagi. “Kett, krrrekett, ket, krekeeket, ket, kreket. Sabar, Baginda. Ket kret, sebentar lagi anda bebas. Kreket. Ket. kret”
Singa terkejut. Rupanya tikus menepati janjinya untuk menolongnya dalam kesulitan. Tikus menggigiti jaring sehingga berlubang cukup besar untuk mengeluarkan singa. Singa pun bebas.
Cerita...Pasien RS Jiwa
Seorang pasien RSJ terlihat tertawa-tawa sendiri sambil berdiri di samping sebuah!Toyota Landcruiser milik seorang Dokter
'ih Dokter payah masa 4x4 ga tahu sih!' kemudian dia menuliskan '=16' di belakang tulisan 4x4 dengan menggunakan sebuah batu tajam dan kemudian pergi.
Saat Dokter pemilik mobil itu sadar bahwa mobilnya telah di baret, dia sangat kesal, lalu membawanya ke bengkel cat utk merap...ikan mobilnya
... Setelah beberapa saat hal yang sama terulang,kembali. Si pasien RSJ berpikir, 'Wah memang selain payah, Dokter ini keras kepala juga...'
Lalu dia mengambil batu tajam dan menulis lagi '=16' seperti saat itu.
Karena terjadi terus menerus, si pemilik mobil itu putus asa, akhirnya dia sengaja menuliskan '=16' di belakang logo '4x4' dengan dicat dan dibuat sebagus mungkin.
Akhirnya orang gila itu melihat mobil tsb dan dilihatnya sdh tertulis '4x4=16'.
'Nah ini baru benar' pikirnya (sambil ambil batu lagi) dan kemudian dia menulis dibawahnya....
'PINTEERRR....!! Kalo 2x2 berapa??'
'ih Dokter payah masa 4x4 ga tahu sih!' kemudian dia menuliskan '=16' di belakang tulisan 4x4 dengan menggunakan sebuah batu tajam dan kemudian pergi.
Saat Dokter pemilik mobil itu sadar bahwa mobilnya telah di baret, dia sangat kesal, lalu membawanya ke bengkel cat utk merap...ikan mobilnya
... Setelah beberapa saat hal yang sama terulang,kembali. Si pasien RSJ berpikir, 'Wah memang selain payah, Dokter ini keras kepala juga...'
Lalu dia mengambil batu tajam dan menulis lagi '=16' seperti saat itu.
Karena terjadi terus menerus, si pemilik mobil itu putus asa, akhirnya dia sengaja menuliskan '=16' di belakang logo '4x4' dengan dicat dan dibuat sebagus mungkin.
Akhirnya orang gila itu melihat mobil tsb dan dilihatnya sdh tertulis '4x4=16'.
'Nah ini baru benar' pikirnya (sambil ambil batu lagi) dan kemudian dia menulis dibawahnya....
'PINTEERRR....!! Kalo 2x2 berapa??'
Cerita...Life in the World
Sometimes we are not aware that life in this world is a prison. Let's take a look at the back of our ancestors, Adam and Eve. And as we know Adam and Eve came to this earth in the status of serving, as it had breached the God.
This World is only temporary residence for offspring Adam and Eve. In consequence,
It is extremely ill-advised if humans made the world as a place to have fun, let alone assume the world is everything, a place to build the earthly powers.
If we understand the fact that a prison, we would not simply have a good handle mundane things, but in fact the world is a place for introspection.
It's not that we're resigned to not do anything because the status of the prison, but this world we should be able to find how the body is still growing. These bodies need to eat and drink, eat and drink in order to achieve that we have to move, we must seek and we should be looking for the quality of food and drink it.
It means in achieving food and beverage quality it has to go through a quality way, also not obtained from the way.
In addition to food and beverages, we also need a spiritual needs. To reach the spiritual needs of quality, we should be holding on to the thought that, as of today must be better than the yesterday and tomorrow shall be better than today. With the holding on rule, our quality of life will be good.
If we pass to the food and beverage quality, quality spiritual world as a place of imprisonment can give value to the quality of the man himself, and when completed serving in prison and out of jail (read: the world) and enter into eternal life, the quality of us as a great-grandson of Adam and Eve can be used to provision the eternal world.
This World is only temporary residence for offspring Adam and Eve. In consequence,
It is extremely ill-advised if humans made the world as a place to have fun, let alone assume the world is everything, a place to build the earthly powers.
If we understand the fact that a prison, we would not simply have a good handle mundane things, but in fact the world is a place for introspection.
It's not that we're resigned to not do anything because the status of the prison, but this world we should be able to find how the body is still growing. These bodies need to eat and drink, eat and drink in order to achieve that we have to move, we must seek and we should be looking for the quality of food and drink it.
It means in achieving food and beverage quality it has to go through a quality way, also not obtained from the way.
In addition to food and beverages, we also need a spiritual needs. To reach the spiritual needs of quality, we should be holding on to the thought that, as of today must be better than the yesterday and tomorrow shall be better than today. With the holding on rule, our quality of life will be good.
If we pass to the food and beverage quality, quality spiritual world as a place of imprisonment can give value to the quality of the man himself, and when completed serving in prison and out of jail (read: the world) and enter into eternal life, the quality of us as a great-grandson of Adam and Eve can be used to provision the eternal world.
