Tuesday, May 31, 2011

Batu Ajaib

Ketika perpustakaan besar di Alexandria terbakar, ada satu buku yang terselamatkan. Namun buku itu bukanlah buku yang berharga dan seorang lelaki miskin yang dapat membaca sedikit-sedikit, membelinya dengan harga beberapa keping uang tembaga.

Buku itu tidak terlalu menarik, namun di antara lembar-lembarnya ada sesuatu yang sangat menarik, secarik kulit yang berisi rahasia batu ajaib.

Batu ajaib adalah sebuah batu kecil yang dapat mengubah benda logam apapun menjadi emas. Tulisan pada kulit itu menjelaskan bahwa batu ajaib itu ada di antara batu-batu lain dan tampak seperti batu biasa. Rahasianya adalah batu ajaib terasa hangat bila dipegang sedangkan batu-batu biasa terasa dingin.

Jadi lelaki itu menjual hartanya yang hanya sedikit, membeli perbekalan dan berkemah di pantai. Ia pun mulai mencari batu ajaib itu.

Ia tahu bahwa bila mengambil batu biasa dan meletakkannya lagi karena batu itu dingin, ia mungkin mengambil batu yang sama lagi berkali-kali. Jadi ketika ia merasa sebuah batu dingin di tangannya, ia melemparkannya ke laut. Ia menghabiskan sepanjang hari tetapi tidak juga menemukan batu ajaib.

Inilah yang ia lakukan berulang-ulang. Ambil satu batu. Dingin. Buang ke laut. Ambil satu batu lagi. Buang ke laut.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Namun pada suatu hari, menjelang siang, ia mengambil sebuah batu dan batu itu hangat. Ia melemparkannya ke laut sebelum menyadari apa yang telah ia lakukan. Ia telah membentuk sebuah kebiasaan yang sangat kuat untuk melemparkan semua batu ke laut sehingga ketika ia menemukan batu yang sangat diinginkannya, ia tetap membuangnya.

Begitu juga halnya dengan kesempatan. Bila kita tidak waspada, kita sering gagal mengenali kesempatan yang ada di tangan kita, dan dengan mudah kita membuang kesempatan itu.

Monday, May 30, 2011

Bung Karno Lahir di Surabaya

Menyangkut Presiden pertama RI, Soekarno alias Bung Karno, terdapat kesesatan sejarah pada buku masa Orde Baru. Diterangkan Bung Karno lahir di Blitar pada 6 Juni 1901. Padahal proklamator Indonesia itu lahir di Surabaya, di Jalan Pandean IV/40.

Menurut Ketua Umum Soekarno Institute, Peter A. Rohi, menyatakan, untuk meluruskan sejarah, warga Surabaya akan memasang prasasti di rumah tersebut pada 6 Juni 2011 mendatang, bertepatan dengan hari ulang tahun Soekarno.

Prasasi itu dipasang sebagai tanda bahwa Soekarno benar-benar dilahirkan di Surabaya, bukan di Blitar seperti yang selama ini ditulis dan disebarluaskan ke masyarakat. “Kami akan memasangnya di rumah kelahiran Sang Proklamator dan juga Presiden Pertama Soekarno,” kata Peter, Selasa, 31 Mei 2011.

Peter menjelaskan, nantinya, prasasti akan dibuka dan diresmikan langsung oleh Prof. Ir. Hariono Sigit, putra dari Utari atau istri pertama Ir. Soekarno. Dalam prasasti tertera gambar Soekarno dan tulisan berisi penegasan rumah kelahirannya.

Dijelaskan Peter, Bung Karno lahir di sebuah rumah kontrakan di Jalan Lawang Seketeng, Surabaya, yang sekarang berubah nama menjadi Jalan Pandean IV. Ayahnya bernama Raden Soekemi seorang guru Sekolah Rakyat dan ibunya bangsawan Bali bernama Ida Ayu Nyoman Rai. “Jalan Lawang merupakan tempat berkumpulnya ‘Laskar Pemuda Revolusi’ pimpinan Soekarno di zaman penjajahan dulu. Di kampung tersebut juga ada rumah Mayjen Soengkono, Bung Tomo, serta Gubernur Suryo,” terangnya.

Mengomentari kelahiran Sang Proklamator yang disebut lahir di Blitar, Peter sangat menyayangkan sikap pemerintah. Padahal, lanjutnya, berbagai buku-buku sejarah dan arsip nasional mencatat Soekarno dilahirkan di Surabaya. “Saya heran kenapa sejarah diputarbalikkan begitu?”

Bahkan, tegas Peter, mantan Kepala Perpustakaan Blitar sudah mengakui hal itu.

Untuk menguatkan dalilnya, lelaki tersebut menunjukkan puluhan koleksi buku sejarah yang menuliskan Soekarno lahir di Surabaya. Di antaranya, buku berjudul ‘Soekarno Bapak Indonesia Merdeka’ karya Bob Hering, ‘Ayah Bunda Bung Karno’ karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto tahun 2002, ‘Kamus Politik’ karangan Adinda dan Usman Burhan tahun 1950, ‘Ensiklopedia Indonesia’ tahun 1955, ‘Ensiklopedia Indonesia’ tahun 1985, dan ‘Im Yang Tjoe’ tahun 1933 yang ditulis kembali oleh Peter A. Rohi dengan judul ‘Soekarno Sebagai Manoesia’ pada tahun 2008.

Peter berharap bangsa Indonesia mengetahui dan menyadari kekeliruan ini.  “Harus disadari, bahwa selama ini keliru, Soekarno bukan dilahirkan di Blitar tetapi di Surabaya,” katanya bersemangat.
Ia menceritakan, pasca tragedi G30S/PKI, semua buku sejarah ditarik dan diganti di Pusat Sejarah ABRI pimpinan Nugroho Notosusanto. “Tapi saya heran, kenapa ada pergantian kota kelahiran Soekarno?” (dirangkum dari vivanews.com)

WUTHERING HEIGHTS: Pembalasan Dendam atas Nama Cinta



Resensi oleh : Noviane Asmara
 
Judul : WUTHERING HEIGHTS: Pembalasan Dendam atas Nama Cinta
Penulis : Emily Brontë
Alih Bahasa : Lulu Wijaya
Tebal : 488 halaman, 20 cm
Harga : Rp 55,000
ISBN : 978-979-22-6278-9
Cover : Soft Cover
Genre : Sastra Klasik
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, April 2011


Cinta memang ajaib. Dapat dengan sekejap membuat bahagia dan tak selang berapa lama mengubahnya menjadi benci.
Bagaimana seseorang yang dulu begitu sangat mencintai orang yang dikira adalah belahan jiwanya tiba-tiba berubah menjadi sosok yang teramat mendendam.
Bagaimana seseorang kehilangan kekasih hati dengan menanggung kerinduan yang selalu menyiksanya dan menghantuinya hingga maut datang.
Dan semua itu karena Cinta.

Adalah Heatcliff, tanpa nama belakang dan tanpa asal usul yang jelas. Datang sebagai ‘oleh-oleh’ yang dibawa oleh Mr. Earnshaw dalam perjalanan pulang berbisnisnya dari London. Ia ditemukan terlantar di jalanan kota London. Dan akhirnya atas kebaikan hati ia diadopsi oleh Mr. Earnshaw, pemilik Wuthering Heights yang berumur singkat. Ia tumbuh bersama kedua anak Mr. Earnshaw. Catherine Earnshaw, seorang gadis muda bandel dan judes tetapi penuh gairah, yang mau menjadikan Heatcliff teman bermain. Dan Hindley ,anak lelaki Earnshaw yang tidak sudi menjadikan Heatcliff saudara angkatnya dan memusuhinya sepanjang hidupnya.

Sepeninggal Earnshaw tua, kehidupan Heatcliff di Heights mulai berubah. Hindley yang telah membencinya sejak dulu kini menjadi tuan rumah Heights dan memperlakukan Heatcliff begitu buruk bak seorang pelayan.
Kebencian demi kebencian tumbuh dengan cepat di Wuthering Heights. Seiring dengan perasaan cinta antara Heatcliff dan Chaterine pun kian berkembang. Heatcliff menginginkan Chaterine dan tidak berniat untuk kehilangannya, karena ia ingin selalu menjaga dan menjadikan Catherine belahan jiwanya. Cinta yang begitu egois dan posesif.