Saturday, November 26, 2011
Cerita...Dikatain Homo...
ada percakapan seorang anak laki laki dan bapaknya
Bapak : Kenapa nangis nak
Anak : Aku dikatain sama temen
Bapak : Dikatain apa nak?
Anak : Dikatain HOMO!
Bapak : Kamu katain balik aja atau tonjok aja
Anak : Aku gk mau nonjok dia!
Bapak : Kenapa?
Anak : Masalahnya dia ganteng
Bapak : Kenapa nangis nak
Anak : Aku dikatain sama temen
Bapak : Dikatain apa nak?
Anak : Dikatain HOMO!
Bapak : Kamu katain balik aja atau tonjok aja
Anak : Aku gk mau nonjok dia!
Bapak : Kenapa?
Anak : Masalahnya dia ganteng
Friday, November 25, 2011
Kisah Bangau dan Kepiting
Seekor bangau hidup di dekat sebuah danau. Ia sudah mulai tua sehingga tidak kuat lagi mencari ikan. Ia memutuskan untuk menggunakan akalnya untuk mendapatkan makanan.
Ia pun berjalan-jalan di tepi danau dan sengaja menghela napas keras-keras. Seekor kepiting sedang melintas. Melihat bangau yang tampak sedih itu, ia menyapa, “Hai bangau, mengapa kau begitu sedih?”
“Tak lama lagi aku akan mati kelaparan,” kata bangau.
“Kemarin aku kebetulan mendengar dua nelayan menjala di danau ini. Salah satu mengatakan bahwa di danau ini banyak ikan dan mengajak temannya menjala di sini. Tetapi temannya berkata danau di sebelah sana lebih banyak ikannya. Jadi mereka akan pergi ke danau itu baru kemudian kembali kemari bila ikan di danau sana sudah habis.”
“Kau tahu, aku akan mati bila tak ada ikan lagi di sini,” lanjut bangau dengan suara sedih.
Kepiting mendengarkan dengan seksama. Kemudian ia menyelam dan memberitahukan berita buruk itu kepada semua ikan.
Dalam sekejab semua ikan berkumpul di dekat bangau. Seekor ikan berkata, “Bangau, kepiting sudah memberitahu kami. Sama seperti dirimu, kami juga dalam bahaya besar. Kau memang musuh kami, tetapi kami percaya kau dapat menolong kami.”
Bangau berpura-pura berpikir, lalu berkata, ”Aku sudah tua, apa yang bisa kulakukan untuk kalian. Aku tidak dapat menghalangi kedua nelayan itu.”
Ikan-ikan bercakap-cakap dengan suara berisik. Mereka juga terus membujuk bangau agar mau menolong mereka.
“Bangau,” kata seekor ikan. “Kau memang tidak dapat melawan nelayan, tetapi kau kan bisa memindahkan kami.”
Bangau masih memasang paras muka sedih. Ia pura-pura berpikir. Lalu ia berkata, “Aku pernah melihat sebuah danau di atas bukit. Airnya sangat jernih. Tampaknya banyak makanan untu kalian di sana. Nelayan tak mungkin dapat menemukan danau itu karena letaknya tersembunyi.”
Ikan-ikan sangat gembira. Tetapi mereka bingung melihat bangau sedih lagi.
“Kau seharusnya senang karena dapat menyelamatkan kami. Dengan begitu kau juga tidak akan kehabisan makanan.”
“Kalian kan tahu aku sudah tua. Bagaimana aku dapat membawa kalian semua?”
Ikan-ikan berunding. Akhirnya mereka mengambil keputusan.
“Kau dapat memindahkan kami sedikit-sedikit setiap hari,” kata seekor ikan tua. “Nelayan itu baru akan kembali beberapa minggu lagi. Kau dapat menyelamatkan kami.”
Bangau terlihat gembira seolah karena berhasil menemukan cara menolong ikan-ikan di danau.
“Baiklah, kita berangkat sekarang juga. Siapa siap pergi?”
Ikan-ikan berunding lagi. Akhirnya mereka sepakat bangau akan membawa tiga atau empat ikan setiap hari.
Bangau membuka paruhnya di atas permukaan air dan tiga ikan besar melompat masuk ke dalamnya. Bangau segera terbang membawa mereka. Setelah agak jauh, bangau turun ke darat dan memakan ikan-ikan itu.
Demikianlah, setiap hari bangau mendapatkan banyak makanan tanpa harus susah payah mencari ikan.
Beberapa hari berlalu, tibalah giliran kepiting untuk dipindahkan. Bangau yang menganggap kepiting sebagai musuhnya sangat gembira karena akhirnya kepiting masuk dalam perangkapnya.
“Aku tak dapat membawamu dalam paruhku. Jepitlah leherku dengan capitmu.”
Kepiting menjepit leher bangau. Berangkatlah mereka.
Ketika mereka mendekati tempat bangau biasanya makan, mata kepiting silau. Ada sesuatu di tanah yang memantulkan cahaya matahari. Kepiting penasaran, apa yang begitu menyilaukan? Setelah lebih dekat ia melihat bahwa benda putih yang memantulkan cahaya itu adalah setumpuk tulang ikan.
Sadarlah kepiting bahwa bangau telah memperdaya mereka.
Kepiting langsung memperketat jepitan capitnya di leher bangau. Bangau tidak dapat bernapas. Ia pun jatuh ke tanah dan mati.