Perubahan sikap terjadi pada Cahterine, saat ia dan Heatcliff bermain dan tersesat di Thrushscross Grange―kediaman keluarga Linton. Rumah yang ditinggali oleh keluarga yang 180 derajat berbeda keluarga Earnshaw dari segi kebiasaan dan perilaku. Keluarga terhormat dan terpandang yang mengutamakan  nilai-nilai sosial dalam lingkungan. Di sana Catherine bertemu dengan Edgar Linton, anak lelaki tampan, berkulit putih dan mempunyai rambut pirang yang kelak dipilih Catherine sebagai pasangan hidupnya.

Aku mencintai tanah yang dipijak kakinya, dan udara di atas kepalanya, dan segala yang disentuhnya, dan setiap kata yang diucapkannya. Aku mencintai setiap penampilannya, dan setiap perbuatannya, dan dirinya seluruhnya dan sekaligus.” (hal.114)

Heatcliff pergi dan menghilang. Melarikan diri dari kenyataan bahwa dirinya tak layak dipilih oleh Catherine yang ia cintai sejak kecil, hanya karena perbedaan strata sosial. Dia merasa terkoyak antara kemarahan dan penghinaan yang ia derita karena cinta.
Tapi tiga tahun kemudian Heatcliff muncul kembali ke Gimmerton dengan berbalut pribadi yang berbeda. Seorang pria kaya dan berpendidikan. Dan yang terburuk, ia datang membawa selusin kebencian dan rencana pembalasan dendam yang tak terperi.
Kedatangannya mengubah kehidupan Catherine yang sudah tenang menjadi bergejolak kembali, akibat perasaan yang sama-sama mereka pendam untuk saling mencintai sekaligus menyakiti satu sama lain.

Andai aku bisa terus memelukmu, sampai kita berdua mati! Aku takkan peduli dengan penderitaanmu. Kenapa kau tidak boleh menderita? Aku menderita! Apakah kau akan melupakanku? Apakah kau akan bahagia kalau aku sudah dikubur? Apakah kau akan berkata dua puluh tahun lagi, ‘itu makam Catherine Earnshaw'. Aku pernah mencintainya dahulu sekali, dan hatiku hancur saat kehilangan dia; tapi itu sudah berlalu.” (hal.229)

Pembalasan dendam bersemi akibat benci dan sakit hati yang telah mengakar kuat di hati Heatcliff yang kelam. Hati di mana rasa sayang telah mati dan tidak ada tempat untuk sebongkah empati.
Sebuah dendam yang akibatnya harus ditanggung oleh orang-orang yang tidak mengerti apa itu dendam, yang mengubah mereka menjadi iblis sesat layaknya Heatcliff si pembawa virus jahanam itu.
Pembalasan dendam yang harus ditebus dengan harga mahal sekali. Harga yang tidak akan pernah setara apabila semua nyawa tak berdosa dari keturunannya dicabut paksa.

Berlatar belakang dari dataran Yorkshire di abad ke-18 yang kasar dan liar, Wuthering Heights adalah kisah gairah kerinduan yang tak terkendali sekaligus upaya balas dendam yang melekat kental.
Membaca kisah ini jangan berharap akan menemukan akhir cerita yang bahagia. Cerita yang sejak halaman pertama dibuka sudah menyajikan alur yang mau tak mau memaksa kita untuk mulai ikut membenci setiap tokohnya yang egois dan tak berhati sekaligus memberi rasa iba dan sakit hati yang luar biasa dalam dan menyiksa.
Kelam dan suram, itulah kata yang pantas untuk menggambarkan novel yang terbit pertama kali tahun 1847 ini. Emosi kita seakan terkuras habis dan tak menyisakan sedikit pun air mata untuk sekedar berduka. Sesak napas yang melandaku saat membacanya semakin menambah aura suram yang terpancar dan sulit untuk memulihkannya. Terasa hidup dalam dunia abu-abu dan hitam tanpa segarispun putuh membentang di antaranya, di mana tawa dan bahagia adalah hal tersulit bahkan menjadi mustahil untuk dimiliki.

Walau begitu bintang lima tidaklah menjadi mustahil dan layak disandangkan untuk kekelaman cerita yang lahir dari buah pikir cemerlang seorang Emily Brontë di zamannya.

Emily Brontë (1818-1848) adalah anak kedua dari tiga bersaudari Brontë yang termasyur. Bersama saudara lelaki mereka, mereka tumbuh di desa Haworth di kawasan Yorkshire yang terpencil, tanpa pendidikan formal dan perhatian yang cukup. Peka, pemalu, dan amat tertutup, dan sama sekali tak sanggup menerima pendisiplinan apa pun, Emily Brontë menulis satu jilid puisi yang digubah dengan cermat. Dia mencurahkan pikiran-pikiran rahasia dari jiwanya yang tersiksa ke dalam Wuthering Heights (1847), buku yang mengangkat namanya menjadi tokoh besar dalam kesusastraan Inggris.

FIRELIGHT

Resensi oleh : Noviane Asmara

Detail Buku:
Judul : FIRELIGHT : Ketika Naluri Terbang tak kan Pernah Padam
Penulis : Sophie Jordan
Penerjemah: Ferry Halim
Penyunting: Ida Wajdi
Pewajah Isi : Aniza
ISBN : 978-979-024-475-7
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 425 Halaman
Harga : Rp 55,000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan: I, April 2011


Aku Cuma tahu aku tidak bisa hidup tanpa terbang. Tanpa langit dan tanah lembap yang mampu bernapas. Aku tidak akan pernah rela menyerahkan kemampuanku untuk berubah wujud.

Tentunya kita tidak asing dengan makhluk-makhluk campuran di dunia fiksi. Sebut saja Demigod; manusia setengah dewa, Dhampir; manusia setengah vampir atau Warewolf; manusia setengah serigala. Tapi bagaimana bila makhluk tersebut adalah manusia setengah naga―tepatnya manusia yang memiliki gen naga dan bisa berubah menjadi makhluk yang mempunyai keahlian seperti naga. Draki. Itulah sebutan untuk makhluk itu.

Apa gunanya keselamatan bila bagian dalam dirimu mati?

Jacinda harus menerima takdirnya. Terlahir dari keluarga yang tidak ‘biasa’. Ia adalah seorang atau lebih tepatnya seekor draki. Berwujud manusia seperti umumnya gadis-gadis seusianya, namun menyimpan gen naga dalam darahnya yang berwarna ungu―darah yang khas dimiliki kaum draki. Dan bisa berubah wujud saat ia menginginkannya.
Ketika emosi meninggi, naluri draki pun muncul. Di saat sedang ketakutan, bersemangat, bergairah … naluri draki akan muncul.


Jacinda adalah seorang draki spesial. Draki penyembur api yang di dalam kelompoknya telah absen lebih dari empat ratus tahun. Untuk itulah ia dipilih oleh kelompoknya untuk dinikahkan dengan Cassian―Draki Onyx yang merupakan seorang alpha di kelompoknya. Hidup Jacinda berada di bawah kendali kelompoknya. Karena sejak keunikan sekaligus kelebihannya sebagai seorang draki terlihat, ia tak punya hak lagi untuk memutuskan hidupnya sendiri.
Berbeda dengan Tamra sang adik kembarnya yang merupakan draki cacat dan tidak berguna bagi kelompoknya sekaligus tak dipedulikan.

Suatu hari Jacinda melakukan kesalahan dengan mengubah dirinya menjadi draki dan terbang di atas wilayah bukan milik kelompoknya, wilayah yang tidak terjaga oleh kabut Nidia.
Hal tersebut berujung pada kecelakaan yang menimpa dirinya akibat diburu oleh para pemburu draki yang sadis dan tamak.
Bukan hanya uang. Ketamakan. Selain ketamakan akan darah, kulit, dan tulang draki―yang konon mampu menjadi obat penyembuh bagi manusia―draki diburu karena harta benda mereka. Batu permata yang merupakan warisan nenek moyang draki sekaligus penghubung kekuatan naluri draki yang dimiliki.

Jacinda bukan hanya membawa celaka pada dirinya sendiri tapi sekaligus musibah untuk kelompoknya akibat kecerobohan dan kelalaian yang diperbuat.
Sebagai hukumannya, Severin Sang Alpha bersama kelompoknya telah menetapkan sesuatu yang menurut mereka ‘pantas’ dan sudah seharusnya Jacinda terima.
Ibu Jacinda tidak bisa menerima putusan hukuman itu. Putusan yang ia pahami hanya dengan sekilas saja tetapi tidak pernah dipahami oleh Jacinda.
Putusan yang tidak hanya menikahkan Jacinda dengan Cassian dengan tujuan untuk “dibiakkan” agar menghasilkan draki-draki dengan kualitas tangguh dan super.

Sejak saat itulah, kehidupan Jacinda berubah. Ibunya dengan terpaksa dan secara diam-diam membawa Jacinda dan Tamra pergi meninggalkan kelompoknya.
Ibu Jacinda bermaksud untuk membaur di tengah-tengah kehidupan manusia normal guna menjadi manusia seutuhnya tanpa sentuhan naluri draki muncul di dalam diri putrinya, Jacinda. Karena di dalam dirinya pun, naluri draki itu sudah padam saat ayah Jacinda tewas.
Berbeda dengan Tamra yang dengan sukacita menerima lingkungan barunya. Berbaur dengan teman-teman manusianya tanpa sedikitpun merasa kesulitan, karena memang pada dasarnya Tamra adalah draki cacat yang sampai kapan pun tidak akan bisa berubah menjadi draki seperti Jacinda kakak kembarnya.

Tetapi kiamat untuk Jacinda. Berbaur di tengah-tengah manusia normal, membuat naluri drakinya perlahan-lahan luntur, dan ia tidak menghendaki hal ini terjadi. Ia ingin tetap selalu bisa menjadi draki sejati seperti sang ayah yang sudah tiada. Bisa selalu terbang melintasi awan biru tanpa batas serta menyemburkan api.

Di tengah kegundah-gulananya antara memilih kembali ke kelompoknya dan mengikuti kemauan sang Ibu yang berniat menjaganya dari hukuman mengerikan yang akan dijatuhkan padanya senadainya ia kembali ke kelompoknya, Jacinda terperangkap dalam permainan cinta seorang Will. Pemuda teman sekolahnya yang mampu membangkitkan naluri drakinya, bahkan di gurun gersang sekalipun.

Perlahan-perlahan kebenaran itu terungkap. Will menyimpan rahasia yang tidak bisa ia bagi dengan Jacinda. Will yang telah memaksa Jacinda memilih antara keingingannya yang begitu egois atau keselamatan keluarga dan kaumnya.

Pembaca di sini akan dibawa pada suatu tempat indah di mana siapa pun yang datang mengunjunginya, akan kembali tanpa mengingat apa pun akan tempat itu. Mahkluk-makhluk unik berwujud naga dapat terlihat terbang dengan anggunnya.
Tetapi kita akan dibuat kesal dan jengkel akan betapa egoisnya seorang Jacinda. Sifat egois yang berlebihan yang dimiliki gadis usia 16 tahun yang selalu menuntut pembuktian dan pembenaran atas pelarangan yang ditetapkan.
Dapat dirasakan pula pengorbanan seorang Ibu yang begitu besar dan tak pernah lelah untuk selalu terus berada di sisi anak-anaknya dalam setiap kondisi. Tak peduli dengan penolakan yang diberikan sang anak sebagai balasannya.
Kisah romansa pun turut mewarnai Firelight semakin menjadi hidup dan manusiawi. Walau selalu terjebak dalam cinta terlarang, cinta yang datang dari dua dunia yang berbeda. Cinta yang mengharuskan si jahat dan si baik tetap berada pada koridornya.
Sensasi menegangkan juga bisa terhirup tajam di kisah ini, saat acara kejar-kejaran draki dan para pemburunya berlangsung.

Novel yang mempunyi kover unik dengan hiasan hologram melingkari apik huruf yang dicetak timbul berukir kata Firelight adalah buku pertama dari Trilogi Firelight. Buku keduanya Vanish baru akan rilis 6 September mendatang di negara asalnya.

Sophie Jordan tumbuh di Texas Hill, tempat di mana ia menciptakan tokoh-tokof fantasinya: naga, prajurit dan putri. Ia adalah mantan guru Bahasa Inggris. Saat sedang tidak menulis, ia menghabiskan waktunya dengan menikmati latte dan diet coke yang disukainya. Selain menulis buku dengan genre fantasi untuk pembaca muda dewasa, Jordan juga menulis buku dengan genre roman paranormal dengan menggunakan Sharie Kohler sebagai nama penanya.
Saat ini ia tinggal di Houston bersama keluarganya.
Untuk mengetahui sepak terjang lebih jauh, silahkan berkunjung ke situs webnya di: www.sophiejordan.net


Resensi buku lainnya dapat dilihat di www.buntelankata.blogspot.com

Sunday, May 29, 2011

Kisah Monyet dan Buaya


Dahulu kala  hiduplah seekor monyet di sebatang pohon jamblang di tepi sungai. Ia bahagia walaupun tinggal sendiri . Pohon itu mempunyai banyak buah yang manis dan memberinya tempat berteduh pada saat hari panas atau hujan.

Pada suatu hari seekor buaya naik ke tepian  sungai dan beristirahat di bawah pohon.  Sang monyet yang ramah menyapanya, “Halo.” 

“Halo,” jawab buaya. “Apakah kau tahu dimana aku dapat menemukan makanan? Tampaknya sudah tidak ada ikan lagi di sungai ini.”

“Aku tidak tahu dimana ada ikan  Namun aku mempunyai  banyak buah jamblang yang masak di pohon ini. Ini, cobalah!” kata monyet sambil memetik beberapa buah jamblang dan melemparkannya kepada buaya.

Buaya memakan semua buah yang diberikan monyet.Ia suka rasanya yang manis. Ia minta monyet memetik buah jamblang lagi untuknya. 

Sejak saat itu buaya datang setiap hari. Mereka pun menjadi sahabat.  Mereka mengobrol sambil makan buah jamblang.

Pada suatu hari buaya bercerita tentang isteri dan  keluarganya.”Mengapa baru sekarang kau bilang bahwa kau punya isteri? Bawalah jamblang ini untuk isterimu.”

Isteri buaya menyukai buah jamblang. Ia belum pernah makan sesuatu yang begitu manis. Ia berpikir betapa manisnya daging monyet yang sepanjang hidupnya makan buah jamblang setiap hari. Air liurnya menetes. 

“Suamiku,” kata isteri buaya, “ajaklah monyet kemari untuk makan malam.  Lalu kita makan dia.”
Buaya terperanjat. Bagaimana ia dapat memakan sahabatnya? Ia menjelaskan kepada isterinya, “Monyet satu-satunya temanku, “ katanya. Sang buaya tetap menolak membawa monyet kepada isterinya. Sementara isterinya pun tetap membujuknya.

Ketika buaya tetap tidak mau menuruti keinginannya, isteri buaya pura-pura sakit keras. “Suamiku,” katanya, “Hanya jantung monyet yang dapat menyembuhkanku. Kalau kau mencintaiku, kau ajak monyet temanmu kemari. Setelah makan jantungnya aku pasti segera sembuh.”

“Teman,” kata buaya kepada monyet.  “Isteriku sangat berterima kasih dengan buah jamblang yang kaukirimkan tiap hari. Sekarang ia ingin mengundangmu makan malam.” Monyet sangat gembira dengan undangan itu namun berkata bahwa ia tak mungkin ikut karena ia tak dapat berenang. “Aku akan menggendongmu di atas punggungku. Kau tak usah khawatir,” kata buaya. 

Monyet pun melompat ke punggung buaya dan berangkatlah mereka.

Ketika mereka sudah cukup jauh dari pohon jamblang, buaya berkata,”Isteriku sakit parah, hanya jantung monyet yang dapat menyembuhkannya.”

Monyet ketakutan. Ia berpikir keras, bagaimana ia dapat menyelamatkan diri. “Buaya temanku, kasihan isterimu. Namun kau tak perlu cemas. Aku senang bisa menolong isterimu dengan jantungku. Masalahnya, aku tadi meninggalkan jantungku di atas dahan pohon jamblang. Ayo kita kembali dan mengambilnya.”

 Buaya percaya kepada monyet. Ia berbalik dan berenang kembali ke pohon jamblang. Monyet segera melompat turun dari punggung buaya dan naik ke dahan pohon. 

“Teman palsu yang bodoh. Tidak tahukah kau, bahwa kita selalu membawa-bawa jantung kita? Aku tak akan mempercayaimu lagi. Pergilah dan jangan kembali ke sini lagi.”  Monyet pun membalikkan badannya, tak mau melihat sang buaya.

Buaya sangat menyesal. Ia kehilangan satu-satunya sahabatnya. Ia juga tak akan dapat makan buah jamblang yang manis itu lagi. 

Monyet lolos dari bahaya karena berpikir dengan cepat dan cerdik. Ia menyadari bahwa monyet dan buaya tidak mungkin berteman. Buaya lebih suka makan monyet daripada berteman dengannya.

Saturday, May 28, 2011

Helen Keller (1880-1968)






"Hal terbaik dan terindah yang tidak dilihat atau disentuh oleh dunia adalah hal yang dirasakan di dalam hati." –Hellen Keller

Helen Adams Keller  lahir di Tuscumbia, Alabama, 27 Juni 1880. Helen adalah seorang anak yang normal dan sehat hingga pada suatu hari ketika berusia 19 bulan ia menderita demam tinggi. Keluarganya mengira ia akan meninggal, namun akhirnya demamnya turun dan ia sehat kembali. Mula-mula ia nampak baik-baik saja hingga ibunya mendapati bahwa ia tidak dapat mendengar dan melihat. 

Helen sangat cerdas. Ia mengenali orang dengan meraba wajah atau pakaian mereka.  Helen bahkan menciptakan bahasa isyarat sendiri. Bila ia ingin makan roti, ia menggerakkan tangannya menirukan gerakan pisau yang sedang memotong roti. Bila ingin mengatakan es krim, ia memeluk bahunya dan menggigil. 

Namun bagi Helen itu belum cukup, ia ingin dapat berbicara. Hal ini membuatnya frustasi dan mudah marah. 

Beruntung keluarga Keller berjumpa dengan Alexander Graham Bell (penemu telepon) yang memperkenalkan mereka dengan Anne Sullivan. Anne pernah buta namun setelah menjalani dua kali operasi mata dapat melihat kembali walaupun penglihatannya tidak sepenuhnya normal. Anne mengerti  perasaan Helen.

Anne mengajarkan huruf-huruf abjad kepada Helen, kemudian ia mengeja kata-kata dengan menuliskan huruf-huruf di telapak tangan Helen. Helen tidak mengerti arti kata-kata yang diejakan oleh Anne kepadanya, hingga pada suatu hari Anne membawanya ke sebuah pompa air. Ia mengalirkan air ke tangan Helen dan kemudian mengeja W-A-T-E-R di telapak tangannya. Helen memahami bahwa W-A-T-E-R adalah air yang mengalir di tangannya. Semangatnya bangkit. Dalam perjalanan pulang Helen menyentuh semua benda yang ditemuinya dan meminta Anne mengeja nama benda-benda itu. Dalam waktu yang singkat itu ia telah mengenal 30 kata baru.  Ia juga menanyakan nama Anne  yang dijawab Anne dengan mengeja  “T-E-A-C-H-E-R”.

Helen kemudian mempelajari huruf Braille. Ia belajar bahasa Perancis, Jerman, Yunani dan Latin melalui huruf Braille. 

Ia juga belajar berbicara. Anne dengan tekun mengajari Helen berbicara dengan mengenali gerakan  bibir. Helen “mendengar” dengan meletakkan jarinya di bibir  orang yang berbicara dengannya. Ia menirukan gerakan bibir yang dirasakannya sehingga dapat berbicara.

Ketika berusia 20 tahun, Helen kuliah di Radcliffe College (cabang Universitas Harvard), khusus wanita. Anne ikut dengannya  untuk mengeja kata-kata dosen dan buku-buku teks. Dalam 4 tahun, Helen lulus dengan predikat magna cum laude.

Pada usia 22 tahun, Helen Keller menerbitkan sebuah buku yang merupakan autobiografinya, The Story of My Life (1903), dengan bantuan John Macy, suami Anne. Dari hasil penjualan buku ini Helen mampu membeli sebuah rumah. Helen juga menulis beberapa buku lain dan seri esei politik. 

Helen menjadi sangat terkenal. Ia bepergian ke seluruh dunia dan bertemu dengan orang-orang penting dan terkenal.

Helen Keller menjadi orang sukses karena kebulatan tekadnya. Namun kesuksesan Helen tidak terlepas dari bantuan banyak orang, dan orang yang paling penting dalam hidupnya adalah Anne Sullivan yang setia mendampinginya selama 50 tahun.